
‘’Selama masa perawatan, elang ini harus kecukupan mineral, terutama kalsium(Ca) dan fosfor (P). Dua jenis mineral ini paling berperan penting dalam proses penulangan. Andai saja ada biji-bijian di sekitar sini atau kacang,’’ kata Ratu Rushi.
Wani yang teringat sesuatu mengenai biji, langsung memberitahu Ratu Rushi kalau disekitar sini ada sebuah ladang yang ditanami biji. Tapi tidak tahu apakah ladang tersebut masih subur.
Ratu Rushi melipat sisa robekan mantelnya untuk dijadikan sebagai alas, lalu meletakkan elang peregrine di atasnya. Ia pun mengajak Wani untuk membawanya ke ladang itu secepatnya.
Butuh puluhan menit, sampai keduanya tiba di sebuah ladang yang ditumbuhi ratusan bunga. Mata Ratu Rushi membulat besar melihat bunga-bunga yang dipenuhi butiran salju.
‘’Ibuku menyukai bunga ini, sehingga ayah mencarikan bijinya. Kami selalu merawatnya sampai sekarang. Bahkan setelah mereka semua tiada, hanya aku dan adikku yang mengurus ladang. Tapi beberapa hari ini aku jarang datang karena mengurus adikku. Setengah bagian sudah layu dan mati, sama seperti mereka yang pergi meninggalkan dunia ini. Meski begitu, ini adalah peninggalan satu-satu yang paling berharga untukku. Sekarang, tinggal aku seorang diri yang akan menjaganya,’’ kata Wani.
‘’Sungguh, aku tidak percaya ada ladang Bunga Matahari di pulau ini,’’ kata Ratu Rushi dalam hati.
Ragu-ragu, ia meminta izin kepada Wani untuk mengambil biji bunga matahari yang sudah matang. Dan pria yang ditanyai itu tidak mempermasalahkan. Keduanya pun menyusuri ladang bunga matahari.
Ratu Rushi menghampiri bunga matahari yang berbobot berat dan layu.
‘’Kenapa kau mengambil yang layu? Itu sudah mati,’’ kata Wani.
‘’Kau salah paham. Kelopaknya memang sudah rontok, dan kepala bunganya menunduk. Tapi hal ini menunjukkan bahwa biji bunga matahari sudah berbobot berat dan memasuki tahap siap dipanen,’’ kata Ratu Rushi.
Wani dengan wajah masam menunjuk bunga yang diambil Ratu Rushi. ‘’Apa kau akan memberikan makanan kepada burung itu dengan ini?’’
Ratu Rushi tersenyum sambil menyuruh pria itu untuk tidak khawatir, dan menyuruh Wani untuk membantunya mengambil bunga matahari yang sudah layu.
Setelah mereka mengumpulkan begitu banyak, keduanya kembali ke goa. Ratu Rushi membungkus bunga matahari tadi dengan kain tipis dari bawahan bajunya, dan mengikatnya dengan tali. Lalu memotong bunganya dengan arah miring, sebelum digantung di tempat yang sejuk dan gelap. Kebetulan, goa yang mereka tempati sedikit sejuk dan juga gelap, ditambah musim dingin membuat proses pematangan sedikit cepat.
Malamnya, begitu melihat bagian belakang bunga berwarna cokelat, Ratu Rushi mengambil bunga matahari tersebut dan menggosok kepala bunga matahari sehingga bijinya berjatuhan. Ratusan biji tersebut dimasukkan ke dalam air di pecahan kendi. Karena tidak ada garam, ia menggunakan air laut untuk merendam biji tersebut.
......................
Keesokan harinya…
Setelah biji bunga matahari terendam semalaman, Ratu Rushi meniriskan biji tersebut lalu mengeringkannya, sambil menunggu Wani datang membawa makanan.
Push!
Ratu Rushi terkejut karena elang peregrine tadi tiba-tiba berubah wujud di depannya. ‘’Kau manusia?’’
‘’Tentu saja! Kau pikir aku kuda laut atau beruang madu?’’ tanya manusia setengah elang.
‘’Sayapmu bagaimana? Apakah sudah sembuh?’’ tanya Ratu Rushi.
‘’Ah, suamimu itu mencekikku sehingga sayapku terasa sakit.’’
‘’Dia bukan suamiku. Selain itu, kenapa manusia setengah elang seperti dirimu mengomel-ngomel layaknya seorang wanita?’’ kata Ratu Rushi.
‘’Aku bukan manusia setengah elang! Namaku Taka.’’
Ratu Rushi memasang wajah bodohnya sambil tersenyum seperti orang rugi.
Heh, dalam bahasa Jepang namamu saja memiliki arti Elang. Kalau kau bukan manusia setengah elang, lalu manusia setengah apa? Musang berbulu domba? Ah salah, yang benar itu srigala berbulu domba, ucapnya dalam hati.
Taka masih kesal karena ulah Wani, dan menyuruh pria itu muncul karena akan mengomelinya.
‘’Kau mencariku?’’
Keduanya menoleh ke sumber suara. Taka langsung menganga dengan mata melotot saat melihat seekor buaya sepanjang 12 meter di depannya.
‘’Selamatkan dan lindungi dirimu!’’ ucapnya mendorong Ratu Rushi ke hadapan buaya tadi.
Ratu Rushi menoleh ke arah Taka dengan wajah kusut.
Kalau menyuruhku menyelamatkan diri, kenapa malah mendorongku ke depan mulut seekor buaya ha? Elang ini, dia menjadikan diriku umpan, ucapnya dalam hati.
...Visual Taka...