Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 126 Berubah Pikiran



Matahari mulai terbenam. Putri Rukaia menyuapi Ratu Agung yang bersandar di tempat tidur. Wanita itu jatuh sakit karena merindukan kedua putranya.


‘’Paman sudah pergi menjemput Yang Mulia Raja dan Pangeran Rodigero. Dia pasti membawa kedua orang itu pulang. Jadi Ratu Agung tidak perlu khawatir,’’ kata Putri Rukaia tersenyum.


Cih! Argh, sampai kapan aku harus mengurusi wanita tua ini? Aku hanya selalu duduk selama setengah bulan hanya untuk menemaninya, gerutunya dalam hati.


Mendengar suara rombongan membuat Putri Rukaia berdiri dan langsung bergegas ke balkon. ‘’Sudah saya bilang, paman akan membawa Yang Mulia Raja pulang. Mereka akhirnya sudah ti—‘’


Ratu Agung yang tersenyum, mengerutkan dahi karena Putri Rukaia tiba-tiba terhenti sebelum menyelesaikan ucapannya. Ia pun bertanya kepada wanita muda itu, tapi wanita tersebut tetap saja diam.


Butuh beberapa saat akhirnya pintu terbuka. Ratu Agung menolehkan kepalanya dengan penuh semangat. Namun, melihat Siruverash hanya datang seorang diri, membuatnya bingung.


‘’Di mana Yang Mulia dan Pangeran Rodigero?’’ tanya Ratu Agung.


Siruverash terdiam untuk sesaat hingga akhirnya membungkuk. Ia meminta maaf karena tidak bisa membawa sang Raja dan Pangeran kembali. ‘’Yang Mulia menolak perintah untuk kembali ke istana Ratu Agung.’’


Ratu Agung langsung memasang wajah kecewa. Ia akhirnya mengerti dengan kediaman Putri Rukaia barusan. Ia pun menghela nafas panjang sambil menunduk.


......................


Malam pun tiba. Siruverash dan Putri Rukaia masih berada di kamar Ratu Agung untuk memantau kesehatan wanita itu. Karena udara malam begitu dingin, membuat Putri Rukaia hendak menutup pintu balkon. Namun, matanya langsung membulat.


‘’Yang Mulia kembali!”


Mendengar hal itu membuat Ratu Agung dan Siruverash terkejut. Pria tadi langsung menghampiri keponakannya tadi, dan menatap ke luar melihat tandu besar di antara rombongan prajurit yang masuk ke istana.


‘’Itu tandu Yang Mulia,’’ kata Siruverash.


Ratu Agung kembali senang setelah mendengar hal itu. Akhirnya ia bisa melihat kedua putranya lagi.


Tapi kenapa Yang Mulia berubah pikiran begitu cepat? Saya masih ingat bagaimana dia mengusirku di pantai, kata Siruverash dalam hati.


Tidak lama kemudian, pintu terbuka memperlihatkan sosok Raja Raion dan Pangeran Rodigero yang dikawal Tora.


‘’Saya sangat merindukan kalian,’’ senang Ratu Agung.


‘’Kenapa Ibunda tidak menjaga kesehatan?’’ tanya Pangeran Rodigero.


‘’Itu benar. Ibunda seharusnya tidak seperti ini,’’ kata Raja Raion.


‘’Bagaimana saya bisa sehat kalau sedang berjauhan dengan kedua putraku? Setelah Raja sebelumnya meninggal, hanya kalian berdua yang saya miliki,’’ kata Ratu Agung memeluk kedua pria tadi.


Siruverash meminta maaf karena telah menyela pertemuan itu. Ia bertanya kepada Raja Raion, mengapa sang Raja berubah pikiran untuk pulang, jelas-jelas menyuruhnya kembali ke istana.


Raja Raion terdiam untuk sesaat begitu juga dengan Pangeran Rodigero. Keduanya memasang wajah sendu, membuat Ratu Agung dan yang lainnya kebingungan. Sampai akhirnya sang Raja memperlihatkan sebuah pakaian compang camping yang terlumuri darah.


‘’Itukan….’’


......................


Desa


Licy menoleh saat mendengar suara lonceng berbunyi. Ia pun lansung berdiri begitu mendengar suara Kitsune. Ada begitu banyak langkah kaki, membuatnya tahu siapa pemilik dari langkah tersebut. Ya, siapa lagi kalau bukan para pengikut Ratu Rushi.


Keluarga Kitsune begitu merindukannya, membuat mereka memeluknya. Yagyu dan lainnya hanya tersenyum menyaksikan moment bahagia itu.


Kitsune melepaskan pelukannya dan mengerutkan dahi saat melihat beberapa barang di sudut ruangan. ‘’Punya siapa itu?’’


‘’Itu punya saya. Yang Mulia mengatakan akan membawa saya ke istana. Jadi saya sudah mempersiapkannya.’’


Para pengikut Ratu Rushi langsung diam begitu mendengar ucapan Licy. Keluarga Kitsune yang merasakan suasana tegang hanya saling bertatapan bingung.


‘’Tidak apa-apa kalian pulangnya terlalu lama. Tapi saya yakin kalau Yang Mulia akan datang, jadi saya tetap menunggu. Sejak tadi saya tidak mendengar suara Yang Mulia dan Hana. Apakah mereka ada di luar?’’ tanya Licy.