
Raja Raion yang melihat kedatangan Ratu Rushi langsung berdiri dengan wajah senang. Tanpa membuang waktu pun, ia bergegas pergi meninggalkan tempat itu.
Putri Rukaia mengepalkan tangan dengan wajah tertahan. Saat itu juga, ia langsung mengacaukan isi meja membuat cangkir, teko keramik dan hidangan jatuh dan berserakan di lantai.
‘’Hhah? Huu….’’
Ia berusaha mengontrol nafasnya meski urat-urat di lehernya sudah menegang. Melihat pecahan-pecahan itu membuat wajahnya merah padam. ‘’Padahal aku sudah berusah payah untuk mengajak Yang Mulia, dan membuat Ratu Agung memaksanya. Tapi kakak mengacaukannya dengan sangat mudah.’’
Putri Rukaia meraih vas bunga lalu membantingnya ke lantai. Dengan wajah tertahan, ia berjalan keluar menyusul Raja Raion.
......................
Ratu Rushi menatap Shika, Yagyu dan Usagi yang sepertinya masih ingin berada di desa. Tapi, karena perintah Raja Raion, mereka terpaksa kembali ke istana. ‘’Maaf karena kalian harus ikut bersamaku. Jika mau, kalian bisa kembali ke desa dan tidak perlu memaksakan diri untuk tinggal di istana.’’
Yagyu langsung membantah hal itu. Ia meminta Ratu Rushi agar tidak perlu meminta maaf karena mereka. Usagi juga membenarkan ucapan manusia setengah banteng itu, dan berusaha meyakinkan Ratu Rushi untuk tidak khawatir. Shika bahkan mengepalkan tangan karena tidak rela meninggalkan Ratu Rushi setelah melihat kedok semua orang. Begitu juga dengan Mozaru yang sependapat dengan mereka.
‘’Arigatou,’’ senyum Ratu Rushi.
‘’Duit masih … Masih apa, ya?’’ tanya Shika.
‘’Masih nabung di bank? Puff! Chigau yo(Salah), yang benar itu douitashimashite,’’ kata Ratu Rushi membenarkan.
Keempat pria tadi terkekeh dan mengucapkan kalimat tadi untuk membalas ucapan terima kasih wanita itu. Di saat bersamaan, keadaan langsung sunyi begitu melihat kedatangan Raja Raion.
Ratu Rushi mengerutkan dahi melihat keempat pria di depannya langsung bersujud. Ia pun menoleh ke belakang, membuat raut wajahnya berubah.
Hm~ merusak suasana saja, ucapnya dalam hati.
‘’Ratu Rushi, Anda sudah kem—‘’ ucapannya terpotong saat Ratu Rushi langsung berlalu pergi.
Tora dan yang lainnya melongo melihat kejadian itu. Raja Raion berbalik dan menatap Ratu Rushi habis pikir. Ia pun mengejar wanita tadi bersamaan Putri Rukaia tiba yang juga diabaikan.
‘’Puff! Dia seperti rumput laut yang bergoyang tapi diabaikan,’’ ledek Shika.
Yagyu menatapnya dengan alis berkerut. ‘’Ha? Kenapa harus rumput laut?’’
Shika hanya mengangkat kedua bahunya. Ia mengatakan kalau kata itu langsung muncul saja di otaknya.
......................
Raja Raion mengeryitkan alis sambil tersenyum. ‘’Ratu Rushi, bisakah kau tidak langsung pergi saat aku datang?’’
‘’Aku hanya menuju ke kamar untuk ganti pakaian. Bukankah Yang Mulia ingin bertemu denganku?’’ tanya Ratu Rushi.
‘’Tapi caramu bersikap seperti tidak ingin melihatku,’’ kata Raja Raion.
Ratu Rushi tersenyum sambil membuka pintu kamarnya. Ia menatap suaminya sejenak. ‘’Aku akan menghajarmu jika berani masuk disaat aku sedang ganti baju.’’
Bugh!
Raja Raion tersentak karena pintu ditutup dengan kasar. Ia tersenyum remeh dan habis pikir dengan sikap Ratu Rushi. ‘’Aku adalah suamimu! Sudah hakku untuk masuk ke dalam.’’
‘’Jika kau masih ingin melihat matahari terbit besok, maka jangan berusaha untuk masuk!’’ teriak Ratu Rushi dari dalam.
‘’Heh? Wanita ini benar-benar….’’
Tidak tahu kenapa, senyuman malah terukir di bibir Raja Raion. Padahal ia seharusnya marah karena diperlakukan seperti ini.
Para pelayan hanya menunduk karena tidak berani mengangkat kepala. Mereka tidak percaya kalau ada orang yang berani memperlakukan Raja sekasar ini.