Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 159 Bunga dari Surga



Setelah makan malam selesai, Raja Raion pun menghampiri Ratu Rushi di kamarnya sambil dikawal Tora. Sang Ratu bersama para pengikutnya yang saling bercanda seperti biasa, langsung menoleh begitu pintu terbuka. Kedua belas orang pengikut spontan memberi salam.


‘’Sangat ramai seperti biasa,’’ kata Raja Raion.


Ia menghampiri Ratu Rushi sambil diikuti Tora. Para pengikutnya juga hanya menatap kedua pria yang datang tadi.


Raja Raion mengkode Tora membuat pria itu meletakkan sebuah pot dengan bunga yang tertanam di dalamnya. Bunga yang berbentuk subur dan mirip jamur, mengeluarkan cahaya putih dan beraroma harum.


‘’Bunganya bercahaya seperti lampu,’’ kata Wani.


‘’Dalam sekejap aromanya memenuhi seluruh ruangan,’’ kata Kamereon.


‘’Padahal bentuknya mungil, tapi wangi semerbaknya sampai membuat ruangan seluas ini menjadi harum,’’ kata Taka.


‘’Aku baru melihat jenis bunga seperti itu,’’ kata Uma.


‘’Nama bunganya apa?’’ tanya Kujaku.


Ratu Rushi menatap bunga yang dibawa suaminya. ‘’Dianggap mendatangkan keberuntungan bagi kehidupan, dengan warna putih kesucian yang membawa berkat dari surga. Sebuah bunga yang tidak dapat ditemukan di dunia manusia. Bunga legendaris yang hanya mekar setiap 3000 tahun sekali. Menandakan datangnya Sang Raja Roda Emas yang turun ke dunia manusia, membuat bunga ini akan muncul mengikuti kemunculan kebajikan serta berkah yang melimpah. Dikenal sebagai Youtan Poluo atau Udumbara, namanya adalah … Bunga dari Surga.’’


Ia merasa sangat beruntung bisa melihat bunga itu secara langsung. Rasanya ia seperti diberkati oleh Sang Raja Roda Emas sehingga bisa menyaksikan bunga legendaris itu apalagi memilikinya. Saking senangnya, ia memeluk Raja Raion di depan semua orang.


‘’Thank you! I really like it! Hontouni arigatou yeobo!’’ girang Ratu Rushi.


Shika yang melihatnya langsung memasang wajah kasihan sambil menggigit ujung pakaiannya. ‘’Aku juga ingin dipeluk oleh Yang Mulia.’’


Yagyu langsung menyikuk manusia setengah rusa itu sebelum Raja Raion mendengarnya.


Tiba-tiba salah satu pelayan datang dan memberitahu sang Raja agar segera menghadap kepada Ratu Agung.


‘’Saya akan kembali sebentar lagi,’’ kata Raja Raion dan Ratu Rushi mengangguk.


‘’Ada apa Shika?’’ tanya Ratu Rushi.


Dengan wajah seperti ingin menangis, manusia setengah rusa itu juga ingin dipeluk seperti sang Raja tadi. Ratu Rushi langsung tersenyum dengan wajah bodohnya.


‘’Yang Mulia pernah berjanji akan mengabulkan satu permintaan kami semua. Tapi itu tidak terjadi karena sebuah insiden. Apakah janji itu masih berlaku Yang Mulia?’’ tanya Shika.


‘’Ah benar juga. Kenapa aku sampai lupa? Kebetulan kalian semua ada di sini, jadi mintalah satu permintaan,’’ senyum Ratu Rushi.


Kedua belas orang tadi saling memandang satu sama lain. Shika mengangkat tangannya terlebih dahulu dan mengatakan permintaannya.


‘’Bisakah Yang Mulia memeluk saya seperti Anda memeluk Raja tadi?’’


‘’Ah, saya, saya! Apakah saya juga bisa dipeluk?’’ tanya Taka.


Saat itu juga Yagyu langsung menjitak kepala Shika bersamaan Wani yang memukul punggung Taka.


‘’Beraninya kau mengatakan hal yang tidak sopan seperti itu!’’ tegur keduanya kompak.


Shika memanyunkan bibir sambil mengusap kepala, begitu juga dengan Taka yang mengusap punggungnya yang dipukuli.


Mereka benar-benar mirip dattebayo, kata Ratu Rushi dalam hati.


Kamereon langsung membunyikan cambuk pemukul yang entah dari mana manusia setengah bunglon itu dapatkan. ‘’Sepertinya Shika dan Taka ini butuh kelas tambahan agar lebih sopan bertutur kata.’’


Wani yang pernah mengalaminya langsung memasang wajah bodohnya.


‘’Memang ada apa dengan kelas tambahan dari Kamereon?’’ tanya Yagyu.


‘’Jangan ingatkan aku dengan kelas tambahan kadal daun itu. Jika bukan Yang Mulia, aku sudah membungkamnya saat di sel penjara,’’ jawab Wani.