
Begitu pria tadi maju, Ratu Rushi langsung menyamping dan mendorong tubuh kepala sipir menggunakan pisau kaki di bagian perut.
Yeop Chagi, ucapnya dalam hati.
Begitu kaki kanannya mendarat, ia mengangkat kaki kirinya setinggi mungkin, lalu menghempaskannya menggunakan tumit ke arah kepala pria tadi seperti mencangkul.
Deol Chagi, ucapnya dalam hati.
Berselang detik, ia kembali melompat memutar sambil melayangkan tendangan mengait ke arah kepala pria sipir.
Bugh!
Ratu Rushi yang mendarat sambil mengepalkan kedua tangan di depan dada hanya menghembuskan nafas dari mulut. ‘’Dwi Hurigi … Game Over.’’
Ia pun mengambil papan nama kepala sipir yang sudah terkapar di tanah. Semua orang di sana hanya menganga, lalu menelan saliva sambil memasang wajah tegang. Mereka menatap kepala sipir yang saat ini sudah k.o.
‘’Hem! Sepertinya aku terlalu serius tadi. Aku akan menjelaskannya dengan baik kali ini,’’ kata Ratu Rushi.
Kamereon memasang wajah bodohnya setelah melihat cara main yang sebenarnya di babak terakhir tersebut. Ia menganggap Ratu Rushi sebenarnya hanya ingin menghajar kepala sipir itu habis-habisan. Dan seperti yang dilakukan wanita itu tadi, kepala sipir benar-benar dihajar tanpa ampun, sampai membuat pria itu tidak sadarkan diri untuk sementara.
......................
Washi yang sebelumnya bertarung di udara bersama Taka, memilih berubah wujud menjadi manusia, sehingga elang peregrine yang menghadangnya juga ikut berubah wujud.
‘’Setelah di udara, sekarang kau ingin menantangku di daratan?’’ tanya Taka.
Sebelah alisnya terangkat saat melihat Washi mengeluarkan sebuah pisau dibalik saku belakang bajunya.
Taka pun bersiul karena menyadari maksud pria itu.
‘’Kau bersih keras menghadangku, sepertinya hanya dengan menghabisimu barulah aku bisa lewat,’’ kata Washi.
‘’Cih, cih, cih … Majikan dan bawahan tidak ada bedanya. Kalian selalu ingin menghabisi sesuatu yang dianggap penghalang,’’ kata Taka.
Washi yang mendengar ucapan Taka langsung mengerutkan dahi. Mengingat sebelumnya pria di depannya itu juga adalah seekor elang, membuatnya memikirkan serangkaian peristiwa.
Elang ini menampakkan diri hanya sekali lalu menghilang selama satu bulan. Lalu sekarang muncul dan mencegahku. Satu-satunya tempat yang aku tuju hanyalah Penjara Pengasingan. Selama satu bulan ini Ratu Rushi juga hanya diam. Dan selain dirinya, tidak ada yang tahu aku adalah bawahan Tuan Siruverash, ucapnya dalam hati.
Deg!
Ia sedikit tersentak sambil menatap Taka yang masih berdiri santai tidak jauh darinya. ‘’Elang utusan Yang Mulia….’’
Washi berdecih karena terlalu fokus mengawasi Ratu Rushi di Penjara Pengasingan, dan tidak sadar kalau Taka telah memantau pergerakan istana terutama Siruverash. ‘’Aku sudah diberi kepercayaan oleh majikanku. Apa pun yang terjadi, tidak akan kubiarkan kau merusak rencananya.’’
‘’Hee~ kalau begitu aku minta maaf karena akan merusak rencana kalian,’’ kata Taka.
Kedua pria itu langsung berlari menghampiri satu sama lain. Washi yang memegang pisau, mengulurkan tangannya, tapi sayang sekali karena Taka menangkisnya dengan pedang kecil.
Mata Washi membulat. ‘’Pedang itu….’’
......................
Muara Sungai
Wani yang dalam wujud buaya berhenti di depan sebuah tembok besar yang menjulang tinggi ke atas. Kedua pria yang ia bawa mendongakkan kepala.
‘’Kenapa kita berhenti di sini?’’ tanya Yagyu.
‘’Ini jalur pelarianku agar bisa leluasa tanpa ketahuan.’’
Mereka pun langsung mendengar teriakan dibalik tembok tersebut.
‘’Jangan-jangan eksekusinya sudah dimulai!’’ pekik Yagyu.
‘’Satu-satunya cara untuk masuk adalah dengan menghancurkan temboknya. Aku akan menggunakan ekorku untuk membantu kalian ke atas,’’ kata Wani.
Yagyu dan Mozaru pun mengangguk. Keduanya menuju ke arah ekor buaya tadi dan menuruni air sambil berpegang di sana. Setelah menerima sinyal, Wani menampar air dan menghempaskan kedua pria tadi ke atas.
......................
‘’Ya! Kalahkan dia!’’
‘’Wooh! Jangan sampai kalah! Cepat tarik papan namanya!’’
‘’Jatuhkan dia!’’
‘’Kau harus menang!’’
Semua orang meneriaki dua petarung terakhir yang akan menentukan siapa pemenang dari dua tim. Sejauh ini, 99 orang yang bertarung sebelumnya, mereka semua rata-rata seri, sehingga kedua peserta terakhir inilah yang akan menjadi penentu.