Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 64 Ketan Merah



Sebelah alis Ratu Rushi terangkat sambil tersenyum.


‘’Hentikan sandiwara Anda! Aku tidak percaya Anda memanfaatkan mereka untuk kembali ke istana. Tindakan ini tidak bisa ditolerir!’’ seru Ratu Agung.


Burung phoenix hendak menyemburkan api, dan di saat bersamaan seekor singa berlari sekencang mungkin sambil mengaum. Melihat sang singa muncul di depan Ratu Rushi, membuat burung phoenix tadi mengalihkan semburan apinya ke arah lain.


Ratu Rushi juga sedikit terkejut melihat singa itu melindunginya. Ia menatap singa dan burung phoenix secara bergantian yang sedang bicara di depannya. Namun, karena tidak ada ujung dari perdebatan itu, membuat Raja Raion tidak punya pilihan lain.


‘’Aku mengundurkan diri sebagai Raja, atau Ratu Rushi kembali ke posisinya?’’


Deg!


Tentu saja semua orang akan terkejut begitu mendengarnya. Burung phoenix tadi kembali menjadi Ratu Agung. Tanpa mengatakan apa pun, wanita tadi kembali ke tempatnya dengan wajah tertahan.


Ratu Rushi tersenyum menyaksikan semua orang tidak berdaya karena ancaman Raja Raion. Dengan percaya diri, sambil ditemani seekor singa, ia berjalan menghampiri petinggi yang masih memegang mahkota.


Begitu tiba di depan petinggi, sang singa memerintahkan untuk meletakkan mahkota itu di kepala Ratu Rushi. Tanpa membuang waktu, petinggi hanya menurut.


Ratu Rushi yang sedikit merendahkan tubuh, tersenyum sambil menoleh ke arah Putri Rukaia. Sudah jelas, wajah Putri Rukaia saat ini sudah merah padam bukan main. Tapi, wanita itu menahannya di depan semua orang, terutama Raja Raion. Sedangkan Siruverash, ia mengepalkan tangan tanpa peduli darahnya keluar menetes.


Setelah mahkota kembali terpasang di kepalanya, Ratu Rushi berdiri dan menatap semua orang. ‘’Sebagai Ratu yang sah, aku menolak pengajuan ini! Perkataanku mutlak. I’m the real Queen!’’


‘’Kalian dengar itu?! Perkataan Yang Mulia mutlak! Ayam di rel koin!’’ teriak Shika.


‘’A-Ayam di rel koin?’’ bingung Putri Rukaia.


Yagyu dan yang lainnya tidak peduli dan tetap teriak dengan penuh semangat. Melihat keempat pria itu, semua orang juga ikut berteriak.


‘’Ayam di rel koin!’’


‘’Ayam di rel koin!’’


Ratu Rushi tersenyum dengan wajah bodoh tertekan. ‘’Mereka begitu semangat meneriaki kalimat yang jelas-jelas sangat salah.’’


Padahal suasananya sudah sangat bagus, tapi mereka? Haa, ucapnya dalam hati.


Terukir senyuman di bibir sambil dirinya menghela nafas. ‘’The real of baka ningen.’’


Putri Rukaia dengan wajah tertahan, langsung meninggalkan aula, begitu juga dengan Siruverash. Ratu Rushi yang melihatnya tidak peduli, dan hanya tersenyum.


......................


Kediaman Ratu Agung


‘’Saat ini sedang musim dingin. Tidak baik berada di luar begitu lama. Saya juga membawa oleh-oleh untuk Ratu Agung,’’ kata Ratu Rushi.


‘’Heh! Saya tidak butuh apa pun dari Anda. Tidak ada yang tahu, apakah ada racun di dalamnya atau tidak,’’ kata Ratu Agung.


‘’Kalau begitu, berikan saja kepada saya,’’ kata Pangeran Rodigero.


Ratu Agung menolak dan hendak menyuruh prajurit untuk membawa kotak itu keluar. Namun, Pangeran Rodigero dengan cepat merebutnya.


‘’Aku ingin memakannya,’’ kata Pangeran Rodigero mode imut.


‘’Prajurit! Segera panggil tabib kerajaan! Jika Pangeran Rodigero keracunan, dia harus segera menanganinya,’’ perintah Ratu Agung.


Pangeran Rodigero membuka kotak itu sambil Raja Raion menunggu.


‘’Eh~ padahal aku sudah bersusah payah membuatnya. Kalau begitu, ketan merahnya hanya terbuang sia-sia,’’ kata Ratu Rushi.


Mendengar kata ketan merah, langsung membuat Ratu Agung curi-curi pandang.