
Keesokan harinya, setelah Wani dalam wujud buaya menggali tanah sepanjang 10 meter untuk mengubur sang adik, Ratu Rushi meletakkan bunga di depan batu yang dijadikan sebagai batu nisan.
Biasanya untuk menghibur orang yang kehilangan, kita mengajaknya jalan-jalan untuk menenangkan pikiran. Dan Ratu Rushi pun mengajak Wani yang tidak protes dan hanya menurut.
Dia menjadi lebih pendiam dibandingkan biasanya yang langsung meledak seperti kembang api. Ya, aku juga pasti akan depresi jika kehilangan keluargaku, kata Ratu Rushi dalam hati.
Tiba-tiba langkah Wani terhenti membuat wanita di depannya juga ikut berhenti. ‘’Terima kasih atas sandarannya kemarin. Tapi, aku butuh waktu untuk sendiri.’’
‘’Uh-oh, baiklah. Aku akan berjalan di sekitar,’’ kata Ratu Rushi.
Setelah melihat kepergian pria itu, ia menghela nafas dan menyusuri area sekitar. Tiba-tiba, ia langsung melihat seekor burung, membuatnya menghampiri binatang itu.
Ratu Rushi menatap burung tadi melompat ke sana-sini saat ia mendekat. ‘’Jangan banyak bergerak. Kau akan membuat sayapmu semakin terluka.’’
Ia pun berusaha menenangkan burung tersebut. ‘’Kau ini tidak bisa diam, ya?’’
Merasa terancam karena Ratu Rushi menangkapnya, membuat burung tersebut menyerangnya dengan paruh dan mencakarnya.
‘’Akh!’’
Ratu Rushi meletakkan burung tadi sambil meringis melihat tangannya sudah berdarah. Ia kembali mengingat kejadian yang sama, dimana seekor berang-berang juga pernah melukai tangannya, padahal tidak memiliki niat buruk.
‘’Stt! Yak! Aku ini ingin menolongmu!’’ teriak Ratu Rushi memarahi burung tadi.
Saat itu juga Wani datang dengan wajah sedikit cemas. Ia datang karena mendengar suara wanita itu berteriak. Matanya melirik ke arah burung tadi.
‘’Ahaha! Aku berteriak karena melihat burung ini terjatuh tadi,’’ kata Ratu Rushi.
Wani berjalan menghampiri burung itu lalu mengangkatnya. Ratu Rushi yang melihat kepergian pria tadi memanggilnya dan bertanya.
‘’Kau pasti ingin mengobatinya. Ayo bawa dia ke goa,’’ kata Wani.
Dia menjadi lebih peka daripada sebelumnya. Apakah dia ingin membayar hutangnya yang tidak sempat mengobati adiknya dengan burung itu, ya? Haa, kata Ratu Rushi dalam hati.
Rawa
......................
Begitu Wani meletakkan burung itu, binatang tadi langsung melompat ke arah Ratu Rushi, membuat kedua orang itu saling memandang dengan wajah bingung. Wani tidak peduli dan duduk di sekitar bebatuan.
Ratu Rushi pun mengangkat burung tadi untuk meletakkannya di tanah. Lalu merobek mantel berbulunya begitu tipis. ‘’Sepertinya sayap burung ini terkilir.’’
Ia merepasi bagian sayap yang terkilir dan melakukan pelipatan agar sayapnya bisa kembali ke posisi normal.
Wani menatap Ratu Rushi mengikat sayap burung itu di bagian siku. Lalu selanjutnya bagian bulu utama(primary fearthers), dan bulu sekunder(secondary feathers) dibungkus.
Beratnya sampai mencapi 1 kg dengan ukuran tubuh sepanjang 58 cm. Bulunya berwarna hitam, kelabu dan biru, berparuh kuning besar dengan ujung hitam lancip dan berekor pendek. Tidak salah lagi, burung di depanku ini adalah Falco peregrines. Menurut Nature Conservancy, kemampuan migrasinya membuatnya menjadi burung global. Ketika menukik dari udara, burung ini bisa mencapai kecepatan hingga 389 km/jam. Status tercepat di udara membuatnya menjadi burung tercepat di dunia sehingga dijuluki sebagai Raja Langit. Salah satu apex predator yang menduduki puncak rantai makanan, dialah … Elang Peregrine, kata Ratu Rushi dalam hati.
Ia tidak percaya bisa menemukan burung tercepat di dunia di tempat seperti ini. Baginya, ia seperti memenangkan double lotre. Dengan elang peregrine, ia bisa mengetahui situasi di luar meski terkurung di pulau tersebut.