
Desa
Melihat kedatangan Ratu Rushi membuat semua orang bersujud di sepanjang jalan untuk memberi hormat. Hana dan yang lainnya hanya tersenyum melihat hal itu. Tidak lama kemudian, mereka pun tiba di rumah makan.
Licy yang mencuci piring seperti biasa, mengerutkan dahi karena mendengar keramaian dari luar. Saat mendengar suara Kitsune, kepalanya langsung menoleh. Bahkan terdengar jelas suara langkah pria itu yang menghampirinya.
‘’Kau di sini, ya?’’ tanya Kitsune.
‘’Apa yang terjadi? Beberapa saat yang lalu sangat ramai, lalu sekarang menjadi hening,’’ kata Licy.
‘’Yang Mulia ada di sini,’’ kata Kitsune membuat Licy tersentak.
Suara lonceng dari pintu terdengar bersamaan seseorang melangkah masuk. ‘’Licy….’’
Deg!
Sekali lagi Licy tersentak setelah mendengar suara tadi. Tanpa bertanya pun ia sudah tahu jika pemilik suara itu tidak lain adalah Ratu Rushi. Ia pun menutup keran air dan langsung bergegas. ‘’Yang Mulia!’’
Kitsune menuntun Licy hingga tiba di hadapan Ratu Rushi. Meskipun tidak bisa melihat, Licy bisa merasakan kehadiran wanita itu. Dengan tangan dan kaki gemetar, ia pun meletakkan tongkatnya dan bersujud lalu mencium tanah.
‘’Hamba memberi salam kepada Yang Mulia,’’ kata Licy terharu.
Butiran air mata Ratu Rushi terjatuh sambil membantu wanita tadi berdiri. Ia pun memeluk Licy untuk meluapkan rasa rindu.
Tangan Licy bahkan gemetar hanya gara-gara ingin menyentuh Ratu Rushi. ‘’Syukurlah Yang Mulia baik-baik saja.’’
Hana juga menghampiri Licy dan memeluknya sambil menangis haru. ‘’Licy! Aku sangat merindukanmu, hiks….’’
‘’Hana, apa itu kau? Aku juga sangat merindukanmu. Maaf karena aku bersikap egois dan memintamu menjaga kebenaran yang aku lihat,’’ kata Licy.
‘’Hiks, tidak. Akulah yang seharusnya meminta maaf karena tidak bisa membantumu. Kedua matamu sampai dilukai sementara aku tidak. Jelas-jelas kita berdua mengetahui kebenarannya. Jika bisa, aku juga akan melukai kedua mataku agar kita menanggung hukuman yang sama,’’ tangis Hana.
Licy menggeleng sambil tersenyum. ‘’Jika matamu juga dilukai maka tidak ada yang akan menjadi mataku untuk melihat.’’
Tangisan Hana semakin menjadi-jadi. Ia berjanji akan menjadi mata Licy sebagai penebusan rasa bersalahnya.
Kedua pelayan wanita tadi langsung menggeleng cepat dan memberitahu Ratu Rushi untuk tidak merasa seperti itu.
Setiap orang akan menghadapi hasil dari buah perbuatan mereka, seperti yang dialami Licy saat ini.
Ratu Rushi kembali memeluk kedua wanita itu, membuat Shika juga ikut memeluk mereka. Hana dan Licy spontan menghindar, dan menjerit karena manusia setengah rusa itu memeluk Ratu Rushi. Saat itu juga Yagyu langsung menarik Shika dengan kasar, sehingga mereka tarik menarik.
Beruntung, semua pelanggan sudah pergi membuat hanya orang terdekat yang menyaksikannya. Tapi, semua orang sudah terbiasa dengan keributan itu kecuali Hana, Licy dan Kujaku.
......................
Mereka pun menghabiskan waktu sambil berbincang dan bercanda satu sama lain. Licy pun mengerti setelah mendengar semua cerita dari Ratu Rushi.
‘’Mohon maaf jika hamba lancang. Tapi hamba sendiri yang meminta Pangeran Rodigero untuk merahasiakannya. Hamba tidak ingin menjadi alasan Yang Mulia dan Pangeran Rodigero saling diam. Jika bukan karena Pangeran Rodigero yang menolong dan membawa hamba kemari, saya tidak akan bertemu dengan Yang Mulia. Jadi jangan marah kepada Pangeran Rodigero,’’ kata Licy.
‘’Saya juga melihat Pangeran Rodigero selalu menatap Yang Mulia dari jauh. Sepertinya dia sangat ingin baikan dengan Yang Mulia,’’ kata Hana.
‘’Hamba juga pernah mendapat Pangeran Rodigero sedang menatap kita sekilas,’’ kata Kitsune.
Tanpa kalian beritahu, sebenarnya aku juga melihat pria itu dari jauh. Beberapa hari yang lalu, aku langsung menghampirinya tanpa sadar kalau kami saling diam. Aku dan Raion saja sudah baikan, kenapa tidak dengannya? Ya sudah, aku akan menghampirinya besok pagi, kata Ratu Rushi dalam hati.
‘’Oh iya Licy, aku dan yang lainnya akan liburan, kau haru ikut bersama kami, ya?’’ ajak Ratu Rushi.
‘’Mohon maaf Yang Mulia. Meskipun ingin pergi, hamba tidak bisa karena masih takut bertemu dengan Tuan Siruverash dan Putri Rukaia. Lagi pula, jika hamba pergi, tidak ada yang bisa dilakukan orang buta seperti saya,’’ kata Licy.
‘’Tapi Licy?’’
‘’Sekali lagi hamba meminta maaf Yang Mulia,’’ kata Licy.
Ratu Rushi menghela nafas panjang. ‘’Baiklah. Tapi, jika kami kembali, kau harus ikut bersamaku ke istana. Aku berjanji, paman dan adik tiriku tidak akan menyentuhmu.’’
Meskipun ragu, Licy mengangguk pelan membuat Ratu Rushi dan yang lainnya tersenyum.