
Usagi membungkuk dan meninggalkan dua orang itu. Ratu Rushi dengan wajah datar dan Pangeran Rodigero yang tersenyum saling bertatapan.
‘’Melihat Anda memilih membelaku tadi, sepertinya Yang Mulia sudah tahu siapa diriku,’’ kata Pangeran Rodigero.
Pangeran Rodigero, adik dari Raja Raion yang diracuni oleh Rukaia untuk mengadu domba kedua ras sehingga tercipta perang. Dalam sejarah, dia menyukai Ratu Rushi tapi tidak pernah menyampaikan perasaannya, bahkan hingga wanita itu meninggal di pengasingan. Kematian Ratu Rushi membuatnya tidak memiliki semangat hidup lagi, dan Rukaia memanfaatkan perasaan itu agar pria ini bunuh diri. Tapi, Ratu Rushi yang berdiri ini, bukan lagi wanita yang dia cintai, karena sekarang digantikan oleh jiwaku, kata Ratu Rushi dalam hati.
Ratu Rushi menghela nafas. ‘’Siapa yang tidak mengenali adik Raja Raion, Pangeran Rodigero.’’
‘’Hee~ kalau begitu, bagaimana aku mengartikan sikap Yang Mulia yang tidak mengenaliku kemarin?’’ tanya Pangeran Rodigero.
‘’Aa, itu … Aku hanya bersandiwara, maksudku … Um, itu,’’ kata Ratu Rushi gugup.
‘’Aku baru tahu kalau Yang Mulia sangat suka bersandiwara. Tidak apa-apa! Aku sampai terkejut karena ikut tertipu,’’ kata Pangeran Rodigero.
Heh, dia langsung percaya kepadaku. Sepertinya perasaan suka pria ini kepada Ratu Rushi sudah tidak bisa digambarkan, kata Ratu Rushi dalam hati.
‘’Pangeran Rodigero belum sarapan, kan? Kalau begitu, aku akan membuatkannya untuk Anda,’’ kata Ratu Rushi.
Yagyu dan Shika yang melihat Pangeran Rodigero bersenandung sambil mengikuti Ratu Rushi ke dapur, hanya berdecih.
‘’Pria penipu itu benar-benar menempel kepada Yang Mulia,’’ kata Shika.
‘’Yang Mulia pasti sudah terperangkap ke dalam ilusinya,’’ kata Yagyu.
‘’Kalian berdua sebaiknya tidak mencoba membuat masalah terhadap pria itu. Kalau tidak, kalian akan dalam masalah,’’ kata Usagi memperingatkan.
......................
Istana
Semua hanya diam di meja makan, saat mengetahui sekali lagi Pangeran Rodigero tidak ada.
Sosok wanita berjubah merah yang membedakannya dari semua orang memasang wajah tidak suka. Suasana di dalam ruang makan menjadi dingin karena tekanan mengitimidasi dari wanita tadi.
‘’Di mana Pangeran Rodigero?’’
Raja Raion sedikit ragu menjawab pertanyaan wanita itu.
‘’Kemarin, dia tidak ikut makam malam bersama kita. Dan sekarang Pangeran Rodigero juga tidak ada. Kali ini dia ke mana Yang Mulia?’’
Wanita yang merupakan Ratu Agung tadi mengerutkan dahi.
‘’Urusan penting apa sampai membuatnya meninggalkan istana saat masih pagi buta?’’ tanya Ratu Agung.
Raja Raion tersenyum kaku. Ia tahu betul, sangat mustahil membohongi ibunya, karena wanita itu mengetahui hampir semua situasi di dalam istana.
Pagi buta? Apakah anak itu masih waras? Apa yang harus kukatakan kepada Ibu? Tidak mungkin aku memberitahunya kalau adikku menyelinap keluar demi bertemu dengan wanita yang sudah bersuami itu. Apalagi di depan semua orang ini, ucapnya dalam hati.
‘’Yang Mulia?’’ panggil Ratu Agung sekali lagi.
‘’Sebaiknya kita sarapan dulu. Setelah itu baru kita bahas mengenai Pangeran Rodigero,’’ kata Raja Raion.
Ratu Agung menghela nafas dan akhirnya menyentuh sarapannya.
......................
Begitu selesai sarapan, Raja Raion menemani Ratu Agung menuju ke kediamannya.
‘’Ini pertama kalinya Pangeran Rodigero keluar tanpa memberitahuku. Apakah situasinya begitu mendesak sampai membuatnya pergi saat masih pagi buta?’’ tanya Ratu Agung.
Situasinya sangat buruk. Anakmu yang satu itu menyukai wanita yang sudah bersuami, jawab Raja Raion dalam hati.
‘’Saat ini Pangeran Rodigero ada di mana?’’ cemas Ratu Agung.
Aku bertaruh atas seluruh hidupku. Dia pasti ada di rumah wanita bersuami itu, jawab Raja Raion dalam hati.
‘’Apa yang dia lakukan sekarang?’’ tanya Ratu Agung.
Pasti sedang mendekati wanita itu saat suaminya tidak ada di rumah, jawab Raja Raion dalam hati.
‘’Haa, semoga Pangeran Rodigero baik-baik saja,’’ kata Ratu Agung.
Tidak. Anakmu yang satu itu sudah gila, dia tidak baik-baik saja, kata Raja Raion dalam hati.
...Visual Ratu Agung...