
‘’Ke mana Ratu Rushi pergi?’’ tanya Raja Raion.
Tora mengatakan kalau para prajurit melihat Ratu Rushi menghampiri para pekerja pertunjukan. Tidak tahu apa tujuan sebenarnya, tapi wanita itu sepertinya mencari seseorang. Pangeran Rodigero mengerutkan dahi setelah mendengarnya.
Raja Raion kembali bertanya memangnya siapa orang yang dicari Ratu Rushi, sampai membuat wanita itu mencarinya secara langsung. Tapi Tora hanya meminta maaf karena tidak tahu detailnya lebih jelas.
‘’Kalau begitu, saya kembali ke kamar saja. Kakak saja yang menyampaikan rasa terima kasihku kepada Yang Mulia,’’ kata Pangeran Rodigero.
Ia pun membungkuk sebelum berjalan meninggalkan kamar.
Raja Raion yang menatap kepergian adiknya, masih merasa penasaran mengenai urusan kedua orang itu.
......................
Sekelompok orang yang mencium tanah tadi saling melirik satu sama lain dengan wajah tegang. Tidak mungkin mereka berbohong kepada Ratu Rushi sedangkan wanita itu menyaksikannya sendiri.
Ratu Rushi kembali bertanya dengan sedikit nada meninggi di akhir kalimat, membuat sekelompok orang itu masih tetap diam. Ia berjalan menghampiri mereka. Begitu tiba di depan salah satu pria yang terlihat seperti ketua mereka, matanya langsung memicing. Tanpa membuang waktu, ia berputar dan melayangkan tendangan kepada pria tadi.
Ketua kelompok itu terjungkal ke bekalang, dengan memar di sudut bawah matanya. Para rekan dari pria itu terkejut karena Ratu Rushi tidak main-main menyerangnya, membuat salah satu dari mereka buka mulut.
‘’Hamba mohon maaf Yang Mulia Ratu. Sepertinya ada kesalahpahaman di sini. Kami hanya menegur salah satu rekan kami karena melakukan kesalahan.’’
Sebelah alis Ratu Rushi terangkat. ‘’Dengan cara menghajarnya habis-habisan? Berani membohongiku kalian sudah bosan hidup, ya?’’
‘’Kami tidak berani Yang Mu—‘’ ucapan salah satu orang yang mewakili terpotong, saat kedatangan para pengikut Ratu Rushi.
Shika menoleh ke arah sekelompok orang yang mencium tanah, dan menanyakan situasi. Ratu Rushi kembali menatap sekelompok tadi, lalu menyuruh Yagyu agar kepala penanggung jawab segera menghadap kepadanya.
Tidak lama kemudian, Aruse datang dan melihat situasi yang terjadi. Matanya melirik ke arah Kujaku yang sudah terkapar karena babak belur. Tanpa bertanya, ia sudah tahu mengenai situasi di tempat tersebut. Beberapa saat yang lalu, ia masih belum memaafkan perlakuan Ratu Rushi, dan sekarang ia kembali dihadapkan masalah dengan wanita itu gara-gara bawahannya.
Aruse sedikit menggertak gigi sambil melontarkan tatapan tajam, sebelum ia membungkuk. ‘’Mohon maaf atas kesalahan hamba. Tapi ini sudah biasa terjadi Yang Mulia. Pria setengah merak itu bernama Kujaku. Dia memiliki penyakit kelainan yang membuatnya dirundung seperti ini.’’
‘’Penyakit kelainan?’’ bingung Ratu Rushi.
Kepala penanggung jawab itu kembali menegaskan, meski Kujaku adalah manusia setengah merak, tapi ia tidak memperlihatkan keindahan merak. Kalau biasanya merak memiliki bulu indah berwarna warni dan juga pada mahkota di kepalanya serta motif yang indah, Kujaku berbeda karena seluruh tubuhnya berwarna putih.
Seluruh tubuh berwarna putih? Kondisi tubuh seperti itu disebabkan kurangnya produksi melanin dalam tubuh, yaitu pigmen yang memberi warna kulit, rambut dan mata. Satu-satunya kondisi genetik yang menyebabkan warna rambut, mata dan kulit menjadi putih hanyalah kondisi albinisme … Albino, kata Ratu Rushi dalam hati.
Ia kembali menatap Kujaku sambil meyakinkan diri sendiri apakah pria itu memang benar-benar mengalami kelainan tersebut.
‘’Sebagai permintaan maaf karena telah menyinggung Yang Mulia, hamba akan menyerahkan sekelompok orang ini kepada Anda, begitu juga dengan Kujaku,’’ kata Aruse.
Hee~ pria ini tahu membaca suasana juga. Aku baru saja ingin memintanya, dan dia sudah mendahuluiku, kata Ratu Rushi dalam hati.
Ia menyuruh Hana untuk membantu Kujaku, lalu meminta Yagyu dan yang lainnya untuk mengurus sekelompok orang tadi.
Setelah melihat kepergian orang itu, Aruse menghela nafas panjang. ‘’Para sampah bodoh itu ingin menyeretku ke dalam masalah lagi karena ulah mereka. Heh, akan lebih baik jika Yang Mulia yang membalasnya.’’