
Kedua belas orang yang melakukan perang bantal di dalam kamar Ratu Rushi, kini duduk tenang sambil menundukkan kepala. Mereka tidak berani mendongakkan kepala karena saat ini Raja Raion memasang wajah kusut sambil mengeluarkan aura hitam. Ratu Rushi yang melihatnya hanya tersenyum kaku.
‘’Jelaskan apa yang terjadi saat ini? Beraninya kalian membuat keributan di kamar Ratu dan bersikap tidak sopan kepadanya. Apa kalian ingin dihukum?!’’ seru Raja Raion membuat kedua belas orang itu tersentak.
Para pengikut Ratu Rushi langsung mencium lantai dan memohon pengampunan.
Ratu Rushi yang melihatnya mencoba menjelaskan. Ia memberitahu pria itu kalau dirinya salah paham. Tidak ada yang membuat keributan atau bersikap kasar padanya. Tapi, mereka hanya sedang bermain perang bantal.
‘’Perang bantal?’’ tanya Raja Raion.
‘’Itu seperti kalian melakukan dodgeball, dimana orang akan melemparkan bantal kepadamu, tapi kau harus menghindarinya agar tidak terkena,’’ jawab Ratu Rushi.
Raja Raion mengerutkan dahi tanda bingung. ‘’Seperti apa?’’
Saat itu juga Ratu Rushi melemparkan bantal ke wajah sang Raja, membuat para pengikutnya melongo bukan main.
‘’Kurang lebih seperti itu,’’ senyum Ratu Rushi dengan tampang wajah tidak berdosa.
Heh, dia benar-benar suka memperlakukanku dengan kasar, kata Raja Raion dalam hati.
‘’Kenapa kau tersenyum?’’ tanya Ratu Rushi.
‘’Karena aku akan membalasmu!’’ kata Raja Raion mengambil bantal.
......................
Kamar Raja
Putri Rukaia melepaskan pelukan Pangeran Rodigero dan langsung bangkit. Ia tidak tahu harus mengatakan apa lagi di depan pria itu.
‘’Hem! Sepertinya ada kesalahpahaman di sini Pangeran,’’ kata Putri Rukaia.
‘’Lalu kenapa Anda tidak melakukan perlawanan saat saya membuka tali atasan baju Anda?’’ tanya Pangeran Rodigero.
Dengan wajah tertahan, Putri Rukaia berusaha tersenyum. ‘’Yang saya lakukan ini sudah hak saya sebagai salah satu istri Yang Mulia. Jadi tidak ada kata menjebak atau mengambil keuntungan Pangeran.’’
Wajah Pangeran Rodigero menjadi kusut. Ia sudah tidak bisa menahan efek obat itu lebih lama lagi. Yang ada, ia akan benar-benar meniduri Putri Rukaia. ‘’Tora!’’
Putri Rukaia menoleh saat melihat pria itu. Tora yang melihat situasi dalam langsung terbelalak. Pangeran Rodigero menyuruhnya untuk membawa wanita itu sekarang juga.
‘’Tidak perlu. Saya bisa pergi sendiri Pangeran,’’ kata Putri Rukaia berdiri lalu berjalan pergi.
......................
Keesokan harinya, Pangeran Rodigero memegang tengkuk leher sambil menggerakkannya. ‘’Ah, padahal aku menyuruhnya untuk pelan tapi dia memukulku begitu keras. Tapi hanya itu satu-satunya cara agar obatnya tidak bekerja. Dasar Tora.’’
......................
Kamar Putri Rukaia
Setelah mendengar kabar Raja Raion yang menginap di kamar Ratu Rushi, langsung membuat Putri Rukaia mengamuk bukan main. Apalagi kemarin malam rencananya digagalkan oleh Pangeran Rodigero.
Kepalaku hampir pecah dengan kekacauan yang ditimbulkan Ratu Rushi. Lalu sekarang masalahku tertambah karena harus menghadapi emosi Putri Rukaia. Jika aku disuruh membuat pilihan, aku akan lebih memilih Rushi dibandingkan dirinya. Tapi sayang, karena sepertinya Rushi berada di pihak Raja. Dan untuk menghancurkan Kerajaan Aslan, hanya Putri Rukaia yang bisa membantuku. Tetapi dia tidak memiliki kualitas seorang wanita cerdik seperti Rushi, kata Siruverash dalam hati.
Ia memejamkan mata dengan alis berkerut, karena penghalang mereka bertambah satu yakni Pangeran Rodigero. Ia tidak menyangka akan sang Pangeran akan bertukar tempat dengan Raja Raion dan menyuruh pria itu ke kamar Ratu Rushi.
Tiba-tiba sesuatu muncul dibenaknya membuat Siruverash membuka mata. ‘’Aku akan mengakhiri ini semua.’’