Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 84 Phoenix & Venus



Ratu Agung sangat tersentuh dan terkesan karena ulah Ratu Rushi. Ia memuji sastra lisan wanita itu yang terdengar sangat meyakinkan. Dengan cepat, Ratu Ratu mendongakkan kepalanya dan menatap wanita itu dengan wajah melongo.


Sa-Sastra lisan? Kalimat sepanjang itu dia menganggapnya sebagai sastra lisan? Heh? Jelas-jelas itu adalah ucapan, harapan dan doa dariku, meskipun memang benar yang kukatakan mengenai legenda burung phoenix. Haa, padahal suasananya sudah sangat bagus. Aku merasa bodoh sampai hampir marah, kata Ratu Rushi dalam hati dengan wajah bodohnya.


‘’Saya sangat mengapresiasi usaha Yang Mulia Ratu Rushi. Untuk menghargainya, saya akan membalas untuk memberi Anda sebuah sastra lisan juga,’’ kata Ratu Agung.


I-Itu tidak perlu. Ratu Agung benar-benar salah paham, kata Ratu Rushi dalam hati.


‘’Langit besar melengkung di atas bumi. Hujan lembab turun dari surga untuk manusia dan hewan karena tebal dan kuat. Kekuatan yang menyatukan unsur-unsur untuk menjadi segala sesuatu adalah Cinta, juga disebut Aphrodite. Perselisihan di sisi lain dan kekuatan yang bertanggung jawab, membuat Cinta menyatukan elemen-elemen yang berbeda,’’ kata Ratu Agung.


Sama halanya wanita itu tadi, Ratu Rushi tidak menyangka Ratu Agung bisa selembut tapi terdengar tegas seperti ini saat menyebutkan kalimat itu.


‘’Venus adalah salah satu dewi yang terkenal selama beribu-ribu tahun. Dia adalah simbol dari cinta dan kecantikan, yang identik dengan Aphrodite. Sama seperti Yang Mulia Ratu Rushi yang menggunakan cinta untuk menyatukan perasaan semua orang. Jika Anda mengibaratkan saya sebagai Dewa, kenapa saya tidak bisa mengibaratkan Yang Mulia Ratu Rushi sebagai Dewi juga?’’ senyum Ratu Agung.


Ia memberitahu semua orang jika dirinya disimbolkan sebagai keabadian dari burung phoenix, maka Ratu Rushi juga disimbolkan sebagai cinta dan kecantikan dari seorang wanita. Keabadian sejati tidak akan terlahir tanpa adanya cinta dan kecantikan dari hati.


Di antara hadiah terbaik, Ratu Agung sangat menghargai hadiah yang diberikan Ratu Rushi, membuatnya mengundang wanita itu untuk duduk bersamanya di singgasana.


Putri Rukaia mengepalkan tangan dengan wajah tertahan. Matanya bahkan sudah memerah karena saking emosinya. Ia tidak sudi melihat pemandangan yang terjadi di aula. Rasanya ingin kembali ke kamar karena tidak tahan. Namun, ia kesal karena tidak bisa melakukan hal itu.


‘’Ini pertama kalinya seorang Ratu dan Ibu Raja duduk berdampingan di singgasana, apalagi di hari bersejarah dimana Ratu Agung berulang tahun,’’ kata Hana.


‘’Yang Mulia sampai membuat Ratu Agung membuat sastra lisan untuknya,’’ kata Usagi.


‘’Dialah sosok wanita yang paling mutlak,’’ kata Shika.


Mozaru dan Kitsune hanya tersenyum mendengarnya. Berbeda dengan Eris dan keempat rekan terdekatnya yang memasang wajah kusut.


Aruse tersenyum remeh karena kejutan yang diberikan Ratu Rushi. Ia tidak menyangka wanita itu mengakalinya lebih dulu.


Baiklah. Kita lihat apakah Yang Mulia bisa mengatasi masalah yang ini, ucapnya dalam hati.


‘’Yang Mulia Ratu Rushi sangat hebat. Hampir tidak satu pun yang tidak bisa dilakukannya. Kalau Yang Mulia tidak keberatan, hamba akan menjadi pengiring untuk memberikan nyanyian kepada Yang Mulia Ratu Agung. Mengenai menyanyi, seharusnya Yang Mulia Ratu Rushi juga bisa melakukannya,’’ kata Aruse.


Terukir senyuman di bibir Eris. ‘’Hee~ kejutan di saat-saat terakhir, ya?’’


‘’Dia sendiri tahu kalau Yang Mulia tidak pintar menyanyi. Beraninya dia ingin mempermalukan Yang Mulia,’’ kata Pangeran Rodigero.


Wajah Ratu Agung langsung kusut karena tidak bisa menolak permintaan Aruse. Jika ia menolak, maka semua orang akan menganggap dirinya tidak kompeten dalam mengambil keputusan.


Ratu Rushi sedikit menuduk sambil tersenyum remeh.


Dalam sejarah, Ratu Rushi tidak becus melakukan apa pun. Itulah kenapa tidak ada hal istimewa dari dirinya yang membuat semua orang mengenalnya. Sepertinya dia ingin mempermalukan diriku. Hm, kira-kira bagaimana aku akan membalasnya, ya? Stt, ucapnya dalam hati.


Ia kembali mendongakkan kepala. ‘’Ara? Itu adalah saran yang sangat bagus. Kenapa saya sampai tidak terpikirkan?’’