
Perang antara kedua ras di Tanah Penghakiman berlangsung hingga malam. Mereka bertarung di tengah-tengah dinginnya cuaca. Bahkan saking dinginnya, terlihat asap yang begitu jelas keluar dari mulut mereka. Tidak ada yang ingin menyerah sampai ada salah satu di antara keduanya ada yang tumbang.
Ratu Rushi terengah-engah begitu juga dengan Siruverash. Keduanya menoleh dan melihat sudah banyak binatang dan manusia yang terkapar di tanah dengan bergelimang darah.
‘’Haa, huhahuha … Jika saja Paman mau menurutiku, mereka semua tidak perlu mati sia-sia,’’ kata Ratu Rushi meringis.
‘’Hahuha, heh … Mereka tidak mati sia-sia. Mereka mati di medan tempur karena mengorbankan diri demi tujuan yang besar. Jasa mereka akan dikenang dalam sejarah,’’ kata Siruverash.
Ratu Rushi menggertak gigi dan kembali menyerang pamannya. Siruverash menangkis serangan itu dengan mudah dan balik menyerang keponakannya.
‘’Kenapa? Kenapa? Kenapa?! Semua rencana yang saya susun selalu bisa digagalkan olehmu! Anda ini hanya seorang wanita!’’ seru Siruverash.
Shin!
‘’Itu karena aku tidak bertarung sendiri. Semuanya bersamaku,’’ kata Ratu Rushi menangkis.
‘’Maksudmu para pengikut sampah yang Anda pungut itu? Heh, memang apa bagusnya dari mereka? Semua pengikut Anda hanyalah binatang lemah dan tidak memiliki kualitas,’’ kata Siruverash.
Ratu Rushi tersenyum remeh. ‘’Untuk melihat kemampuan mereka, dibutuhkan penglihatan yang jelas. Tentu saja … Orang buta tidak akan mengerti hal ini.’’
‘’Rushi!’’ seru Siruverash karena dirinya dihina.
Terdengar jelas suara gesekan dari kedua pedang yang saling beradu. Siruverash yang berusah menyerang dan Ratu Rushi yang berusaha bertahan. Ya, ini seperti adu kekuatan untuk mengetahui mana yang lebih unggul.
‘’Coba pikirkan, kenapa sampai saat ini rencana Paman selalu saja gagal meski menyuruh Washi untuk mengawasiku?’’
Siruverash terdiam untuk sesaat. Ia mengingat ucapan Washi yang menceritakan semua kejadian di Penjara Pengasingan, dan sosok elang misterius yang selalu muncul di waktu tertentu. Tidak butuh waktu yang lama sampai ia langsung tersadar.
‘’Ya … Selama ini Paman diawasi oleh elang peregrine milikku. Bukankah itu kejutan tidak terduga?’’ senyum Ratu Rushi.
‘’Jadi saya sudah diawasi lebih dulu. Ck!’’ kesal Siruverash.
‘’Tuan Siruverash! Pasukan Raja Raion yang seharusnya bersembunyi di sekitar jembatan tidak ada! Selain itu, pasukan tombak berkuda kita dikepung. Bukan hanya itu saja. Salah satu utusam mengatakan kalau Raja Raion masih hidup dan saat ini Kepala Pasukan Divisi Tora melindunginya!’’ kata Washi.
‘’Apa?! Tapi Rukaia bilang dia sudah menghabisi Raja?’’ tanya Siruverash.
‘’Jadi dia benar-benar menghianatiku!‘’ marah Siruverash.
‘’Biar aku koreksi. Rukaia memang berniat menghabisi Raja, tapi aku mencegahnya, dan mengurungnya,‘’ kata Ratu Rushi.
Siruverash terbelalak. ‘’Kalau begitu ... Rukaia yang datang kemarin malam....‘’
‘’Rubah utusanku melakukan perannya dengan baik,‘’ senyum Ratu Rushi.
‘’Ck! Ratu Rushi,‘’ kata Siruverash yang memberi tekanan di akhir kalimat.
‘’Sepertinya Yang Mulia telah mengubah strategi Raja Rai—‘’
Saat itu juga, Taka membenturnya dengan kuat membuat Washi terjatuh menabrak tanah dan langsung berubah menjadi manusia. Siruverash melotot dan mendongakkan kepala, melihat elang peregrine milik Ratu Rushi yang masih terbang seperti biasa.
‘’Rubah utusanku melakukan perannya dengan baik. Selain itu, melawan predator yang memegang status tercepat di udara di dunia, sama saja menggali kuburanmu sendiri ... Washi,’’ tatap Ratu Rushi.
Bugh!
Siruverash mengerutkan dahi melihat sang Ratu melepaskan pelindung kepala dan jubah besi yang menyelimuti dirinya, kecuali di bagian kaki.
‘’Argh~ jubah itu membuatku tidak leluasa untuk bergerak. Selain itu, aku seperti menggunakan pemberat kaki. Beratnya sangat pas,’’ kata Ratu Rushi meregangkan seluruh tubuhnya.
Ia pun melakukan pemanasan sebentar membuat Siruverash mengerutkan dahi.
Sang Ratu melompat-lompat dengan irama sedang untuk menguji berat pelapis besi di kakinya sambil mengepalkan kedua tangan di depan ada. ‘’Ayo akhiri ini dengan cepat.’’
Siruverash menghela nafas panjang sambil menancapkan pedangnya ke tanah. ‘’Melepas semua jubah … Apa Anda meremehkan diriku?!’’
‘’Percayalah, ini satu-satunya cara untuk mengalahkan Paman,’’ kata Ratu Rushi.
‘’Wanita sombong … Kalau begitu matilah dengan tenang!!’’ seru Siruverash menyerang.