Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 87 Emosi



Bugh!


Pria yang mengenakan pakaian putih itu hanya meringis setelah sekelompok orang memukulnya.


‘’Meskipun kau selalu ikut latihan dengan kami, tapi jangan bermimpi untuk bisa tampil di depan Yang Mulia.’’


‘’Kau benar-benar tidak tahu malu, ya? Jelas-jelas kau itu tidak sempurna. Beraninya ingin gabung bersama kita.’’


Sosok pria yang membedakan pakaiannya di antara semua orang, langsung menginjak perut pria yang dipukuli tadi. ‘’Heh, merak yang memiliki penyakit kelainan seperti dirimu hanya pantas di tempat pembuangan. Benar bukan … Kujaku?’’


Pria yang diseret oleh para pengawal saat di gerbang, dan pria yang dipukuli sekelompok orang tadi tidak lain bernama Kujaku. Ia adalah manusia setengah merak, tapi tidak memperlihatkan keindahan merak. Kalau biasanya merak memiliki bulu indah berwarna warni dan juga pada mahkota di kepalanya serta motif yang indah, Kujaku berbeda karena seluruh tubuhnya berwarna putih.


Dari sekian populasi merak, hanya Kujaku jenis merak putih. Hal itu membuatnya mendapat perlakuan tidak adil. Kaumnya sendiri mengucilkan dirinya, menjauhinya bahkan tidak ragu merundungnya hanya karena memiliki kelainan.


Bugh! Bugh! Bugh!


Kujaku hanya diam dipukuli, karena sejak kecil ia tidak pernah melawan. Ia melakukan hal itu agar bisa berteman dengan orang-orang, meskipun mereka memanfaatkannya dengan cara yang salah. Namun, sekuat apa pun ia berusaha menjalin pertemanan, semua orang menolaknya.


‘’Hentikan!’’


Sekelompok orang itu menoleh dan terkejut bukan main saat melihat sosok tadi. Tanpa membuang waktu, mereka langsung bersujud ke tanah. ‘’Hormat kami kepada Yang Mulia Ratu Rushi.’’


......................


Kamar Putri Rukaia


Prank! Krak! Bugh!


Layaknya orang gila, Putri Rukaia mengamuk dan hilang kendali. Ia melampiaskan semua amarahnya dengan memecahkan keramik, membanting bingkai, menjatuhkan meja dan kursi, dll. Intinya ia mengacaukan seluruh isi kamarnya tanpa peduli pikiran para pelayan yang berjaga di luar.


Ceklek!


Ia terbelalak dengan wajah melongo sambil menyusuri seluruh sisi kamar. Pandangannya beralih ke arah wanita yang berdiri di depannya.


Dengan mata merah yang disertai butiran air mata, Putri Rukaia menatap pamannya dengan wajah tertahan. Siruverash yang melihatnya hanya memicingkan mata, dan menghela nafas panjang. Lalu memiringkan sedikit kepalanya sambil memegangnya.


‘’Stt, Putri Rukaia? Bisakah Anda mengontrol sedikit emosi dan berusaha meredamkannya tanpa melampiaskannya seperti ini? Kakak tirimu saja bisa mengontrol emosinya dengan sangat baik di depan semua orang. Kenapa kau tidak bisa sepertinya?’’ tanya Siruverash.


‘’Heh? Paman mulai membandingkan diriku dengan kakak? Paman pikir siapa yang telah menyebabkan masalah ini?’’ tanya Putri Rukaia dengan wajah tertahan.


Siruverash menghela nafas. ‘’Lihat betapa kacaunya penampilan Anda.’’


Putri Rukaia membuang wajah dengan ekspresi kusut. Ia benar-benar tidak bisa membiarkan Ratu Rushi mendapatkan dukungan semua orang, terutama Raja Raion. Padahal, ia bersusah payah dengan mengunjungi kediaman Ratu Agung setiap hari untuk mendapatkan hatinya.


Berbeda dengan dirinya, Ratu Rushi mendapatkan dukungan dari Ratu Agung hanya beberapa saat. Bukan hanya itu, mengingat bagaimana Raja Raion membela Ratu Rushi yang seharusnya diseret, membuat kemarahannya kembali muncul.


‘’Kenapa kakak selalu mendapatkan sesuatu dengan mudah? Kenapa aku harus melakukan banyak usaha demi mendapatkan sesuatu?! Ini sangat tidak adil!’’ seru Putri Rukaia.


Siruverash menghela nafas panjang lalu memegang tengkuk hidungnya.


......................


Ratu Rushi menghampiri sekelompok orang yang bersujud tadi. Matanya beralih melihat pria yang mengenakan pakaian putih sedang terkapar di tumpukan sampah plastik.


Ia kembali menatap sekelompok orang itu. ‘’Apa yang kalian lakukan?’’


...Visual Kujaku...