Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 137 Sindiran



1 bulan telah berlalu semenjak kematian Ratu Rushi. Istana dan desa akhirnya kembali seperti semula. Tidak ada yang ingin larut dalam kesedihan lagi, karena jiwa Ratu Rushi tidak akan tenang.


Berbeda dengan Pangeran Rodigero yang sudah mengetahui watak Siruverash dan Putri Rukaia, ia tidak ragu bersikap dingin di hadapan kedua orang itu, atau mengabaikan mereka.


Ratu Agung yang sebelumnya membicarakan pertunangan kepada Raja Raion, kembali mencobanya setelah melihat salah satu putranya itu sudah tidak terpuruk lagi. Kebetulan semuanya sedang sarapan, membuatnya membahas pertunangan tersebut.


‘’Semuanya telah kembali normal seperti semula. Bagaimana kalau kita melanjutkan pertunangan Yang Mulia dengan Putri Rukaia?’’


Spontan semua orang terhenti dari aktivitas mereka, lalu menatap Ratu Agung secara bersamaan.


‘’Sudah waktunya kita mengisi posisi Ratu yang sedang kosong saat ini. Yang Mulia harus bersikap bijaksana untuk masalah yang terjadi. Rakyat juga pasti membutuhkan Ratu yang baru untuk Yang Mulia,’’ kata Ratu Agung.


‘’Saya ti—‘’


‘’Saya menolak pertunangan ini,’’ kata Pangeran Rodigero mendahului kakaknya.


Raja Raion langsung menatap adiknya dengan raut wajah sedikit terkejut. Sedangkan yang lainnya memasang wajah bingung, membuat Ratu Agung meminta penjelasan.


Pangeran Rodigero menatap Putri Rukaia dan Siruverash sekilas sebelum menatap ibunya. ‘’Ini baru satu bulan semenjak kematian Yang Mulia. Masih terlalu cepat mengadakan pernikahan.’’


‘’Maaf jika saya menyela. Tapi membiarkan posisi Ratu kosong sementara Yang Mulia memerintah tidaklah be—‘’


‘’Mengubah gagak menjadi seekor merpati, tidak akan pernah merubah kenyataan sebenarnya, bahkan setelah gagak menggantikan posisinya,’’ kata Pangeran Rodigero memotong ucapan.


Siruverash yang mendengarnya merasa sedikit tidak nyaman, apalagi melihat tatapan Pangeran Rodigero. Ia bingung kepada pria di hadapannya itu. Pria yang sebelumnya sangat ramah dan mudah tersenyum, kini menjadi lebih dingin daripada Raja Raion.


Tidak tahu apa yang membuatnya seperti ini. Tapi apa maksudnya Pangeran Rodigero mengatakan hal itu sambil menatapku? Stt, ucapnya dalam hati.


‘’Pangeran Rodigero, apa maksud dari ucapan Anda?’’ tanya Ratu Agung.


Sebelah alis Pangeran Rodigero terangkat. ‘’Saya hanya menyampaikan cerminan dari kenyataan.’’


Raja Raion terdiam untuk sesaat, hingga akhirnya ia juga berdiri untuk pergi. ‘’Saya sudah selesai.’’


Ratu Agung yang melihat kepergian kedua putranya hanya menghela nafas. Ia pun menatap Siruverash dan Putri Rukaia lalu meminta mereka berdua agar tidak tersinggung dengan sikap kedua pria tadi.


Putri Rukaia menggeleng pelan dan tersenyum, sedangkan Siruverash sedikit melirik kepergian dua pria tadi.


......................


Pangeran Rodigero mendongakkan kepala memandangi langit. Meski mengenakan mantel berbulu, tapi asap yang keluar dari mulutnya tetap terlihat jelas. ‘’Sudah dua bulan musim dingin berlangsung. Yang Mulia … Bagaimana kabar Anda di sana?’’


Raja Raion yang melihat adiknya dari jauh, juga ikut mendongakkan kepala memandangi langit. ‘’Ratu Rushi … Aku merindukanmu.’’


......................


Penjara Pengasingan


Kehidupan Ratu Rushi jauh lebih baik dari sebelumnya. Semenjak pertarungannya dengan ketua para tahanan, semua orang di sana langsung tunduk kepadanya, dan tidak ragu melayani wanita itu penuh hormat.


Semua orang berada di bawah genggamannya, membuat Ratu Rushi leluasa memerintah.


Sang Ratu mendongakkan kepala melihat butiran salju yang jatuh semakin hari semakin banyak. ‘’Bagaimana kabar mereka semua, ya?’’


‘’Semua?’’ tanya Kamereon.


‘’Di luar sana, juga ada orang-orang seperti kalian berdua yang menjadi pengikutku. Setelah tahu aku telah tiada, mereka pasti sangat sedih,’’ kata Ratu Rushi dengan wajah yang sama.


Di saat bersamaan, terlihat seekor elang menghampiri, membuat Ratu Rushi langsung berdiri dengan wajah senang. ‘’Taka!’’