Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 37 Perdebatan Rutinitas



Setelah semuanya beres, Ratu Rushi dan yang lainnya menghela nafas lega, sambil menatap para pelanggan yang menikmati pesanan.


‘’Aku masih tidak menyangka, kalau mengingat kemarin Yang Mulia memasak seorang diri untuk 25 orang,’’ kata Shika.


‘’Apalagi pelanggan hari ini malah tertambah semakin banyak. Untunglah kita belajar memasak dari Yang Mulia,’’ kata Yagyu.


‘’Benar. Kita tidak bisa berdiam diri saja, membiarkan Yang Mulia memasak sendiri,’’ kata Usagi.


Ratu Rushi tersenyum. ‘’Aku juga tidak menyangka, kalian bertiga belajar memasak begitu cepat, hanya dalam semalam. Meskipun kalian memiliki tugas, tapi masih tetap saja ingin membantuku. Thank you for all.’’


‘’Koral? Moral? Eh?’’ bingung Shika.


‘’Artinya terima kasih untuk semuanya,’’ kata Ratu Rushi dengan wajah bodohnya.


‘’Ahaha ternyata itu,’’ kekeh ketiganya dengan wajah polos.


Ratu Rushi hanya menggeleng sambil tersenyum.


‘’Oh iya, Pangeran Rodigero tidak datang, ya? Bukankah biasanya dia adalah orang pertama yang menginjakkan kaki di sini?’’ tanya Shika.


‘’Aku pikir kau yang paling tidak menginginkan kehadirannya,’’ kata Yagyu.


‘’Apa bedanya denganmu yang selalu mengusirnya,’’ balas Shika.


‘’Apakah mungkin Pangeran Rodigero dimarahi karena pulang telat ke istana, sehingga dia dihukum,’’ pikir Usagi.


Ratu Rushi yang menyimak langsung menatap ke arah pintu, yang biasanya memperlihatkan sosok pria itu.


......................


Pukul menunjukkan tengah hari. Semua pelanggan juga sudah pulang, membuat Ratu Rushi dan yang lainnya beres-beres.


‘’Wah, kita selesai begitu cepat hari ini,’’ kata Usagi menghitung penghasilan.


Yagyu dan Shika mencuci piring sedangkan Ratu Rushi menyusun bahan-bahan di lemari batu pendingin, sambil mendengar ucapan manusia kelinci tadi.


‘’Aku akan membeli baju, makanan, perlengkapan diri, dan masih banyak lagi. Dan juga katapel yang baru untukku,’’ kata Shika.


‘’Kau masih bermain katapel di umur seperti itu? Berhentilah menghayal. Semua penghasilan dari rumah makan ini, hanya Yang Mulia yang boleh memilikinya. Bisa tinggal dan makan di sini saja sudah cukup,’’ kata Yagyu.


‘’Padahal aku juga ingin membeli benang dan perlengkapan jahit lainnya,’’ kata Usagi.


Ratu Rushi menutup lemari batu pendingin. ‘’Yang dikatakan Shika benar. Kalian sudah membantuku, jadi tentu saja bukan aku saja yang harus menikmati hasilnya. Jangan khawatir, kalian akan mendapatkan bagian.’’


‘’Benarkah? Wah~ Yang Mulia memang terbaik, tidak sepertimu,’’ kata Shika memberi tekanan di akhir kalimatnya sambil menatap Yagyu.


Yagyu memicingkan mata disertai aura membunuh. ‘’Katakan sekali lagi.’’


‘’Yang Mulia! Nyawaku dalam bahaya!’’ pekik Shika kabur ke belakang Ratu Rushi.


‘’Oee Shika! Piringnya belum selesai, cepat kembali dan bantu aku!’’ teriak Yagyu.


‘’Kau akan membunuhku kalau aku ke sana,’’ kata Shika.


Yagyu menghampiri Ratu Rushi sambil mengernyitkan alis. Ia melontarkan tatapan tajam ke arah belakang wanita itu, yang ditujukan kepada Shika. ‘’Aku akan membunuhmu sekarang jika kau tidak melanjutkan pekerjaanmu.’’


Shika memasang wajah kasihan sambil memeluk lengan Ratu Rushi. ‘’Yang Mulia, maut menghampiriku.’’


‘’Aku memang mautmu. Selain itu, lepaskan tanganmu dari Yang Mulia!’’ tegas Yagyu.


‘’Bilang saja kau cemburu, dan ingin memeluk lengan Yang Mulia juga. Ehe….’’


Ratu Rushi hanya diam dengan wajah bodohnya, sambil mendengar perdebatan kedua pria itu.


Yagyu mengernyitkan alis sambil tersenyum, dan menarik masing-masing lengan bajunya sampai siku. ‘’Jika Yang Mulia tidak keberatan, saya meminta izin Anda.’’


Ratu Rushi dengan wajah datar polos bergeser, dan mempersilahkan Yagyu dengan gerakan sebelah tangan. ‘’Ee, kochira e douzo Okyakusama(Tentu saja, silahkan Tuan).’’


Yagyu tersenyum sambil menaikkan kedua alisnya, sedangkan Shika tersenyum dengan wajah kaku, seolah-olah dirinya menyusut kecil.