Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 85 Gitar



Ratu Rushi membungkuk sedikit untuk meminta izin. Setelah mendapatkannya dari Ratu Agung, ia berdiri dan berjalan menuju ke tengah aula. Begitu sampai di sana, Aruse tersenyum kepadanya membuat dirinya juga membalas senyuman itu.


‘’Sangat beruntung karena hamba bisa mengiringi Yang Mulia Ratu Rushi secara langsung,’’ kata Aruse.


‘’Caramu terlalu sempurna untuk menjatuhkan diriku. Kau akan menjadi selebriti papan atas di dunia modern karena keahlian aktingmu itu,’’ puji Ratu Rushi tapi terdengar menusuk.


Mata Aruse sedikit memicing. Tidak lama kemudian ia tersenyum. ‘’Yang Mulia sungguh murah hati sampai memuji hamba.’’


Sebelah alis Ratu Rushi terangkat. ‘’Memuji? Aku sedang menghinamu dengan cara yang halus. Seberapa kecil otak dan sempitnya pola pikirmu sampai menganggapnya sebagai pujian?’’


Wajah Aruse langsung kusut sambil mengepalkan tangan. Terlihat jelas rahang dan urat-urat di lehernya sudah menegang. Ia hendak memainkan alat musik untuk memulai, tetapi Ratu Rushi langsung mencegahnya.


‘’Hana? Kau ingat lembar kertas yang aku tulis di kamar waktu itu? Berikan kepada Aruse untuk dia mainkan!’’ perintah Ratu Rushi.


Tanpa membuang waktu, Hana menghampiri pria itu dan menyerahkan beberapa lembar kertas yang disatukan. Begitu membuka lembaran pertama, mata Aruse membulat besar melihat isinya.


‘’Kebetulan sekali, tidak ada yang lebih ahli memainkan musik selain dirimu. Itu adalah tangga not lagu. Kau akan memainkannya untukku,’’ kata Ratu Rushi.


Beberapa menit kemudian sudah berlalu, tapi Aruse masih terdiam dengan wajah tegangnya. Orang-orang bahkan mulai berbisik karena pria itu tidak memainkan apa pun.


‘’Apa yang dia lakukan? Kenapa hanya diam terus?’’ tanya Nero.


‘’Nyalimu besar juga membuatku berdiri selama 12 menit seperti ini,’’ kata Ratu Rushi mengintimidasi.


Aruse mulai gusar dengan keringat dingin yang membasahi tubuhnya. Ini pertama kalinya ia melihat tangga lagu serumit itu. Ia bahkan bertanya-tanya apakah itu memang adalah nada lagu.


Ratu Rushi kembali tersenyum remeh. ‘’Ada apa? Itu hanya sebuah tangga not. Jangan bilang hanya karena melihatnya, kau sudah lupa memainkan musik.’’


Ia menghela nafas panjang dan memerintahkan Yagyu menyerahkan alat musik yang sempat dibuatnya sambil para pengikutnya mengurus patung.


Sekali lagi semua terbelalak melihat Ratu Rushi mengalungkan tali dari benda itu di bahunya. Tidak butuh waktu yang lama, ia mulai memainkan senarnya dengan fingerstyle secara lambat.


‘’Hari ini~


Hari ulang tahunmu~


Kudoakan~


Bahagia selalu untukmu~


Tercapai segala cita-citamu...."


Ratu Rushi mengetuk bagian gitar dengan jeda teratur, lalu menambahkan kecepatan tangannya memainkan gitar dan kembali bernyanyi.


Raja Raion dan Pangeran Rodigero terpaku dengan mata berbinar-binar. Berbeda dengan Siruverash yang tidak menyukai pemandangan itu. Sedangkan Putri Rukaia, entah yang ke berapa kalinya ia berusaha meledakkan emosinya tapi tidak bisa.


‘’Wah? Apakah itu alat musik?!’’


‘’Iramanya seperti menuntun kita mengikutinya.’’


‘’Aku tidak tahu kalau Yang Mulia Ratu Rushi sangat pintar bernyanyi dan memainkan alat musik aneh itu.’’


‘’Suara Yang Mulia sangat merdu.’’


‘’Lagunya juga sangat menyentuh hati.’’


Hana dan kelima pengikut Ratu Rushi bersenandung sambil menikmati lagu itu. Mereka selalu saja diberi kejutan yang tidak pernah gagal, sama seperti yang terjadi saat ini.


‘’Ternyata tubuh ikan itu bisa dimainkan,’’ kata Shika.


‘’Ha? Apa yang ada dipikiranmu sampai menyebutnya sebagai tubuh ikan?’’ tanya Yagyu.


‘’Ya, bagian itu adalah kepalanya, dan yang memanjang dipenuhi benang tali adalah ekornya. Bentuknya seperti ikan, tapi tidak ada organ di dalamnya. Jadi itu hanya sekedar tubuh ikan,’’ kata Shika.


Hana dan keempat pria lainnya saling memandang satu sama lain dengan wajah tanda tanya. Mereka benar-benar tidak tahu apa isi dari otak manusia setengah rusa itu.


‘’Aku tidak menduga kalau Yang Mulia menyiapkan dua hadiah, dan bisa menyanyi seperti ini. Aruse memberitahuku kalau dia akan merusak sulaman yang dibuat Yang Mulia untuk mempermalukannya,’’ kata Nero.


‘’Tapi yang terjadi malah dia yang dipermalukan,’’ kata Eris.