Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 40 Rasa Bersalah



Istana


‘’Pangeran Rodigero keluar lagi? Apakah Ratu Agung tidak curiga kepadanya?’’ tanya Putri Rukaia.


‘’Aku juga tidak tahu, kenapa Ratu Agung bersikap seolah-olah mendukung perbuatan salah satu putranya itu,’’ jawab Siruverash.


‘’Apakah mungkin Pangeran Rodigero memberitahu Ratu Agung, kalau dia mengunjungi kakak setiap hari?’’ tebak Putri Rukaia.


Siruverash membantah dengan wajah tidak yakin. ‘’Jika itu memang terjadi, maka Ratu Agung akan melarang Pangeran Rodigero bertemu dengan Ratu Rushi. Tapi sepertinya, Ratu Agung tidak mengetahui orang yang sering dikunjungi salah satu putranya itu, adalah wanita yang mereka asingkan.’’


Putri Rukaia mengangguk mengerti. Ia tidak terlalu peduli dengan urusan Pangeran Rodigero. Baginya Raja Raion adalah segalanya. Jadi ia hanya perlu mencegah pria itu bertemu dengan kakak tirinya.


Sepertinya Pangeran Rodigero tidak sebodoh yang terlihat. Aku jadi penasaran, apa yang dia katakan kepada Ratu Agung, sehingga dirinya leluasa untuk mengunjungi Ratu Rushi, kata Siruverash dalam hati.


......................


Desa


Yagyu datang sambil membawa beberapa bag paper, untuk persiapan besok. Dilihatnya Pangeran Rodigero dilayani setelah memesan makanan.


‘’Aku jadi merepotkanmu,’’ kata Ratu Rushi.


‘’Tidak Yang Mulia. Ini sudah kewajiban hamba untuk membantu Anda,’’ kata Yagyu.


Ia membantu Ratu Rushi menyusun bahan-bahan masakan di dapur. Setelah itu, menyusun piring dan perlengkapan lainnya ke lemari rak.


‘’Jika saja bukan karena kalah darimu, aku tidak perlu mengalami semua ini. Putri Rukaia juga tidak akan membuangku bahkan memukuliku, sampai membuatku mengingat rasa sakit ini. Saat ini aku sedang tidak ingin marah. Pergilah, sebelum aku benar-benar menghajarmu.’’ (Yagyu teringat)


‘’Apakah terjadi sesuatu saat di jalan tadi?’’ tanya Ratu Rushi membuyarkan lamuan Yagyu.


Yagyu terbelalak yang hampir menjatuhkan piring ke lantai. ‘’Eh? Um, itu….’’


Ratu Rushi menoleh ke arah Shika dan Usagi yang terlihat tertawa bersama Pangeran Rodigero. Perhatiannya kembali ke arah Yagyu, yang terlihat bingung untuk bicara. ‘’Jangan ragu untuk mengatakannya. Di sini hanya ada kita berdua. Mereka tidak akan mendengar kita.’’


Yagyu terdiam untuk sesaat sambil memainkan tangannya. ‘’Waktu membeli bahan makanan tadi pagi, saya tidak sengaja mendengar suara Mozaru dari rumah bertarung, tapi saya tidak yakin hal itu. Setelah keluar lagi, saya mampir sebentar untuk memastikan keraguan saya, dan ternyata benar … Mozaru memang ada di rumah bertarung. Dia dipukul dan dicambuk sama seperti saat saya masih di rumah bertarung.’’


‘’Tapi bagaimana bisa dia ada di sana?’’ tanya Ratu Rushi.


Yagyu menceritakan setelah ia mengalahkan Mozaru, manusia setengah badak itu dibuang oleh Putri Rukaia ke rumah bertarung. Siapapun yang berhubungan dengan Mozaru akan dianggap penghianat dan diasingkan. Ia dan Mozaru sempat bicara sebentar, dan manusia setengah badak itu menyalahkan ini semua kepada dirinya.


‘’Yang Mulia seharusnya tidak datang membawaku. Yang dikatakan Mozaru benar. Dia tidak perlu merasakan hal keji seperti itu, jika bukan karena diriku. Ini semua salah saya Yang Mulia,’’ kata Yagyu.


Ratu Rushi yang mendengarnya merasa iba. Ia mengulurkan sebelah tangannya untuk mengusap punggung Yagyu. ‘’Jangan menyalahkan dirimu. Apa yang sudah terjadi bukan karena kesalahanmu. So enjoy your life.’’


‘’Yang Mulia?’’ tatap Yagyu terharu.


‘’Saya tidak mengerti kalimat akhir yang dikatakan Yang Mulia tadi,’’ lanjut Yagyu.


Senyuman Ratu Rushi langsung luntur, dan berubah menjadi raut wajah bodoh.


Lalu kenapa wajahmu terlihat begitu terharu seolah-olah mengerti? Padahal aku sedang menyemangatimu, ucapnya dalam hati.


‘’Kau ini,’’ senyum Ratu Rushi.