
Istana
Sebelah alis Siruverash terangkat sambil menoleh yang disertai senyuman miring. ‘’Benarkah? Jadi Pangeran Rodogero yang melakukan semua ini, dan Ratu Rushi telah mengetahuinya? Heh, wah? Aku benar-benar dikejutkan.’’
‘’Seperti yang hamba katakan, semua warga masih belum menerima keberadaan Ratu Rushi. Dan dia sendiri menyuruh mereka semua pergi begitu juga dengan Pangeran Rodigero,’’ kata Washi.
‘’Kalau begitu, aku tidak perlu bertindak lagi. Ratu Rushi sangat bodoh karena mengusir Pangeran Rodigero. Sekarang, tidak ada satu orang pun yang akan menghampirinya. Ah~ keponakanku yang malang, bagaimana kau akan bertahan ke depannya? Humphehe,’’ kekeh Siruverash.
Ia memerintahkan Washi untuk tidak perlu mengawasi Ratu Rushi lagi, karena sudah tahu apa yang akan terjadi kepada wanita itu.
......................
Keesokan harinya…
Kamar Raja
Tora berdiri di sudut ruangan untuk menemani Raja Raion seperti biasa. Namun, dahinya berkerut melihat pria itu sepertinya tidak bisa tenang, sampai akhirnya Raja Raion langsung berdiri.
‘’Aku mengerti ibu mendukung Pangeran Rodigero karena tidak tahu, kalau wanita yang disukai Rodigero adalah wanita bersuami. Sudah satu minggu, selama Pangeran Rodigero keluar istana. Tora! Segera siapkan baju biasa dan kuda untukku! Aku akan menyusul Pangeran Rodigero,’’ perintah Raja Raion.
‘’Sesuai perintah Yang Mulia,’’ kata Tora membungkuk sebelum bergegas.
Raja Raion berjalan menuju ke balkon, dan menatap ke arah desa. Mengingat dirinya akan menyusul sang adik, membuatnya mengingat kalau sosok Ratu Rushi juga berada di desa. Tapi, hal itu tidak membuatnya terganggu. Ia hanya ingin menghampiri Pangeran Rodigero.
......................
Kediaman Ratu Agung
Seperti biasa, Putri Rukaia sering berkunjung untuk membuat Ratu Agung semakin menyukainya. Ia bahkan tidak ragu membawa cemilan secara langsung kepada wanita tersebut, agar pandangan mengenai dirinya semakin lebih baik.
‘’Putri Rukaia, Anda datang lagi? Bukankah sudah kubilang, perintahkan para pelayan saja untuk membawanya kemari. Kenapa Anda harus repot-repot?’’ tanya Ratu Agung.
‘’Anda juga sudah seperti putri kandungku. Andai saja kakakmu seperti dirimu, maka dia tidak perlu mencoreng nama istana. Kenapa aku tidak menikahkan dirimu saja dengan Yang Mulia waktu itu, dan bukan dengan kakak Anda,’’ kata Ratu Agung.
Heh, wanita bodoh ini sangat mudah dipengaruhi hanya dengan kata-kata manis. Aku hanya perlu mengambil hatinya terus agar bisa mencapai tujuanku, kata Putri Rukaia dalam hati.
Ceklek!
Muncul sosok Raja Raion membuat kedua wanita itu menjadi senang. Tapi tidak lama kemudian, keduanya mengerutkan dahi melihat pakaian pria itu.
‘’Yang Mulia mau ke mana?’’ tanya Ratu Agung.
Raja Raion menatap Putri Rukaia sekilas, lalu kembali menatap ke arah ibunya. ‘’Saya akan keluar istana untuk berburu seperti biasa. Jadi saya datang untuk memberitahu Ratu Agung.’’
Wajah Putri Rukaia langsung berubah, begitu mengetahui Raja Raion akan keluar istana. Tanpa bertanya, ia sudah tahu kalau pria itu sebenarnya ingin menghampiri adiknya, tapi menggunakan alasan berburu.
Aku tidak akan membiarkan Yang Mulia meninggalkan istana! Dia tidak boleh bertemu dengan kakak! Ya tidak boleh, ucapnya dalam hati.
Ia langsung menatap Ratu Agung dengan maksud untuk mencegah kepergian Raja Raion. ‘’Ratu Agung, sa—‘’
‘’Kapan saya memberi Anda kesempatan untuk bicara?’’ tanya Raja Raion dingin dengan tatapan datar tapi menusuk.
Putri Rukaia menelan saliva dan menunduk. ‘’Sa-Saya minta maaf Yang Mulia.’’
Melihat hal itu membuat Ratu Agung cemberut, dan menegur Raja Raion agar tidak terlalu bersikap kasar kepada Putri Rukaia. Ia memberi izin dan mengingatkan putranya itu agar kembali ke istana sebelum matahari terbenam.
Raja Raion membungkuk dan berjalan keluar. Putri Rukaia meminta izin untuk pergi, tapi Ratu Agung menghentikannya, dan memintannya untuk tinggal. Ia hanya menggertak gigi, sambil melihat kepergian Raja Raion.
‘’Haa, akhir-akhir ini kedua putraku selalu suka meninggalkan istana,’’ bingung Ratu Agung.