Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 35 Sekilas Pertanyaan



‘’Ibu sungguh menyukai wanita ini, kan?’’ tanya Pangeran Rodigero.


Ratu Agung mengangguk mantap. ‘’Jangan khawatir. Aku adalah pendukung tertinggi kalian berdua.’’


‘’Kalau begitu, Ibu tidak keberatan aku sering keluar istana, untuk bertemu dengannya, kan?’’ tanya Pangeran Rodigero.


‘’Tidak masalah. Tapi, Anda harus kembali ke istana sebelum matahari terbenam,’’ kata Ratu Agung. (Pangeran Rodigero teringat)


Raja Raion yang melihat adiknya tersenyum tanpa menyadari kehadirannya, hanya memasang wajah bodoh. ‘’Sedang memikirkan wanita bersuami itu lagi?’’


‘’Kakak ada di sini?’’ tanya Pangeran Rodigero bangkit.


‘’25 menit yang lalu, dan selama itu aku berdiri terus di depanmu,’’ jawab Raja Raion.


Ia menghela nafas sambil memegang kepalanya. Pangeran Rodigero tersenyum dalam artian meminta maaf.


‘’Sudah bertemu dengan ibu?’’ tanya Raja Raion.


‘’Iya. Aku sudah bertemu dan memberitahu situasinya. Ibu memberiku izin keluar istana untuk bertemu dengan wanita itu,’’ jawab Pangeran Rodigero.


‘’Ibu merestui hubungan Anda dengan wanita bersuami itu?’’ tanya Raja Raion.


‘’Hehe, tentu saja tidak. Aku mana berani memberitahu ibu soal itu. Aku hanya mencari alasan yang logis. Selain itu, bagaimana kondisi Putri Rukaia?’’ tanya Pangeran Rodigero.


‘’Paman Siruverash sudah datang, jadi tidak ada alasan lagi bagiku untuk tinggal,’’ jawab Raja Raion.


Pangeran Rodigero terdiam sambil menggigit bibir bawahnya. Ia pun menarik nafas dalam-dalam. ‘’Kakak? Aku ingin menanyakan sesuatu.’’


Raja Raion menoleh dan hanya menunggu adiknya melanjutkan ucapannya.


‘’Kakak menyukai Yang Mulia Ratu Rushi?’’ tanya Pangeran Rodigero.


‘’Kenapa kau bertanya seperti itu?’’ tanya Raja Raion yang tiba-tiba berubah.


‘’Aku hanya sekedar bertanya. Tidak menjawab juga tidak apa-apa,’’ kekeh Pangeran Rodigero.


‘’Bahkan sedikit saja, apakah Kakak benar-benar tidak menyukai wanita i—‘’


‘’Tidak ada gunanya membahas wanita yang tidak ada di sini. Jadi berhentilah menyebut namanya terus. Aku mungkin bisa memakluminya, tapi jika ibu dan yang lainnya yang mendengar pembahasan ini, Anda seharusnya sudah mengerti,’’ kata Raja Raion.


Pangeran Rodigero menunduk dengan wajah sedih. ‘’Aku mengerti. Maaf atas ucapanku.’’


Raja Raion berdiri dan berjalan pergi. ‘’Hari ini Anda bertingkah aneh. Sebelum yang lainnya juga merasa tidak nyaman, aku harap ini pembahasan terakhir kalinya mengenai wanita itu.’’


‘’Itulah kenapa, aku tidak bisa memberitahu kalian berdua, kalau wanita yang aku sukai adalah Ratu Rushi,’’ kata Pangeran Rodigero menatap pintu kamarnya yang sudah ditutup kembali.


......................


Desa


Setelah makan malam selesai, Ratu Rushi memeriksa kain yang telah dibeli Pangeran Rodigero.


‘’Apakah ini yang namanya belanja? Pangeran Rodigero seperti memborong tiga toko saja,’’ kata Yagyu.


‘’Kain sebanyak ini untuk apa?’’ tanya Shika.


‘’Kita bisa menyimpan sisanya. Dan baru menggunakannya kepada orang tambahan kita,’’ kata Ratu Rushi.


‘’Orang tambahan? Yang Mulia berencana merekrut orang lagi?’’ tanya Usagi.


Ratu Rushi membenarkan. Ia memberitahu ketiga pria itu kalau mereka tidak cukup, untuk menjalankan rumah makan. Mereka membutuhkan orang yang lebih banyak, agar semuanya menjadi mudah.


Mengingat Yagyu, Shika dan Usagi kewalahan mengurus pelanggan, membuat Ratu Rushi hendak mencari orang yang bisa ia percayai.


‘’Tapi bulu ini sangat hangat, aku jadi tidak sabar ingin memakainya saat musim dingin nanti,’’ kata Shika.


Yagyu mengangguk sambil meraba bulu pelengkap pakaian. ‘’Sangat halus. Kualitas sebaik ini pasti sangat mahal.’’


‘’Bagi Pangeran Rodigero, ini hanya uang jajan kecil,’’ kata Usagi.