Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 153 Pengakuan



Raja Raion berhenti sejenak sambil mengatur nafasnya. Ia menatap ke sekitar dengan nafas terengah-engah. Tadinya ia mengejar Ratu Rushi, dan entah kenapa wanita itu tiba-tiba hilang.


Padahal beberapa menit yang lalu, ia masih melihat Ratu Rushi. ‘’Wanita itu, larinya cepat juga. Kenapa aku tidak berubah menjadi singa saja saat mengejarnya tadi?’’


Ia pun menarik nafas dan kembali menyusuri istana untuk mencari Ratu Rushi.


Tanpa disadari sang Raja, Ratu Rushi yang bersembunyi dibalik pintu menampakkan diri. Wanita itu juga terengah-engah sambil menyangga kedua tangannya di pinggang. ‘’Eish, dia benar-benar tipe pria yang pantang menyerah.’’


Ia pun berbalik untuk pergi ke arah yang berlawanan. Saat itu juga, ia terhenti saat melihat salah satu pelayan sudah berdiri di depannya. Pelayan itu membungkuk memberi hormat sebelum menyerahkan sebuah gulungan kertas.


‘’Dari siapa?’’ tanya Ratu Rushi.


‘’Pangeran Rodigero Yang Mulia,’’ jawab pelayan tadi.


Ratu Rushi mengerutkan dahi lalu mengambil gulungan itu dan pelayan tadi membungkuk sebelum pergi. Ia pun membaca isi surat tersebut.


......................


Pavilion


Ratu Rushi menatap pavilion dengan gaya Tiongkok di sekitar muara sungai di belakang istana. Ia juga melihat Pangeran Rodigero sudah ada di sana, yang sepertinya memang ingin bertemu.


Pangeran Rodigero yang menatap aliran muara sungai langsung berbalik, begitu menyadari seseorang datang. Ya, dilihatnya Ratu Rushi sudah berdiri di belakangnya.


‘’Jadi, ada urusan apa Pangeran Rodigero memanggilku?’’ tanya Ratu Rushi.


Eh? Bukankah Yang Mulia yang mengirimiku pesan untuk bertemu di sini. Lalu kenapa bertanya seolah-olah saya yang memanggilnya? Jangan-jangan ada seseorang yang membuat kami bertemu dengan alasan saling memanggil. Orang yang berani melakukan hal ini seharusnya tidak lain adalah perdana menteri, kata Pangeran Rodigero dalam hati.


‘’Pangeran Rodigero?’’ panggil Ratu Rushi.


Ia pun tersenyum dan mempersilahkan Ratu Rushi untuk duduk terlebih dahulu. ‘’Semenjak Yang Mulia kembali, saya tidak pernah memiliki waktu untuk menghampiri Anda. Kakak akan menghukum Yang Mulia jika dia melihat kita bersama di istana.’’


‘’Aa~ benar juga. Aku masih ingat hari itu saat dia mengurungku di dalam kamar,’’ kata Ratu Rushi.


‘’Saya benar-benar merasa senang karena Yang Mulia masih hidup,’’ senyum sendu Pangeran Rodigero.


Ratu Rushi yang melihatnya merasa tidak tega dengan pria itu. Kenapa tidak, jiwa yang ada di dalam tubuh tersebut bukan lagi jiwa dari sang Ratu. Ia tidak bisa menanggung rasa bersalah di dalam hatinya terus. ‘’Pangeran Rodigero masih ingat percakapan kita saat di rumah makan?’’


‘’Maksud Yang Mulia, waktu Anda berniat memberitahuku sesuatu tapi dihentikan oleh para pengikut itu?’’ tebak Pangeran Rodigero.


‘’Itu benar. Mungkin inilah saat yang tepat untuk memberitahumu,’’ kata Ratu Rushi.


‘’Baiklah kalau begitu. Silahkan katakan, saya akan mendengarnya,’’ kata Pangeran Rodigero.


Ratu Rushi terdiam untuk sesaat. Ia bahkan mengepalkan tangan karena merasa ragu, membuat pria di depannya itu mengerutkan dahi. Ia menarik nafas dalam-dalam sambil menatap Pangeran Rodigero. ‘’Aku sebenarnya tidak seperti yang kau lihat. Aku … Bukanlah Ratu Rushi.’’


Deg!


Pangeran Rodigero tersentak untuk sesaat hingga akhirnya tertawa. Ia memuji Ratu Rushi karena wanita itu sangat pintar bercanda.


‘’Aku tidak main-main. Jiwa yang ada di dalam tubuh ini bukanlah jiwa sang Ratu,’’ kata Ratu Rushi.


Melihat keseriusan terpancar di wajah Ratu Rushi, membuat Pangeran Rodigero berhenti tertawa. Ia bahkan bisa melihat tidak ada kebohongan di dalam kedua mata wanita itu, membuatnya mulai merasa tidak nyaman. ‘’Kalau di hadapan saya saat ini bukanlah Ratu Rushi, lalu Anda siapa?’’


Ratu Rushi terdiam untuk sesaat. ‘’Aku datang dari masa depan. Namaku … Anna.’’