Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 128 Rumah



Keesokan harinya, semua orang dibuat gempar dengan kabar kematian Ratu Rushi yang tiba-tiba. Berkat berita itu, membuat semua orang langsung menuju ke istana, untuk memastikan apakah wanita itu memang telah tiada. Namun, belum sempat mereka tiba di gerbang, semuanya terdiam membisu melihat bendera putih sepanjang sisi istana dipasang.


Ceklek!


Prajurit membukakan gerbang agar ratusan orang tadi masuk ke dalam. Dilihatnya sebuah altar kematian di tengah aula dan pemimpin ritual yang akan menjadi pemimpin upacara kematian. Mereka masih tidak percaya kalau Ratu Rushi sudah tiada, hingga akhirnya sang Raja dan anggota kerajaan lainnya datang dengan pakaian berwarna putih.


Semua orang spontan bersujud dan mencium tanah. Raja Raion yang melihatnya hanya menghela nafas dengan wajah sendu.


‘’Perhatian! Yang Mulia Raja akan mengatakan sesuatu. Dengarkan baik-baik!’’


Raja Raion menatap ratusan orang itu sesaat, yang terlihat menunggunya bicara. Tangannya mengepal sambil menarik nafas dalam-dalam.


‘’Saya tahu kabar tiba-tiba ini membuat semuanya terkejut. Tapi inilah kenyataannya. Ratu Rushi telah tiada. Setengah bulan yang lalu, nasib buruk telah menimpa Ratu Rushi. Binatang buas telah menyerangnya sampai hanya ini yang tersisa,’’ kata Raja Raion.


Semua langsung menatap sebuah kain dipenuhi darah yang diletakkan di atas altar kematian. Yagyu dan lainnya yang berada di antara ratusan orang tadi, mata mereka kembali berair saat melihat kain itu.


‘’Maaf karena saya tidak menyampaikan hal ini kepada kalian semua, karena saya dan yang lainnya berusaha keras mencari Ratu Rushi, tapi … Yang Mulia sudah benar-benar tiada,’’ kata Raja Raion.


Saat itu juga, ratusan orang tadi langsung histeris bukan main sambil meneriaki Ratu Rushi. ‘’Yang Mulia! Hiks! Hiks!’’


Putri Rukaia dan Siruverash yang melihatnya hanya tersenyum. Bagi mereka berdua, ini adalah langkah awal menuju takhta.


......................


Ladang Bunga Matahari


Wani berdiri menatap ratusan bunga kuning yang ada di depannya itu. Ia mengingat bagaimana ladang tersebut memiliki banyak kenangan bagi dirinya. Tiba-tiba, ia melihat bayangan dirinya yang masih kecil bersama sang adik menghampiri kedua orangtuanya. Satu keluarga itu saling tertawa sambil menanam biji bunga matahari. Lambat laun, semua orang bermunculan bersamaan bunga matahari tumbuh dengan subur.


‘’Aku bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga di ladang ini,’’ kata Ratu Rushi membuat Wani menoleh ke arahnya.


Ia sedikit menunduk lalu tersenyum, dan kembali mendongakkan kepala. ‘’Aku tahu rasanya membangun sesuatu dari nol bersama orang yang kita sayangi. Ladang ini menjadi bukti seberapa kuat hubungan yang kalian bangun sampai saat ini.’’


Wani kembali menatap ladang bunga matahari dengan wajah sendu. Tangannya mengepal sambil melakukan bruxism.


‘’Keluargamu yang dibantai, rencana balas dendam kepada pamanku yang berakhir menculik diriku, sepertinya ini memang sudah takdir kita bertemu. Aku mungkin tidak bisa menggantikan posisi keluargamu, tapi aku bisa menjadi keluargamu,’’ kata Ratu Rushi.


Ia menghela nafas sebelum menatap Wani dengan wajah serius. ‘’Saat ini memang bukan waktunya untuk membalaskan dendammu kepada pamanku. Tapi aku berjanji, di masa depan yang akan datang, aku akan memberimu kesempatan itu jika kau mengikutiku.’’


Wani menatap Ratu Rushi dengan wajah serius sama seperti wanita itu menatapnya. ‘’Kami kaum buaya selalu setia dan menepati janji. Jika di masa depan kau melanggar janji ini, maka aku sendiri yang akan menghabisimu secara langsung dengan tanganku.’’


Ratu Rushi tersenyum sambil mengangguk, membuat Wani juga mengangguk. Keduanya langsung menoleh saat Taka yang sibuk menyusuri ladang memanggil mereka.


‘’Kenapa berdiri saja? Cepat bantu aku memetik yang sudah matang agar bisa memakan kuaci lagi!’’


Kedua orang yang dipanggil tadi hanya menggelengkan kepala.


‘’Hari ini pemakamanmu akan dimulai. Sebaiknya kita bergegas pergi,’’ kata Wani.


‘’Tunggu! Apa kau tidak ingin mengambil beberapa bunga matahari? Bukankah ini saksi bisu dari kenangan kalian?’’ tanya Ratu Rushi.


Wani kembali menatap ladang bunga matahari. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum menghembuskannya disertai senyuman. ‘’Pulau ini adalah rumah bagi kami, jadi biarkan bunga ini juga tetap di rumahnya.’’