Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 79 Pengguna Kecapi



‘’AHAHA! Hahaha! Bahahaha!’’ tawa Shika lepas.


Ratu Rushi dan yang lainnya juga hanya terkekeh, mengingat bagaimana Eris menahan rasa malu setelah kalah telak di dapur.


Kini mereka makan besar-besaran sambil menikmati sejuknya angin di balkon belakang istana.


‘’Wah, aku sangat puas melihat wajah serangga betina itu menahan rasa marahnya,’’ kata Shika menghela nafas.


‘’Wajahnya sangat merah dan juga terlihat asap keluar dari telinganya, layaknya air panas yang matang dalam teko,’’ kata Usagi.


‘’Puff! Jangan lupakan kedua serangga itu juga. Mereka seperti kucing yang sudah kena pukul dan seperti kura-kura yang lehernya masuk ke dalam cangkangnya,’’ kata Yagyu.


Mozaru yang mendengarnya kembali terkikik. Ini pertama kalinya ia tertawa lepas seperti yang lainnya. ‘’Mereka pantas mendapatkannya.’’


......................


Pangeran Rodigero terdiam saat mengingat kejadian di aula latihan tadi. Ia begitu terkejut melihat Ratu Rushi ternyata jago bela diri. Melihat Nero berhasil dijatuhkan ke tanah, sepertinya serangan wanita itu sangat kuat.


Ia langsung menggigil ketika membayangkan jika dirinya berada di posisi Nero barusan. ‘’Kalau aku yang menerimanya, kira-kira kepalaku masih ada atau tidak, ya?’’


Ia kembali merasa ngeri. Akan tetapi wajahnya kembali murung karena belum pernah mengajak wanita itu bicara. Ia masih tidak memiliki keberanian untuk menghampiri Ratu Rushi.


‘’Haa … Aku sangat ingin menghampiri Yang Mulia dan memberitahunya tentang Licy. Tapi, sepertinya Yang Mulia tidak ingin mengajakku bicara,’’ sedih Pangeran Rodigero.


......................


Malam pun tiba, dan Kitsune menutup rumah makan. Licy yang menunggu sejak tadi hanya menghela nafas panjang.


‘’Sepertinya Yang Mulia tidak datang hari ini,’’ kata Kitsune.


Tidak masalah hari ini Yang Mulia tidak datang. Aku akan terus menunggunya, kata Licy dalam hati.


......................


Pagi berikutnya, semua orang mulai disibukkan karena sebentar lagi ulang tahun Ratu Agung akan tiba. Hal itu membuat orang-orang di istana sibuk mengurus persiapan terutama Ratu Rushi.


Seperti biasa, kelima orang yang merundung Ratu Rushi berkumpul untuk membantu persiapan. Sambil dikontrol oleh koordinator yang dipimpin oleh Eris, wanita itu menyerahkan bagian properti kepada Riaz, dan bagian konsumsi kepada Zena. Sedangkan Nero mendampingi Eris untuk memastikan semua persiapan berjalan lacar.


‘’Eh~ ada apa dengan kalian bertiga? Nona Eris dan kedua bawahannya sampai memperban tangannya. Dan wajahmu babak belur seperti ini. Apakah aku melewatkan sesuatu yang menarik?’’


Nero memutar bola matanya malas. ‘’Seperti biasa kau sangat suka bersandiwara Aruse. Kenapa menanyakan hal yang sudah kau ketahui?’’


Pria berambut panjang yang sebagian rambut tengah disanggul ke atas, dengan eyeshadow merah di ujung kedua matanya, serta memegang gitar klasik hanya tersenyum. ‘’Sepertinya burung kecil yang kita kurung di dalam sangkar selama ini akhirnya terbang keluar.’’


‘’Heh? Jangan membuatku tertawa. Burung kecil saja masih bisa menurut dan memperlakukan tuannya dengan lembut. Tapi wanita itu … Dia seperti singa betina yang sangat buas,’’ kata Eris.


‘’Bukankah dia memang istri dari seekor singa?’’ tanya Aruse.


Nero menegurnya karena membuat Eris kembali merasa kesal. Aruse yang tahu kebucinan pria itu dan juga membuatnya ikut kesal, sangat menikmati hal-hal yang berbaur provokasi.


‘’Aku adalah penanggung jawab dari acara ulang tahun Ratu Agung. Sebagai teman yang baik, membalas perlakuan yang kalian terima kepada Ratu Rushi sudah menjadi tugasku. Kali ini, aku yang akan memberinya pelajaran,’’ senyum Aruse sebelum mempetik senar kecapi.


...Visual Aruse...