Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 114 Metode



Istana


Kepala pelayan Eris dan semua pelayan serta prajurit menyambut kedatangan Ratu Agung bersama yang lainnya. Seperti yang dikatakan Washi tadi, mereka benar-benar kembali ke istana. Meskipun begitu, orang-orang di istana bingung karena tidak melihat sosok Raja Raion, Ratu Rushi dan Pangeran Rodigero.


Ratu Agung hanya memerintahkan mereka untuk bubar setelah kepulangannya, dan menuju ke kediaman. Siruverash dan Putri Rukaia juga hanya menurut dan kembali ke ruangan masing-masing. Para pelayan dan prajurit juga kembali ke posisi mereka masing-masing.


‘’Kenapa Yang Mulia dan Pangeran Rodigero tidak ikut bersama mereka?’’ tanya Zena.


‘’Tidak mungkin kalau ketiganya masih tetap liburan, sedangkan Ratu Agung dan yang lainnya kembali ke istana,’’ kata Riaz.


‘’Washi juga tidak mengatakan apa pun kepada kita selain kepulangan mereka,’’ kata Nero.


‘’Wajah Perdana Menteri juga terlihat sangat serius. Apakah terjadi sesuatu?’’ tanya Eris.


‘’Aku bisa merasakan tekanan yang sangat berat begitu Ratu Agung datang tadi. Dengan tidak adanya keberadaan ketiga orang penting itu, sepertinya Ratu Agung menyembunyikan sesuatu. Selain itu, Hana pelayan setia Ratu Rushi juga tidak ikut bersama mereka untuk kembali ke istana,’’ kata Aruse.


......................


Desa


Licy yang membersihkan piring seperti biasa masih termenung karena kejadian tadi. Begitu mendengar kabar kepulangan Yang Mulia, membuatnya bersemangat keluar untuk menyambut kedatangannya. Namun, ia bingung saat mendengar para warga berbisik mengenai Raja Raion, Ratu Rushi dan Pangeran Rodigero yang tidak ada bersama rombongan tersebut.


Ada apa ini? Kalau Ratu Agung telah kembali, lalu kenapa Yang Mulia tidak ada? Selain itu, Kitsune juga tidak kembali kemari, ucapnya dalam hati.


Bukan dirinya saja, tapi keluarga rubah itu juga merasa aneh dan cemas karena Kitsune tidak kembali.


‘’Semoga saja Yang Mulia Raja dan yang lainnya baik-baik saja,’’ kata Ayah Kitsune.


Entah kenapa, Licy yang mendengarnya juga ikut sedikit cemas. Ia pun hanya berdoa untuk keselamatan Raja Raion dan yang lainnya.


......................


Rawa


Wanita itu menghampiri sang buaya dan menyuruhnya untuk membuat lubang di bagian tengah papan kayu dengan mengigitnya.


Setelah itu, Ratu Rushi meletakkan papan kayu sebagai alas dan memasukkan batang kayu menyerupai panah ke dalam lubang tadi dan memutar porosnya dengan telapak tangan. Tidak lupa, ia juga menambahkan rumput kering sebagai sumbunya.


‘’Kakak, sebenarnya apa yang dilakukan Yang Mulia?’’


‘’Aku juga tidak tahu. Dia hanya terus memutar kayu itu tanpa berhenti,’’ kata Wani.


Cukup lama Ratu Rushi bertahan untuk memutar poros, sampai akhirnya percikan api keluar. Wani yang melihatnya tadi langsung terkejut, begitu juga dengan sang buaya.


‘’Kau memiliki kekuatan api?!’’


Ratu Rushi memasang wajah bodoh. ‘’Ini hanya metode dari zaman kuno. Karena tidak ada pemantik dan di sekitar sini juga dominan air. Jadi aku menggunakan metode ini.’’


‘’Tapi bagaimana api itu bisa muncul dari kayu?’’ tanya Wani.


‘’Kuncinya ada pada rumput kering ini karena sifatnya yang mudah terbakar. Apalagi tidak ada angin kencang di dalam goa, sehingga sangat mudah membuat api,’’ kata Ratu Rushi.


Ia pun meletakkan pecahan kendi di atas tumpukan kayu bakar sebagai wajan. Lalu menuangkan air dan menunggunya sampai mendidih. Selanjutnya memasukkan kepiting dan ikan ke dalam rebusan air.


Wani yang melihat kepiting dan ikan itu direbus dalam air panas hanya melongo.


Dia membakar kepiting dan ikan itu hidup-hidup, ucapnya dalam hati.


Tidak lama kemudian, kepiting dan ikan tadi sudah mati membuat Ratu Rushi membersihkan dan mengeluarkan bagian-bagian yang tidak layak dimakan.


Sekali lagi, Wani yang menyaksikannya hanya melotot sambil menelan saliva.


Setelah membakarnya hidup-hidup, sekarang dia mengeluarkan dan memotong sebagian tubuh kepiting dan ikan itu. Wanita ini lebih menyeramkan dibandingkan pemburu di luar sana, ucapnya dalam hati.