
Terlihat seekor singa dan harimau berlari menyusuri tanah lapang. Keduanya seperti berlomba adu kecepatan.
‘’Jangan ragu mengerahkan seluruh kekuatanmu. Apa kau ingin kalah terus?’’ tanya sang Singa.
Harimau sedikit menggeram. ‘’Sebelumnya saya mungkin selalu kalah dari Yang Mulia. Tapi kali ini, hamba akan menemukan buruan lebih dulu dan akan menang.’’
‘’Kalau begitu mari kita buktikan, siapa di antara kita yang akan menemukan buruan pertama kali,’’ kata sang Singa.
Singa dan Harimau tadi langsung menyebar sambil berlari dengan kecepatan tinggi.
......................
Desa
Yagyu dan lainnya masih menatap Ratu Rushi dari jauh, hingga Mozaru menghampiri wanita itu.
‘’Hei? Mozaru, apa yang kau lakukan?’’ bisik Yagyu.
‘’Aku tidak akan kalah!’’ seru Shika bergegas.
‘’Tu-Tunggu dulu,’’ kata Usagi.
Mozaru dan Shika tiba di samping Ratu Rushi, membuat wanita tadi menoleh dengan wajah kaku.
‘’Yang Mulia belum makan siang,’’ kata Mozaru.
‘’Benar Yang Mulia. Aku dengar, orang yang marah biasanya melampiaskan kemarahannya dengan banyak makan. Yang Mulia bisa membuat makanan jenis apa pun. Kenapa tidak membuat makanan saja?’’ usul Shika.
Tanpa mengatakan apa pun, Ratu Rushi berjalan menuju dapur. Namun, keempat pria di sana mengerutkan dahi melihat arah pergi wanita tadi.
‘’Um, Yang Mulia? Dapurnya ada di sini. Itu jalan menuju ke kamar mandi,’’ kata Usagi.
Sama seperti tadi, Ratu Rushi hanya diam dan bergegas dengan wajah kaku. Yagyu dan yang lainnya saling memandang satu sama lain, hingga mereka menyusul wanita tadi.
Sesampainya di dapur, Ratu Rushi sedikit bingung menatap bahan-bahan. Ia menoleh ke arah keempat pria yang memandanginya, dan kembali menatap bahan-bahan.
‘’Yang Mulia ingin membuat apa, ya? Sepertinya ini resep baru,’’ kata Usagi.
Ratu Rushi mengambil pisau lalu mulai mengiris. ‘’Kenapa mataku terasa perih karena kangkung ini.’’
Keempat pria tadi langsung terkejut yang saling memandangi. Mereka sedikit terkekeh dengan wajah kaku.
‘’Ahaha! Benar juga. Aku sampai salah bicara, astaga,’’ kata Ratu Rushi.
Sekali lagi keempat pria itu terkejut karena Ratu Rushi memotong asal-asalan semua bahan yang ia ambil.
‘’A-Apa yang terjadi dengan Yang Mulia?’’ tanya Shika dengan wajah cemas.
‘’Yang Mulia, apakah lebih baik saya membantu Anda?’’ tanya Yagyu.
Ratu Rushi tersenyum dan menggeleng. ‘’Tidak, terima kasih Shika.’’
Shika mendongakkan kepala dengan wajah melongo untuk menatap Yagyu, yang juga menatapnya balik. ‘’Shika?’’
‘’Usagi, kenapa kau yang malah terkejut?’’ tanya Ratu Rushi.
‘’Usagi?!” kata Shika menunjuk dirinya dengan wajah masam.
Tiba-tiba tubuh Shika hampir terjatuh, tapi Usagi langsung membantunya berdiri.
‘’Syukurlah kau menangkapnya Mozaru,’’ kata Ratu Rushi.
Keempat pria itu terkejut dengan wajah melongo. Ratu Rushi yang melihat mereka hanya tersenyum meragukan. Sebelum memastikan dugaan keempat pria itu salah, salah satu dari mereka angkat bicara.
‘’Yang Mulia sedang membuat apa?’’ tanya Yagyu.
‘’Oh ini? Aku sedang membuat nasi goreng. Ini waktunya makan siang, jadi tunggulah sebentar,’’ kata Ratu Rushi.
Yagyu dan yang lainnya kembali saling memandang satu sama lain. ‘’Lalu untuk apa Yang Mulia mengiris semua bahan-bahan ini? Dan juga Anda melenceng dari resepnya.
‘’Hehe, benarkah?’’ tanya Ratu Rushi ragu-ragu.
Shika membengkap mulutnya sambil melotot. ‘’Yang Mulia lupa ingatan!’’
Ratu Rushi yang mendengarnya sedikit terkejut. Shika langsung heboh bukan main seolah-olah melakoni adegan dramatis. Mereka yang melihatnya hanya memasang wajah bodoh.
‘’Habislah … Habislah dunia ini. Meski Yang Mulia selalu mengomel, tapi apalah arti sebuah tubuh jika tidak memiliki ingatan,’’ kata Shika menangis di tanah.
‘’Aku koreksi. Tubuh tidak berarti jika tidak memiliki jiwa, bukan ingatan,’’ kata Mozaru.