Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 113 Makanan



Rawa


Ratu Rushi mengerutkan dahi saat mendengar suara memanggilnya. Samar-samar terdengar seseorang menyuruhnya untuk bangun. Ia pun mengusap kedua matanya. Begitu dirinya bangkit, perutnya langsung bunyi.


‘’Kakak sedang keluar untuk mencarikan makan. Yang Mulia tidak perlu khawatir,’’ kata sang buaya.


‘’Eh? Kau belum berubah menjadi manusia?’’ tanya Ratu Rushi.


Sang buaya mengatakan jika ia kembali ke dalam wujud semula, maka tubuh manusianya tidak akan bisa menanggung luka bakar yang ia terima sehingga pendarahan semakin parah.


Ratu Rushi kembali mengingat tentang pembicaraan kedua buaya itu saat di laut. Ragu-ragu, ia bertanya mengapa mereka begitu membenci Raja Raion sampai ingin balas dendam, apalagi mengikutsertakan Siruverash pamannya.


Untuk sesaat buaya itu terdiam, hingga akhirnya bicara. ‘’Mereka memiliki hutang yang tidak akan pernah bisa dibayar dengan apa pun kecuali nyawa.’’


‘’Memang apa yang sudah paman dan suamiku lakukan kepada kalian berdua?’’ tanya Ratu Rushi.


‘’Kedua pria itu telah mem—‘’


‘’Sudah cukup pembicaraan kalian!’’ kata Wani muncul memotong ucapan.


Ratu Rushi menatap pria yang merupakan kakak dari buaya di depannya. Dilihatnya pria itu membawa kepiting, ikan dan kura-kura dalam jumlah besar.


‘’Kalian predator pemakan manusia dan satwa-satwa besar, kan? Apakah tidak apa-apa mema—‘’


Deg!


Ucapannya terpotong saat pria tadi menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.


‘’Berhenti memanggil kami pembunuh berdarah dingin seperti itu!’’ seru Wani.


Ratu Rushi tersentak dengan wajah cemas. ‘’A-Aku tidak pernah memanggil kalian pembunuh berdarah dingin seperti itu. Maaf kalau ucapanku menyinggung kalian.’’


‘’Kakak, sudahlah. Yang Mulia sudah bilang tidak bermaksud menyinggung kita,’’ kata sang buaya.


‘’Tapi dia menyebut kita sebagai pemakan manusia seperti paman dan suaminya!’’ marah Wani.


Ratu Rushi kembali tersadar setelah mendengar ucapan pria itu. ‘’Tunggu, ada apa sebenarnya dengan suami dan pamanku? Kalian juga mengatakan ingin membalas dendam kepada mereka. Memangnya apa yang sudah mereka lakukan kepada kalian?’’


Dengan wajah tertahan, Wani menatap Ratu Rushi dengan sorot mata penuh kebencian. ‘’Kau tidak perlu ikut campur dengan urusan kami.’’


‘’Tapi kalian memiliki urusan dengan keluargaku, apalagi sudah menculikku. Sekarang aku memiliki alasan untuk mengetahuinya,’’ kata Ratu Rushi.


Namun Wani tidak mendengar dan menegur adiknya untuk tidak memberitahu apa pun kepada Ratu Rushi.


‘’Ini makanan untukmu!’’ kata Wani menyerahkan beberapa kepiting dan ikan.


‘’Bagaimana aku memakan hewan yang masih dalam keadaan hidup seperti ini?’’ tanya Ratu Rushi.


‘’Terserah padamu. Aku tidak peduli,’’ kata Wani.


‘’Eish … Yak! Aku ini hanya manusia biasa, berbeda dengan kalian yang bisa memakannya secara langsung. Heh, seriously? How do eat it unprocessed?’’ gerutu Ratu Rushi.


‘’Kau ini sangat cerewet sekali. Sejak tadi kau mengatakan, apa sih? Tidak ada daun sirih di sini!’’ kesal Wani.


Ratu Rushi menghela nafas panjang. Ia pun berdiri dan berjalan keluar.


‘’Hei, kau tidak bisa kabur dari sini,’’ kata Wani.


‘’Tidak ada yang mau kabur! Aku hanya ingin mencari kayu untuk mengolah kepiting dan ikan itu. Barulah aku layak memakannya. Don’t follow me! Shitsurei shimasu(Permisi),’’ kata Ratu Rushi.


Wani hanya berdecih sambil menggaruk kepala belakangnya. ‘’Wanita itu mengatakan apa sejak tadi, sih? Apakah dia tidak menguasai tata bahasa dengan baik? Padahal dia seorang Ratu.’’