Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 130 Bawahan



Setelah upacara pemakaman Ratu Rushi selesai, semua orang bersujud ke tanah untuk mendoakan jiwa sang Ratu agar bisa tenang di alam sana.


......................


Pantai


Wani yang dalam wujud buaya berubah menjadi manusia begitu mereka tiba di tepi.


Ratu Rushi menatap tanah bersalju yang meninggalkan bekas. Saat itu juga ia tahu kalau itu pasti bekas tiang dari perkemahan. Kepalanya mendongak ke atas melihat tebing bebatuan. Rasanya ia seperti melihat semua orang masih berteriak memanggilnya.


Saat itu juga, Taka dalam wujud elang datang dari arah berlawanan. ‘’Mereka baru saja menuju ke Sungai Rivofdea!’’


‘’Sungai Rivofdea? Bagi orang yang sudah mati, tubuh mereka akan dikubur di tanah, sedangkan barang-barang yang dipakainya semasa waktu hidup sebelum meninggal, ditenggelamkan semua di sana. Itu berarti mereka akan menenggelamkan pakaianku,’’ kata Ratu Rushi.


Ia pun segera bergegas bersama Wani sambil Taka menuntun mereka berdua.


......................


Sungai Rivofdea


Semua orang telah tiba di tempat tersebut. Orang suci yang mendekati tepi sungai memanggil keluarga Ratu Rushi yang akan menenggelamkan pakaian wanita itu ke dalam air. Siruverash dan Putri Rukaia maju, dan sebagai suami, Raja Raion juga ikut. Ketiganya memegang pakaian tersebut.


Argh! Orang suci ini terlalu cerewet. Bisakah percepat saja? Aku tidak tahan menyentuh pakaian orang mati seperti ini, gerutu Putri Rukaia dalam hati.


Yang Mulia benar-benar penghalang dari rencanaku, kata Siruverash dalam hati.


Berbeda dengan keduanya yang merasa senang akan kepergian Ratu Rushi, Raja Raion tidak henti-hentinya memasang wajah sendu.


Untuk pertama kalinya saya gagal sebagai Raja dan suami untuk Anda. Begitu banyak waktu terbuang sia-sia karena saya tidak memperhatikan Anda. Di saat saya melakukannya, kenapa Anda begitu tega pergi? Jika saya diberi kesempatan untuk terakhir kalinya, saya berjanji tidak akan mengabaikan Anda lagi. Tapi kesempatan itu tidak akan pernah terjadi. Semoga jiwa Yang Mulia tenang, kata Raja Raion dalam hati.


Dari jauh di belakang, ia tidak sadar kalau Ratu Rushi berdiri memandanginya.


Ratu Rushi yang melihat Yagyu memasang wajah sendu merasa bersalah. Ia pun bergegas menghampiri semua orang. ‘’Yagyu!‘’


‘’Ada apa?’’ tanya Mozaru.


‘’Aku merasa seperti ada yang memanggilku. Mungkin hanya perasaanku saja,’’ kata Yagyu yang menyusuri sisi belakang lalu kembali menoleh ke depan.


Ratu Rushi meronta-ronta saat seseorang membengkap mulutnya. Ia melihat Wani sudah tidak sadarkan diri di tangan beberapa prajurit. Tidak lama kemudian, sosok pria muncul membuat matanya membulat besar. Saat itu juga prajurit memukul lehernya sehingga tidak sadarkan diri.


......................


Malamnya, Wani mengerutkan dahi lalu membuka matanya secara perlahan. Samar-samar, ia menatap ruang gelap yang hanya diterangi obor api. Ia pun bangkit sambil mengerang. ‘’Di mana ini?’’


Matanya langsung melotot melihat Ratu Rushi tidak sadarkan diri di sampingnya. Ia pun membuncang tubuh wanita itu dengan pelan untuk membangunkannya. Tidak lama kemudian, Ratu Rushi langsung bangkit seketika.


‘’Ah! Aw~ sakitnya,’’ ringis Ratu Rushi memegang pergelangan lehernya.


Matanya menyusuri ke sekeliling tempat itu sama seperti Wani. Tidak butuh waktu yang lama, ia langsung teringat dengan kejadian di sekitar sungai.


‘’Hampir saja Yang Mulia memberikan kejutan lagi.’’


Kedua orang dalam jeruji tadi menoleh dengan Ratu Rushi yang memasang wajah kusut. Dilihatnya seorang pria berkulit putih mengenakan pakaian merah campur maroon.


‘’Siapa pria ini?’’ tanya Wani.


Mata Ratu Rushi memicing melihat pria yang memasang wajah dingin seperti biasa. ‘’Dia adalah bawahan paling setia pamanku … Washi.’’


Mendengar nama Siruverash membuat Wani langsung menatap pria tadi.


Sebelah alis Washi terangkat. ‘’Kenapa kau menatapku dengan sorot mata seperti itu? Aku tidak ingat kalau kita pernah terlibat urusan.’’


Tangan Wani mengepal mendengar nada bicara Washi yang seperti meremehkannya. Namun, Ratu Rushi mencegahnya dengan sebelah tangan.