
Semua orang gusar saat Ratu Rushi mulai menutup mata. Mereka juga bingung melihat Taka dalam wujud elang yang sedang terbang di atas seolah-olah mencari sesuatu.
‘’Tubuh Yang Mulia menjadi pucat!’’ pekik Uma.
Pangeran Rodigero yang menyusuri tubuh Ratu Rushi langsung tersentak melihat bekas patuk di bagian kaki.
Di saat bersamaan, Taka menukik dengan kecepatan ekstrem sambil melipat sayapnya ke belakang dan tetap menyesuaikan tubuh agar meluncur lebih cepat dan tepat sasaran. Ia mencengkeramkan kakinya di tanah sambil mengepakkan sayap tidak beraturan, hingga akhirnya mengangkat sesuatu dari tanah bersalju.
Mereka terbelalak melihat elang peregrine itu menangkap seekor ular yang datang entah dari mana.
Siruverash kembali tersenyum sambil menatap Ratu Rushi. ‘’Aku menang Yang Mulia.’’
‘’Dari mana ular itu datang?!’’ pekik Kitsune.
‘’Ularnya tidak terlihat sejak tadi. Tapi sudah ada di sini,’’ kata Kamereon.
Ratu Rushi sempat menatap ular yang ditangkap Taka. ‘’Itu Gonyosoma Boulengeri … Ular badak yang memiliki tanduk atau cula yang digunakan sebagai kamuflase. Dia mampu mengubah warnanya untuk menyesuaikan diri seperti bunglon.’’
‘’Itulah kenapa kita tidak bisa melihatnya secara langsung,’’ kata Usagi.
‘’Tapi berbeda dengan Taka yang memiliki pendengaran dan penglihatan yang tajam,’’ kata Mozaru.
‘’Kau benar-benar pria bertopeng kejam!’’ seru Shika.
‘’Kerja bagus Ebi,’’ senyum Siruverash.
Yagyu berdiri dan memanggil Taka untuk merendahkan terbangannya. Setelah itu, ia meraih ujung ekor ular badak tadi dan langsung membantingnya sangat kuat ke tanah.
Dengan sekali bantingan, ular badak tadi berubah menjadi seorang pria berambut putih.
‘’Akh!’’ ringis Ebi merasakan tubuhnya remuk.
Sebelah kakinya kembali ditarik oleh Yagyu dan diseret lalu dibanting ke arah yang satunya. Ia benar-benar merasa remuk dan meminta maaf.
Saat itu juga Ratu Rushi menutup mata membuat semua orang semakin panik. Mereka langsung membuncang tubuh wanita itu.
‘’Segera bawa Yang Mulia kembali ke perkemahan!’’ perintah Pangeran Rodigero.
......................
Kamp Raja
Raja Raion langsung berdiri dan bergegas keluar dengan wajah senang. Namun, senyuman diwajahnya langsung luntur saat melihat Ratu Rushi terbaring tidak sadarkan diri dengan tubuh membiru dan bibir yang memutih.
‘’Bukankah kita memenangkan perang? Apa yang terjadi dengan Yang Mulia?’’ tanya Hana.
‘’Tapi tabib sudah ada di sini sejak tadi pagi untuk mengecek kondisi Yang Mulia secara rutin,’’ kata Tora.
‘’Hee~ kalau begitu bagaimana dengan Uma?’’ bingung Shika.
Dengan wajah tertahan, Raja Raion langsung menatap Siruverash yang tersenyum.
‘’Sangat tidak adil jika hanya saya dan Rukaia yang diberi hukuman. Yang Mulia Raja dan yang lainnya juga harus merasakan hal sama, barulah itu disebut kekeluargaan,’’ kata Siruverash.
Raja Raion menatap Siruverash dan para petinggi beserta pasukannya. Ia pun memberi perintah untuk menyekap mereka semua.
......................
Tidak lama kemudian seekor kuda tiba yang langsung berubah menjadi manusia. ‘’Aku tidak menemukan tabibnya!’’
Spontan semua orang memasang wajah bodoh dan memberitahu Uma kalau tabib kerajaan sudah ada di perkemahan sejak tadi pagi saat mereka pergi berperang.
‘’Eh~ benarkah?’’ tanya Uma terengah-engah.
Pangeran Rodigero meminta maaf karena merasa bersalah sudah membuatnya berlari sejak tadi. Ia terlalu panik dan juga tidak tahu kalau tabib ternyata sudah ada di perkemahan untuk mengecek kondisi kakaknya. Uma tidak mempermasalahkan dan menanyakan kabar Ratu Rushi.
Tabib yang telah memeriksa kondisi Ratu Rushi menatap semua orang. ‘’Area kaki Yang Mulia mengalami perubahan warna dan sudah bengkak serta memar karena peningkatan akibat bisa ular. Jika tidak segera ditangani, maka nyawa Yang Mulia tidak akan bisa tertolong.’’
Deg!
‘’Kerusakan jaringan di area gigitan menimbulkan pembekuan dan pendarahan darah yang tidak normal. Hal ini bisa merenggut nyawa Yang Mu—’’
Bugh!
Semua orang tersentak melihat Raja Raion baru saja menghancurkan meja dengan tangan wujud singa.
‘’Tugasmu adalah menyembuhkan dan menyelamatkan semua orang. Jika Anda tidak berhasil membuat Ratu Rushi membuka matanya, maka saya akan menutup matamu,’’ kata Raja Raion mengintimidasi.
Shika mengerutkan dahi dan berbisik ke Yagyu yang berdiri di sampingnya. ‘’Menutup mata? Itu sangat mudah. Aku bisa menutup mataku sendiri tanpa bantuan orang lain.’’
‘’Maksud menutup mata tadi adalah Yang Mulia akan menghabisi tabib itu,’’ bisik Yagyu dengan wajah bodohnya.
Manusia setengah rusa tadi langsung melotot bersamaan ia menganga sebelum membengkap mulutnya.
...Visual Ebi...