Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 39 Ungkapan



Bugh!


Mozaru diseret dengan kasar dan ditinggalkan oleh para pekerja. Ia bangkit sekuat tenaga dan membuka pintu belakang. Namun, ia terkejut saat melihat Yagyu sudah berdiri depannya. Perasaan marahnya kembali memuncak, mengingat kekalahan dari banteng itu yang membuatnya mengalami semua ini.


‘’Kenapa kau datang kemari? Untuk menertawakan diriku?’’ tanya Mozaru dengan suara berat.


Yagyu menyusuri tubuh Mozaru dari bawah hingga ke atas. Dibandingkan dengan pakaiannya yang sangat bagus, penampilan Mozaru benar-benar kacau. Pakaiannya seperti pemulung saja, mungkin karena saking seringnya dipukuli dan dicambuk.


Deg!


Mozaru melotot sambil menggertak gigi saat melihat tatapan iba dari Yagyu. ‘’Berhenti menatapku seperti itu!’’


Ia melayangkan pukulan, tapi belum sempat dirinya mencapai Yagyu, tubuhnya terjatuh lemah. Beruntung, Yagyu langsung menangkapnya sehingga tidak jadi terjatuh.


‘’Lepaskan! Aku tidak butuh belas kasihmu!’’ kata Mozaru begitu lemah.


‘’Haa, jangan keras kepala. Berdiri saja kau tidak mampu,’’ kata Yagyu memapah Mozaru ke batang kayu sekitar, yang sudah ditebang untuk duduk.


Yagyu duduk di balok kayu yang tidak jauh dari batang tadi. ‘’Apa yang terjadi? Kenapa kau seperti ini?’’


Mozaru hanya diam dan tidak berniat menjawabnya. Yagyu yang senang tiasa menunggu, hanya menghela nafas panjang.


Yagyu menarik nafas. ‘’Aku adalah ras banteng, tapi kekuatanku tidak menggambarkan seekor banteng. Aku sangat lemah meski terus melakukan latihan. Aku tidak pernah berpikir mengenai alam bebas, karena hanya terus berada di dalam rumah. Aku selalu menerima kasih sayang, tapi semua itu berubah semenjak ras banteng mengasingkan diriku ke rumah bertarung. Ya, mereka membuangku karena lemah. Selama di rumah bertarung, aku tidak pernah mendapatkan makanan yang layak seperti saat di rumah.’’


Mozaru hanya diam menyimak sambil menatap tanah.


‘’Kau sendiri juga tahu, kita sudah bertarung sebanyak tiga kali dan aku selalu kalah telak. Waktu itu, aku benar-benar merasa malu kepada diriku. Aku pikir, ras banteng membuat keputusan yang benar dengan membuangku. Menit pertama ronde ketiga, aku sudah pasrah dan memilih menunggu ajalku. Sekuat apa pun aku berusaha, tapi tetap saja tidak ada hasilnya. Sampai akhirnya Yang Mulia bertaruh untuk diriku. Itu pertama kalinya selama 17 tahun, ada seseorang yang mau bertaruh untukku,’’ ungkap Yagyu.


Waktu itu, Ratu Rushi melemparkan selendangnya ke arahku, dan saat itu juga untuk pertama kalinya, ada yang membuatku terjatuh ke tanah, kata Mozaru dalam hati.


‘’Jika bukan Yang Mulia, mungkin hari itu aku sudah tiada karena kehabisan darah. Kau juga akan menang seperti biasa. Tapi Yang Mulia memberiku kesempatan sekali lagi, karena itulah aku berhutang nyawa kepadanya,’’ kata Yagyu.


Jika saja hari itu Ratu Rushi tidak datang, mungkin aku tidak dikalahkan seperti ini. Istana juga tidak perlu membuangku, begitu juga dengan Putri Rukaia. Selama ini, orang-orang mengenalku dan menghormatiku sebagai pejuang. Tapi semuanya sirna dalam sekejap hanya karena campur tangan Ratu Rushi, kata Mozaru dalam hati.


Tangannya mengepal sambil menggertak gigi. ‘’Jika saja bukan karena kalah darimu, aku tidak perlu mengalami semua ini. Putri Rukaia juga tidak akan membuangku bahkan memukuliku, sampai membuatku mengingat rasa sakit ini. Saat ini aku sedang tidak ingin marah. Pergilah, sebelum aku benar-benar menghajarmu.’’


Yagyu menatap Mozaru yang berdiri dan kembali masuk ke dalam. Ia sedikit merasa bersalah, kalau yang dikatakan Mozaru benar.


Dengan Ratu Rushi membawanya keluar, membuat Mozaru membayar kekalahannya dan menggantikan posisinya di rumah bertarung serta menerima perlakuan kasar, yang sebelumnya tidak pernah dirasakannya.