Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 106 Spaghetti Marinara



Keesokan harinya, Putri Rukaia terkejut melihat Raja Raion dan Pangeran Rodigero membantu Ratu Rushi memasak bersama ketujuh pengikutnya. ‘’Apa yang terjadi di sini?’’


Bukankah Yang Mulia Raja seharusnya marah kepada Kakak? Sehingga aku bisa memprovokasinya agar menurunkan Kakak dari posisinya. Baru saja kemarin rencanaku berhasil, tapi sekarang sudah gagal lagi, ucapnya dalam hati sambil mengepalkan tangan.


‘’Saya juga sama terkejutnya dengan Anda. Yang Mulia sudah mendapatkan dukungan dari Pangeran Rodigero, para rakyat, Ratu Agung dan sekarang Raja Raion. Kita tidak bisa menundanya lagi dan harus bertindak,’’ kata Siruverash.


‘’Tapi Paman, rencana yang kita susun untuk menyingkirkannya, semuanya digagalkan oleh Kakak. Bagaimana kita akan membalasnya?’’ tanya Putri Rukaia.


Mata Siruverash memicing. ‘’Kemarin saat menyusuri area sekitar, saya menemukan tempat yang sangat pas untuk rencana kita. Saya bertaruh, kali ini kita akan berhasil menyingkirkan Yang Mulia.’’


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya sarapan pagi yang dibuat telah selesai. Semua orang menatap hidangan yang pernah dibuat Ratu Rushi di istana.


‘’Bukankah ini spaghetti waktu itu?’’ tanya Ratu Agung.


‘’Itu benar. Tapi kebetulan kita berada di pinggir pantai, saya menghidangkan spaghetti dengan tema laut. Namanya adalah Spaghetti Marinara,’’ kata Ratu Rushi.


‘’Apakah aku baru saja mendengar Yang Mulia mengatakan menara?’’ tanya Shika.


Yagyu menegurnya untuk tidak menyela saat Ratu Rushi menjelaskan hidangan tersebut.


Ratu Rushi yang melihatnya hanya tersenyum, dan kembali mendeskripsikan hidangan tadi.


Secara harfiah, Spaghetti Marinara berarti spageti pelabuhan. Dimana spageti tersebut ada bermacam ragam makanan laut di dalamnya seperti kerang, udang, kepiting, hingga lobster, yang tidak lupa pula dengan saus tomat. Umumnya, spaghetti ini disajikan di wilayah yang dekat pantai/laut. Itulah mengapa ia menghidangkan spaghetti marinara.


......................


Rawa


‘’Kita akan menyerang Ratu Rushi? Bukankah Kakak bilang kita hanya memiliki urusan dengan Raja Raion dan Siru—‘’


‘’Kau membantah perintahku untuk pertama kalinya?’’ tanya Wani.


‘’Aku tidak berani. Hanya saja, Kakak sendiri yang bilang kalau wanita itu tidak bersalah.’’


‘’Jadi Kakak berpikir, dengan menghabisi Ratu Rushi, maka Raja Raion dan Siruverash juga akan merasakan duka seperti yang kita rasakan?’’


Wani dengan wajah kusut, memicingkan mata. ‘’Itu benar. Tidak ada hukuman yang lebih berat dengan kehilangan keluarga yang kita sayangi.’’


......................


Putri Rukaia menghampiri Ratu Rushi untuk pertama kalinya. Ia meminta kakaknya agar keluar sebentar bersamanya karena ingin membahas sesuatu.


‘’Ada apa?’’ tanya Ratu Rushi ketus.


‘’Saya ingin membicarakan sesuatu kepada Yang Mulia, tapi tidak di tempat ini,’’ kata Putri Rukaia.


‘’Kenapa bukan di tempat ini?’’ tanya Ratu Rushi.


Putri Rukaia sedikit berdecih karena kakaknya itu banyak tanya. Tapi ia harus menahan emosinya untuk memastikan wanita itu setuju.


‘’Masalahnya adalah, Yang Mulia Raja dan Pangeran Rodigero serta para pengikut Yang Mulia selalu berada di samping Anda. Saya tidak ingin mereka mengetahui tentang pembicaraan kita. Jika Yang Mulia berkenan, saya menunggu Anda di sekitar pantai ini tepatnya di sebelah selatan,’’ kata Putri Rukaia.


Sebelah alis Ratu Rushi terangkat sambil menatap adiknya itu.


Apakah ini salah satu rencana dari mereka lagi? Sejak tadi, aku juga tidak melihat paman di sekitar setelah sarapan tadi. Lebih baik aku mengerjainya, ucapnya dalam hati.


‘’Baiklah. Kau boleh pergi menungguku sekarang. Aku akan menyusul setelah urusan di sini selesai,’’ kata Ratu Rushi.


Putri Rukaia membungkuk hampir 90 derajat lalu tersenyum sinis.


Ya. Kakak harus datang, agar aku bisa menyingkirkanmu, ucapnya dalam hati.


Ratu Rushi yang menatap adiknya masih membungkuk juga tersenyum.


Kau bisa menungguku di tengah cuaca dingin selama yang kau bisa, karena aku tidak akan datang menghampirimu, ucapnya dalam hati.