Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 131 Penjara Pengasingan



‘’Saya benar-benar terkejut melihat Yang Mulia ternyata masih hidup. Bukankah seharusnya Anda sudah tiada karena ditelan buaya?’’ tanya Washi.


Ratu Rushi tersenyum remeh. ‘’Kenapa kau tidak memikirkannya sendiri, bagaimana aku bisa lolos dari terkaman predator sepanjang 12 m seperti itu?’’


Washi memasang kusut dan berbalik untuk pergi. ‘’Bagi dunia, Yang Mulia sudah tiada. Alangkah lebih baik membuat pernyataan itu tetap tidak berubah.’’


Kedua orang di dalam jeruji tadi menatap kepergian Washi dengan wajah kusut.


Ratu Rushi berdecih karena ia tidak sadar kalau pamannya ternyata sudah mengambil langkah lebih dulu darinya.


......................


Istana


Seekor burung elang mendarat lalu berubah menjadi manusia dan berlutut. Ia menatap Siruverash yang masih mengenakan pakaian putih sedang duduk di kursi sambil menutup matanya dengan telapak tangan.


Setelah menyadari kedatangan bawahannya, Siruverash melirik Washi dari cela-cela jari. ‘’Jadi, bagaimana?’’


‘’Sesuai perintah Tuan, hamba sudah membawa Yang Mulia beserta pria yang bersamanya ke Penjara Pengasingan,’’ kata Washi.


Siruverash menatap pria di depannya dengan wajah kusut setelah mendengar kabar Ratu Rushi yang ternyata masih hidup.


Flashback on


Setelah ritual pemakaman selesai, Siruverash tidak sengaja menoleh dan melihat Washi berdiri dari jauh dibalik tiang. Ia melakukan bruxism sebelum berdiri. ‘’Saya permisi sebentar.’’


Ia pun berjalan menuju ke tempat Washi. Setelah memastikan tidak ada siapapun di sana, membuatnya menyuruh bawahannya menampakkan diri.


‘’Kau pasti datang tanpa alasan. Katakan ada apa?’’ tanya Siruverash.


‘’Tuan mungkin akan terkejut setelah mendengar hal ini. Yang Mulia Ratu Rushi masih hidup.’’


Mata Siruverash membulat besar. Dengan cepat, ia menatap Washi memastikan pendengarannya tidak salah.


‘’Saat ini Yang Mulia ada di tepi pantai bersama seorang pria,’’ kata Washi.


Siruverash mengepalkan tangan dengan rahang yang menegang. Saat ini mereka akan menuju ke sungai, membuatnya mengerti kalau keponakannya itu akan memberi kejutan di sana. Namun, ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


‘’Awasi kedatangan Ratu Rushi. Pastikan wanita itu tidak muncul di hadapan semua orang!’’ perintahnya.


......................


Sungai Rivofdea


Begitu tiba di sana, Siruverash menyusuri area sekitar tanpa menimbulkan kecurigaan. Tidak lama kemudian, orang suci meminta keluarga Ratu Rushi agar mereka menenggelamkan pakaian wanita itu secara langsung. Ia dan Putri Rukaia beserta Raja Raion memegang pakaian itu.


Ketiganya menjatuhkan pakaian tersebut dan perlahan tenggelam ke bawah.


‘’Yagyu!’’


Siruverash tersentak karena mengenali suara tadi adalah milik dari Ratu Rushi. Ia pun menoleh sedikit ke belakang dan melihat wanita itu memang benar-benar ada. Namun, ia kembali lega karena melihat Washi beserta bawahannya langsung membawa Ratu Rushi pergi dari sana.


Flashback off


‘’Haa….’’


Washi yang mendengar Siruverash menghela nafas panjang, membuatnya bicara. ‘’Tuan tidak perlu mencemaskan apa pun lagi. Siapapun yang telah dibuang ke Penjara Pengasingan, tidak akan pernah keluar dari sana. Selain itu, tidak ada kendaraan yang bisa digunakan melarikan diri dari tempat itu.’’


Meskipun begitu, Siruverash mengepalkan tangan sambil menggertak gigi. Sekuat apa pun ia berusaha menyingkirkan Ratu Rushi, tapi wanita itu selalu saja lolos.


Kenapa Tuhan begitu memberkati Yang Mulia? Sepertinya aku harus mempercepat penobatan Rukaia. Yang Mulia memang ada di Penjara Pengasingan. Tapi tidak ada yang tahu kapan dia akan muncul kembali. Dan sebelum itu terjadi, aku harus menyukseskan rencanaku, kata Siruverash dalam hati.