
2 jam kemudian…
Semua orang berkumpul menikmati camilan yang dibuat Ratu Rushi. Sedangkan wanita itu tidak henti-hentinya selalu menatap keluar. Mengingat dirinya menyuruh Putri Rukaia pergi, membuatnya juga merasa cemas.
Dia belum kembali. Jika ini memang konspirasi, seharusnya dia sudah kembali karena aku tidak datang, ucapnya dalam hati.
Begitu melihat Siruverash datang, membuat Ratu Rushi tersenyum remeh, karena pamannya itu pasti tidak tahan menunggu bersama Putri Rukaia.
‘’Siruverash, bukankah sudah saya bilang, Anda tidak perlu mencari kayu bakar bersama Tora. Masih ada prajurit lainnya yang bisa melakukan hal itu,’’ kata Ratu Agung.
‘’Tidak apa-apa Ratu Agung. Sebagai Perdana Menteri, sudah kewajiban hamba memastikan kayu mana yang cocok untuk menghangatkan semua orang,’’ kata Siruverash.
Apa? Paman keluar karena mencari kayu bakar? Kalau begitu, dia tidak bersama Rukaia sejak tadi. Itu berarti saat ini Rukaia memang benar-benar menungguku, kata Ratu Rushi dalam hati.
Siruverash yang tersenyum, langsung terbelalak melihat Ratu Rushi masih ada di dalam tenda.
Ratu Rushi masih ada di sini? Itu berarti Rukaia belum melakukan rencana yang aku suruhkan kepadanya. Cih! Anak itu, ucapnya dalam hati.
Namun, melihat Ratu Rushi bergegas keluar membuat Siruverash mengurungkan niat untuk pergi tadi.
Apakah sudah dimulai? Kenapa dia menunggu terlalu lama untuk melakukannya? Seharusnya dia sudah menyelesaikannya setelah aku kembali. Tapi tidak apa-apa. Aku akan menunggu sedikit lebih lama, ucapnya dalam hati.
......................
Bagian Selatan Pantai
Putri Rukaia berjongkok sambil menggigil bukan main. Bahkan terlihat jelas asap keluar dari mulutnya saking dinginnya. ‘’Kenapa dia lama sekali? Memangnya dia mengurus apa sampai menghabiskan waktu 2 jam? Ergh, kakak….’’
Di sisi lain, dua predator yang melihat Ratu Rushi berjalan ke arah selatan pantai, mengikuti wanita itu.
‘’Eish! Paman dan keponakan selalu saja membuatku kerepotan! Meski tidak menyukai Rukaia, dia tetap adalah adikku. Aku membayangkan bagaimana jika Mark yang berada di posisinya. Adik laki-lakiku itu pasti sangat kedinginan karena menungguku. Ck! Jika bukan karena teringat Mark, aku tidak akan menghampiri Rukaia ini,’’ gerutu Ratu Rushi.
Tidak lama kemudian, Ratu Rushi melihat Putri Rukaia yang berjongkok sambil menggigil di sekitar sungai tembusan air laut. Ia pun bergegas menghampiri wanita itu.
Putri Rukaia yang melihat kakaknya sudah datang, langsung berdiri dengan wajah kesal. ‘’Kenapa kau baru datang! Aku sudah menunggu selama 2 jam!’’
Tapi karena terlalu dingin, membuatnya kembali berjongkok sambil menyelimuti dirinya dengan mantel.
Ratu Rushi yang melihatnya hanya menghela nafas panjang. ‘’Sejak awal aku tidak pernah berjanji untuk datang.’’
‘’Kau?! Ssttt, sangat dingin,’’ kata Putri Rukaia menggigil.
‘’Aku sudah datang. Kau ingin bicara apa kepadaku?’’ tanya Ratu Rushi.
Putri Rukaia berdecih dan meluapkan semua kekesalannya kepada wanita itu. Kenapa dia harus kembali ke istana? Kenapa dia harus mendapatkan dukungan semua orang? Kenapa dia tidak tinggal di dalam pengasingan saja dan menunggu kematiannya? Kenapa dia mencegahnya yang hampir menjadi seorang Ratu? Dan kenapa dia membuat banyak perubahan di dalam istana? Semua uneg-unegnya dikeluarkan.
‘’Karena aku tidak akan membiarkan Kerajaan Aslan jatuh sebagai akhir Era Narunia.’’
Putri Rukaia yang mendengarnya sedikit mematung. ‘’Heh, kau berpikir aku berambisi menjadi Ratu karena ingin menciptakan kekacauan?’’
‘’Itu karena kau memang adalah alasan jatuhnya Kerajaan Aslan,’’ kata Ratu Rushi tanpa ragu.
‘’Heh? Ehe … Kakak, karena kita sesama wanita, kau seharusnya tahu kalau aku sangat mencintai Raja Raion. Itulah kenapa aku berambisi menjadi Ratu, agar dia bisa melirikku,’’ kata Putri Rukaia.
‘’Dengan cara menyingkirkanku? Rukaia, aku bisa saja melepaskan posisiku sebagai Ratu dan menyerahkannya kepadamu tanpa ragu. Tapi, setelah konspirasi yang kau lakukan bersama paman … Bahkan jika kau mengorbankan nyawamu, aku tidak akan menyerahkan posisi Ratu!’’ tegas Ratu Rushi.
Putri Rukaia menggertak gigi dengan mata memanas. ‘’Kau wanita keji!’’
‘’Kita memiliki hubungan darah. Itu berarti kau dan paman juga sama kejinya,’’ senyum Ratu Rushi.