
Ratu Rushi menelan saliva sambil menatap reptil yang sejak tadi hanya diam di depannya tanpa kembali berubah menjadi manusia.
Reptil yang memiliki warna tubuh abu-abu kehijauan tua dengan bercak hitam pada bagian dorsal dan kekuning-kuningan di sisi bagian bawah, lalu ekornya memiliki bercak hitam membentuk belang yang utuh. Tidak ada sisik di belakang kepalanya. Gigi berjumlah 17-19, dimana gigi keempat, kedelapan dan kesembilan lebih besar, sedangkan empat gigi pertama terpisah dari gigi-gigi di sebelahnya. Sisik punggung berlunas pendek sebanyak 16-17 baris dari depan ke belakang.
Mereka predator oportunistik, dengan fleksibilitas penyesuaian makanan tergantung makanan yang tersedia. Dengan sifatnya yang ganas dan agresif, mereka juga memangsa manusia yang berada di dalam perahu. Semakin kecil perahunya, semakin besar risikonya diterkam. Serangan mereka dikenal sebagai gulungan kematian. Setelah mengawasi mangsa dari bawah air, reptil ini akan menyergap dan menyeret mangsa dengan cepat ke dalam air untuk mengacaukan mereka, kata Ratu Rushi dalam hati.
Ia bisa merasakan bulu kuduknya berdiri karena melihat predator itu secara langsung di depan mata. Selama ini, ia tidak pernah bertemu reptil tersebut, dan hanya melihat mereka dalam movie Hollywood melalui TV. Tapi, saat ini ia sudah berada dalam jarak 7 langkah kaki saja dari predator tersebut.
World Atlas menyebut reptil ini sebagai predator terbesar di dunia. Tidak salah salah lagi … Reptil yang ada di depanku sekarang adalah Crocodylus Porosus Schneider, atau bisa disebut … Buaya muara atau buaya air asin, ucapnya dalam hati.
Saking takutnya, Ratu Rushi tidak bisa bergerak karena merasakan tekanan di dalam goa tersebut. Layaknya sebuah patung, hanya matanya yang melirik reptil yang sedang tidur itu.
Ini definisi dari tersiksa bukan karena dipukul, ucapnya dalam hati meringis ketakutan.
Namun, melihat luka bakar di tubuh predator tersebut membuat Ratu Rushi juga meringis. Ia tahu reptil di depannya pasti merasa sangat kesakitan, mengingat bagaimana predator itu rela terkena meriam api demi menyelamatkan nyawanya.
Jantung Ratu Rushi semakin berdetak dengan keringat dingin yang keluar dari tubuhnya saat melihat mata kanan dari reptil itu terbuka meskipun tertidur.
Buaya air asin mematikan hanya separuh otak mereka selama tidur, sedangkan separuh lainnya untuk menjaga dan waspada terhadap bahaya. Sistem saraf pusat yang kompleks membuat mata kanan tetap terbuka ketika sisi kiri otak terjaga, begitu juga sebaliknya, ucapnya dalam hati.
Saking takut dan gemetarnya, mata Ratu Rushi berair menghampiri reptil tersebut. Nafasnya bahkan terengah-engah meski harus menahannya sekuat tenaga.
‘’Maaf….’’
‘’Ah!’’ teriak Ratu Rushi terlonjak kaget karena predator itu mengejutkannya dengan tiba-tiba bicara.
Reptil tadi tertawa melihat Ratu Rushi terlentang di dalam genangan air, sedangkan wanita itu hampir mati terkena serangan jantung gara-gara terkejut.
Tapi berkat itu, Ratu Rushi sudah sedikit relaks meskipun masih ada rasa gemetar takut.
‘’Saya tidak bermaksud menakuti-nakuti. Tapi, jika Yang Mulia ingin mendekat, Anda tidak perlu setakut itu seperti saya ingin memakan Yang Mulia saja.’’
Lalu siapa yang memasukkanku ke dalam mulutnya beberapa saat yang lalu? Tidak ada kematian yang lebih menakutkan jika berada di dalam goa bersama predator sepanjang 12 meter dan terbesar seperti ini, kata Ratu Rushi dalam hati.
Tiba-tiba Wani datang. Melihat Ratu Rushi mendekat ke adiknya, ia menyuruh wanita itu menjauh. ‘’Adik, jangan khawatir. Aku akan segera mengobatimu.’’