
‘’Di depan kedua mata kami, aku dan kakak menyaksikannya sendiri, bagaimana mereka dengan kejamnya membantai kaum buaya yang tidak bersalah. Tanpa berpikir panjang, aku dan kakak sangat ketakutan sehingga kami melarikan diri dan meninggalkan mereka di belakang yang telah dibantai.’’
Ratu Rushi tidak menyangka setelah mendengar semuanya. Padahal salah satu dari mereka hanya berniat mangantarkan bayi yang sudah meninggal kepada keluarganya. Tapi pamannya dengan keji membunuh Raja sebelumnya dengan mengkambinghitamkan kaum buaya.
Butiran bening langsung mengalir dari sudut mata Ratu Rushi, sambil wanita itu mengepalkan tangan.
‘’Benar-benar kejam. Aku belum pernah bertemu dengan orang sekejam dirinya. Apa yang membuat paman seperti ini?’’
......................
Istana
Siruverash yang duduk di kursi, hanya memandang sebuah lukisan yang sebagian sisinya ditutupi kain. Akhir-akhir ini istana menjadi tenang tanpa adanya kehadiran Raja Raion dan Pangeran Rodigero, yang sedang sibuk mencari Ratu Rushi.
Ia hanya memainkan gelas berisi anggur di tangan tanpa meminumnya. ‘’Anda pasti senang, kan? Saya telah mengirim Ratu Rushi kepadamu. Saat ini, kalian berdua pasti sudah bertemu.’’
‘’Hm … Humphehe … Ahahaha! Hahahaha!’’
Ia terkekeh pelan dengan tawa yang semakin keras menyusul, sampai akhirnya butiran bening mengalir dari sudut matanya.
‘’Zehi mo Nashi(Tidak ada pengampunan lagi),’’ kata Siruverash.
......................
Rawa
Sang buaya tidak menyangka karena Ratu Rushi sampai menangis seolah-olah merasakan rasa sakit yang sama. Dilihatnya wanita itu berdiri sambil mengepalkan tangan.
‘’Sebagai Ratu, aku adalah ibu negeri yang memiliki kewajiban untuk melindungi kalian sebagai keluarga. Akan kupastikan semua orang di Negeri Aslan mendapatkan kedudukan yang sama tanpa ada perbedaan. Aku akan membuat paman dan adik tiriku membayar kejahatan mereka. Ini adalah janjiku!’’
‘’Yang Mulia? Bolehkah saya bertanya?’’
‘’Jika kami ikut dengan Yang Mulia kembali ke negeri seberang, apakah saya dan kakak bisa merasa aman?’’
Wanita yang ditanyai itu terdiam untuk beberapa saat sampai akhirnya menghela nafas disertai senyuman. ‘’Aku mengerti kecemasanmu. Tapi, bisa kupastikan tidak akan ada yang berani mengusik siapapun yang mengikutiku, karena aku berdiri untuk melindungi mereka.’’
‘’Kalau begitu saya bisa pergi dengan tenang. Saya titipkan kakak Wani kepada Yang Mulia,’’ kata sang buaya.
‘’Eh? Apa maksudmu berkata seperti itu? Kau tidak akan mati,’’ kata Ratu Rushi.
Sang buaya memberitahu Ratu Rushi kalau luka bakar yang ia terima dari meriam api, sangatlah dalam sampai tidak melewatkan sedetikpun dirinya tersiksa. Bahkan untuk bernafas pun, rasa sakit dari luka bakar itu seperti mencekiknya.
‘’Meriam itu menembus kulit tebal saya sehingga lukanya sangat dalam di tubuh. Yang Mulia, apakah saya masih boleh bertanya?’’
‘’Tentu saja. Tanyakan sebanyak apa pun yang ingin kau tahu,’’ kata Ratu Rushi.
‘’Sebelumnya, ibu kami selalu menyanyikan sebuah lagu untukku dan kakak. Tapi, semenjak mereka semua tiada, saya sudah tidak pernah lagi mendengar nyanyian. Nyanyian ibu selalu membuat saya merasa di rumah. Maaf jika saya lancang, tapi bisakah Yang Mulia bernyanyi? Mungkin saya bisa merasa seperti di rumah lagi untuk terakhir kalinya sebelum pergi.’’
Ratu Rushi terdiam dengan mata berkaca-kaca. Ia sangat sedih mendengar buaya itu sedang menunggu ajal. Karena tidak ada yang bisa dipakai untuk mengiring lagu, ia hanya meraih pecahan kendi untuk dijadikan gendang. Tangannya mulai memukul dengan nada pelan dan lambat, lalu bernyanyi dengan slowed mode.
‘’Remember when I told you no matter where I go~
I’ll never leave your side, you will never be alone~
Even when we go through chances, even when we’re old~
Remember that I told you I’ll find my way back home….’’
Butiran bening terjatuh dari kelopak mata sang buaya sebelum reptil itu menutup matanya. ‘’Terima kasih, Yang Mulia….’’