Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 161 Mewujudkan Janji Part 2



Ratu Rushi hanya menurut saja dengan wajah bingung sambil mengulurkan tangan kanannya. Tangan Kamereon sampai gemetar hanya karena menyentuh tangan sang Ratu.


Manusia setengah bunglon itu merasa seperti sedang bermimpi saja bisa berjabat tangan dengan Ratu Rushi.


‘’Hiks! Hiks! Akhirnya aku dan Yang Mulia berjabat tangan,’’ tangis haru Kamereon.


U-Um, tanganku hanya tangan manusia biasa bukan dewa pembawa keberuntungan. Kau tidak perlu menangis seperti itu, kata Ratu Rushi dalam hati dengan wajah bodohnya.


Kamereon menatap kedua tangannya sambil mengangkatnya ke atas. ‘’Akhirnya … Wuahahahahaha! Buahahahaha! Akhirnya!’’


Ratu Rushi tersenyum dengan wajah kaku. ‘’Apa yang membuatnya begitu heboh? Caranya tertawa seperti tokoh antagonis di dalam film saja.’’


Ia pun menatap ketiga pria yang duduk tenang sambil menatap semua orang yang bersenang-senang. Ya, tiga pria tenang yang tidak lain adalah Wani, Mozaru dan Kitsune yang tersisa, dan memulainya dari manusia setengah buaya air asin.


Wani yang duduk bersila terdiam untuk sesaat sambil menatap Ratu Rushi. ‘’Lagu yang pernah didengar oleh adikku dari Yang Mulia, aku ingin Anda menyanyikannya juga untukku.’’


Ratu Rushi langsung terbelalak dan kembali teringat akan hari itu. Mendengar Wani memintanya untuk bernyanyi, membuat yang lainnya langsung merapat dan duduk bersila.


‘’Ambilkan gitarku,’’ pintanya.


Wanita itu mulai melakukan fingerstyle slowed mode dan bernyanyi dengan nada lambat.


‘’Remember when I told you no matter where I go~


I’ll never leave your side, you will never be alone~


Even when we go through chances, even when we’re old~


Remember that I told you I’ll find my way back home….’’


Butiran bening terjatuh dari sudut mata Wani. ‘’Terima kasih, Yang Mulia….’’


Ratu Rushi tersentak karena adegan itu, air mata itu dan kalimat itu sama persis yang terjadi dimana sang adik dari buaya itu meninggal.


Semua yang mendengarnya juga merasa tersentuh dan mata mereka berkaca-kaca.


Wanita tadi pun beralih ke Mozaru yang duduk di sampingnya. Awalnya manusia setengah badak itu bingung untuk meminta sesuatu kepada Ratu Rushi. Tapi setelah tadi, ia pun memiliki permintaan.


‘’Saya ingin Yang Mulia menyanyi sekali lagi untuk kami semua,’’ kata Mozaru.


Ratu Rushi tersenyum dan kembali memainkan gitarnya. Ia lebih menyukai lagu yang slowed daripada yang cepat, membuatnya memainkan salah satu yang terlintas dibenaknya.


‘’I don’t say a word~


But still, you take my breath and steal the thing’s I know~


There you go, saving me from out of the cold….


‘Cause when you unfold me and tell me you love me~


And look in my eye….


You are perfection, my only direction~


It’s fire on fire….’’


Kedua belas orang itu langsung bertepuk tangan setelah Ratu Rushi selesai bernyanyi. Mereka memuji sang Ratu karena selain bisa memasak dan bela diri, ternyata juga bisa menyanyi semerdu tadi. Semua merasa takjub dan menganggap Ratu Rushi sebagai penyanyi yang hebat.


‘’Ahaha! Kedua lagu itu bukan aku yang menciptakannya, tapi orang lain. Lagu pertama yang aku nyanyikan untuk Wani berjudul Way Back Home, single yang dipopulerkan DJ, penyanyi, dan penulis lagu asal Korea Selatan, SHAUN(Kim Yun Ho). Sedangkan yang aku nyanyikan barusan berjudul Fire on Fire. Lagu itu ditulis bersama oleh Sam Smith dan Steve Mac untuk sebuah film adaptasi Netflix dari novel Watership Down,’’ kata Ratu Rushi.


Meski ada sebagian kalimat yang tidak dimengerti dari ucapan wanita itu, para pengikutnya hanya mengangguk mengerti. Kini orang terakhir yang ditanyai permintaannya adalah Kitsune.


‘’Sebelumnya hamba selalu bersama keluarga di rumah makan. Tapi hamba harus mengikuti Yang Mulia atas perintah orangtua. Kalau tidak keberatan, bisakah Yang Mulia mengelus kepala hamba sebentar saja seperti mereka?’’ pinta Kitsune.


Ratu Rushi mengangguk sambil tersenyum membuat Kitsune berubah menjadi seekor rubah. Lalu menghampiri sang Ratu dan menelungkup di depannya.


Tangan sang Ratu pun mengelus kepala rubah, membuat Kitsune teringat dengan kedua orangtuanya.


Tidak lama kemudian, seorang pelayan datang membuat semuanya menoleh. Ratu Rushi yang melihat pelayan tadi membawa sebuah gulungan langsung memicingkan mata.