Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 160 Mewujudkan Janji Part 1



‘’Aku sudah pernah berjanji kepada kalian. Jadi katakan saja tanpa ragu,’’ senyum Ratu Rushi.


Shika dan Taka tetap menegaskan permintaan mereka untuk dipeluk, membuat Ratu Rushi memanggil kedua pria itu.


‘’Yang Mulia akan benar-benar memeluk mereka?’’ tanya Yagyu.


‘’Ini hanya sebuah pelukan. Selain itu, aku menganggap kalian sudah seperti saudaraku sendiri. Jadi ini hanya pelukan sesama keluarga,’’ kata Ratu Rushi.


‘’Taka, kau saja dulu yang dipeluk oleh Yang Mulia,’’ suruh Shika.


Ratu Rushi memeluk Taka, membuat semua orang langsung terkejut karena wanita itu benar-benar memeluk manusia setengah elang tadi.


‘’Yang Mulia memelukku begitu lembut. Berbeda dengan Wani yang seperti ingin meremukkan sayapku,’’ gerutu Taka.


‘’Kalau kau ingin, aku bisa melakukannya sekali lagi,’’ kata Wani.


Ratu Rushi pun beralih ke Shika lalu memeluk pria baby face itu.


‘’Wah~ ini pertama kalinya Yang Mulia memelukku. Sebelumnya hanya aku yang terus memeluk Yang Mulia,’’ senang Shika.


Yagyu yang melihat manusia setengah rusa itu menjulurkan lidah kepadanya langsung berdecih kesal. Ia pun langsung menghampiri pria itu dan menariknya paksa. ‘’Kau terlalu lama memeluk Yang Mulia! Masih banyak yang belum mengatakan permintaannya.’’


Shika mempoutkan kedua pipinya sambil mengerutkan dahi. ‘’Katakan saja kalau kau cemburu.’’


‘’Kalau Yagyu? Apa permintaanmu?’’ tanya Ratu Rushi.


Manusia setengah banteng tadi terdiam untuk sesaat sambil membuang wajah. Ia berdehem sambil menutup mulutnya dengan sebelah kepalan tangan.


‘’Mungkin saya juga akan meminta pelukan,’’ kata Yagyu yang berbisik di akhir kalimat.


‘’Mm~ dia tidak melihat dirinya yang ternyata juga ingin dipeluk,’’ ledek Shika dengan wajah bodohnya.


‘’Ah! Sepertinya saya tidak jadi meminta hal i—‘’ ucapannya terpotong saat Ratu Rushi memeluknya tanpa ragu.


Ia seperti patung yang tidak bisa berkata-kata. Rasanya tidak percaya kalau sang Ratu memeluknya sama seperti Shika dan Taka.


*Nii-sama berarti pengucapan yang sopan untuk memanggil kakak laki-laki yang biasanya digunakan oleh perempuan.


Yagyu merasa tersentuh dan hendak membalas pelukan Ratu Rushi. Namun, Shika langsung menariknya paksa.


‘’Nii-sama~ kau terlalu lama memeluk Yang Mulia. Masih banyak yang belum mengatakan permintaannya,’’ kata Shika tersenyum.


‘’Eish, rusa bagal ini,’’ kata Yagyu mengernyitkan alis.


Kedua pria itu saling bertatapan seolah-olah terlihat arus listrik dari tatapan mereka berdua. Ratu Rushi beralih kepada dua pelayan setianya. Hana terdiam untuk sesaat, hingga akhirnya mereka berdua bicara.


‘’Hm, kalau Yang Mulia tidak keberatan, saya selalu bermimpi bisa mengenakan gaun yang cantik meski hanya sekali saja. Kami para pelayan hanya dari keluarga miskin sehingga tidak mampu membeli gaun yang cantik di toko. Jadi, saya ingin mencoba salah satu gaun Yang Mulia. Tidak perlu yang mewah! Cukup yang sederhana saja,’’ kata Hana.


Ratu Rushi tersenyum. ‘’Karena kau dan Licy saling bestie, kalian berdua bisa memilihnya langsung sesuka hati di lemari. Tidak perlu mencobanya, gaun itu aku berikan kepada kalian.’’


Hana dan Licy langsung bersujud dan berterima kasih, sebelum menghampiri lemari baju Ratu Rushi.


‘’Kujaku? Apa yang kau inginkan?’’ tanya Ratu Rushi.


‘’Yang Mulia tahu kalau seluruh tubuh saya berwarna putih. Saya selalu bermimpi bisa memiliki daun yang cantik seperti merak lainnya. Bisakah saya meminta sehelai buruk merak yang berwarna milik Yang Mulia?’’ tanya Kujaku.


Ratu Rushi menghampiri vas berisikan puluhan bulu merak sepanjang 30 cm. Ia pun mengambil sebagian bulu dan menyerahkannya kepada Kujaku, membuat manusia setengah merak putih itu sangat senang.


‘’Usagi dan Uma?’’


Manusia setengah kelinci yang dipanggil tadi, menyerahkan kertas putih bersama pena bulu. ‘’Permintaanku adalah ingin Yang Mulia menggambarkan 3 desain baju untukku.’’


‘’Selama ini saya hanya selalu tidur di sel pembuangan. Kalau Yang Mulia tidak keberatan, bisakah saya menikmati kasur Anda untuk sesaat?’’ pinta Uma.


Ratu Rushi memberi izin kepada manusia setengah kuda itu, sehingga Uma menuju ke kasur untuk menikmati kemewahan dan kelembutannya. Ia juga mulai menggambar kimono dari Jepang, hanfu dari Tiongkok dan hanbok dari Korea. Usagi yang melihatnya tidak sabar membuatnya.


Setelah menyelesaikan desain tadi, ia menatap Kamereon yang terlihat gusar sejak tadi, membuatnya menanyakan permintaan dari manusia setengah bunglon itu.


‘’Aku ingin berjabat tangan dengan Yang Mulia,’’ kata Kamereon.