Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 138 Eksekusi



Elang peregrine tadi mendarat di halaman penghancur batu dan langsung menjadi manusia. Semua orang yang melihatnya hanya berbisik-bisik.


‘’Kenapa kau ada di sini? Kalau ketahuan Washi, kau akan dalam masalah,’’ kata Ratu Rushi.


‘’Justru Yang Mulia dan semua orang di sini yang dalam bahaya sekarang!’’ kata Taka.


Wani dan Kamereon mengerutkan dahi tanda bingung, begitu juga dengan Ratu Rushi dan yang lainnya.


‘’Apa maksudmu?’’ tanya Ratu Rushi.


‘’Elang kasar itu akan kembali dan melakukan eksekusi massal kepada semua orang di tempat ini.’’


Deg!


Semua orang di sana terkejut bukan main dengan mata membulat besar. ‘’Apa?!”


Taka membenarkan reaksi mereka. Selama satu bulan ini, ia mengawasi pergerakan di istana sesuai perintah Ratu Rushi.


Flashback on


Elang peregrine yang bersembunyi di mahkota pohon, memantau setiap pergerakan di istana. Tidak lama kemudian, ia melihat seekor elang datang dan menuju ke salah satu sisi bangunan istana. Tanpa elang itu sadari, Taka mengikutinya secara diam-diam.


Dilihatnya elang tadi berubah menjadi manusia dan berlutut di depan seorang pria yang berdiri di depannya.


‘’Tuan Siruverash memanggil hamba?’’ tanya Washi.


‘’Sudah satu bulan kau mengawasi Penjara Pengasingan. Bagaimana kabar Ratu Rushi? Apakah wanita itu membuat ulah lagi di sana?’’ tanya Siruverash.


Washi menggeleng dan melaporkan bahwa Ratu Rushi hanya tenang tanpa melakukan pergerakan apa pun. Selama satu bulan ini, wanita itu tidak pernah membuat masalah atau berusaha melarikan diri dari sana.


Siruverash tersenyum remeh. Ia tahu kalau keponakannya itu tidak akan diam tanpa sebab. Sudah berulang kali, ia melihat kelicikan keponakannya yang satu itu, membuatnya yakin kalau Ratu Rushi pasti sedang merencanakan sesuatu.


Ya, meskipun memang benar kalau wanita itu memang memerintahkan elang pengikutnya untuk mengawasi istana, tanpa sepengetahuan mereka. Sangat lucu melihat Siruverash yang mengawasi Ratu Rushi malah diawasi balik oleh keponakannya itu, wkwk. Lanjot!


Washi yang dalam posisi berlutut membungkuk, hanya menganggukkan kepala.


Mata Siruverash memicing. ‘’Sebelum matahari terbit besok, segera eksekusi Yang Mulia serta semua orang yang telah melihat wajahnya!’’


Tanpa membuang waktu, Taka yang menguping tadi langsung bergegas pergi.


Flashback off


Tangan Wani mengepal sambil menggertak gigi. ‘’Siruverash....’’


‘’Sebelum itu terjadi, aku harus membawa Yang Mulia segera pergi dari tempat ini. Aku akan menuntun Yang Mulia sambil mereka semua mengalihkan perhatian,’’ kata Taka.


Namun, semua orang di sana malah menghampiri Ratu Rushi untuk memegang kakinya sambil bersujud ke tanah. Mereka memohon kepada wanita untuk ikut bersamanya karena tidak ingin mati.


‘’Aku tidak bisa meninggalkan mereka. Semua orang di tempat ini tidak melakukan kesalahan. Mereka hanya dibuang karena telah berani melawan perintah pamanku,’’ kata Ratu Rushi.


‘’Tapi Yang Mulia, kita tidak bisa membuang waktu banyak lagi!’’ desak Taka.


Ratu Rushi menjadi gusar karena sebentar lagi ia akan benar-benar dieksekusi di tempat tersebut, tapi di sisi lain ia juga tidak bisa meninggalkan semua orang yang masih memelas dan bersujud di tanah. Ia menatap ke sekeliling kastil yang merupakan penjara tersebut.


Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu membuatnya memiliki ide. ‘’Taka, kau ingin membawaku keluar, kan? Kalau begitu jangan bawa aku … Tapi bawa Wani!’’


‘’Apa? Tapi kenapa harus Wani?’’ tanya Taka.


‘’Dibalik tembok ini ada muara sungai besar yang pasti terhubung tembus ke pelosok negeri,’’ jawab Ratu Rushi.


‘’Memangnya aku akan ke mana dengan mengikuti hilir sungainya?’’ tanya Wani.


Ratu Rushi tersenyum. ‘’Jika dugaanku benar, hilir sungai ini akan membawamu kepada Duo Tanduk Liar. Setelah bertemu dengan mereka, bawa tentara terkuat itu kepadaku!’’