Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 71 Cabang



Raja Raion yang berada di istana merasa gusar sejak tadi. Setelah dirinya menghadap ke Ratu Agung, ibunya tidak memberi izin untuk keluar istana. Sebab, Pangeran Rodigero sudah meminta izin lebih dulu, jadi dirinya tidak perlu keluar juga.


Tidak bisa membantah perintah ibunya, membuat Raja Raion mondar-mandir di dalam kamar. Ia sedikit terpengaruh dengan ucapan Putri Rukaia mengenai kedua orang itu.


Apakah benar Rodigero dan Ratu Rushi janjian untuk keluar bersama? Ah tidak mungkin. Selama Ratu Rushi kembali, aku tidak pernah melihat mereka bersama. Benar, Rodigero juga tidak sembarangan akrab dengan wanita. Satu-satunya wanita yang disukainya adalah wanita bersuami itu, kata Raja Raion dalam hati.


Tora yang melihat Raja Raion mondar-mandir sejak tadi hanya mengerutkan dahi.


Jangan bilang kepergian Pangeran Rodigero dan Ratu Rushi membuat Yang Mulia segusar ini, katanya dalam hati.


Saat itu juga Raja Raion terhenti sambil menepuk telapak tangannya dengan kepalan tangan yang satunya. ‘’Rodigero pasti keluar untuk menemui wanita itu, sedangkan Ratu Rushi hanya jalan-jalan bersama keempat pengikutnya.’’


Heh, ternyata memang itu yang membuat Yang Mulia gusar, kata Tora dalam hati dengan wajah bodohnya.


‘’Keempat pengikutnya mungkin belum terbiasa tinggal di istana, jadi Ratu Rushi membawa mereka keluar. Ahaha, iya itu pasti,’’ kata Raja Raion.


......................


Desa


Seperti biasa, orang-orang yang mencicipi hidangan buatan Ratu Rushi pasti merasa seperti lupa diri. Meskipun masakan yang dibuat wanita itu memang digemari di dunia modern. Ratu Rushi tersenyum melihat kelima pengikutnya yang heboh setelah mencicipi buatannya.


‘’Jadi inilah alasan kita membuat banyak bola-bola daging? Seperti biasa, kita diberi kejutan oleh Yang Mulia,’’ kata Yagyu.


‘’Sungguh, makanan ini sangat enak. Aku tidak tahu kalau ada makanan yang bisa direndam seperti ini,’’ kata Kitsune.


‘’Inilah hasil kerja keras kita,’’ kata Mozaru.


‘’Yang Mulia adalah definisi dari koki terhebat,’’ kata Usagi.


Ratu Rushi yang mendengarnya hanya tersenyum dengan wajah tertekan.


Berhenti membuatku terhina. Makanan-makanan ini bukan aku yang menciptakannya tahu, katanya dalam hati.


Ia kembali teringat saat menyusuri desa dimana semua rumah makan ditutup. Saat itu, semua warga memohon kepadanya untuk membuka rumah makan, dan rela menutup semua rumah makan di sekitar, dan janji itu ditepati.


Namun, melihat hal itu membuat Ratu Rushi tidak tega dengan pemilik rumah makan lainnya. Ia pun meminta perhatian semua orang yang masih sedang makan.


‘’Hem! Maaf karena mengganggu waktu makan kalian. Aku ingin menyampaikan sesuatu,’’ kata Ratu Rushi.


Ia meminta pemilik rumah makan untuk mengangkat tangan mereka. Meskipun orang-orang tidak mengerti dengan maksudnya, tapi di antara mereka tetap ada yang mengangkat tangan.


Ratu Rushi menatap hampir ada puluhan pemilik rumah makan yang bercampur dengan pemilik toko kue. Ia pun mengeluarkan perintah agar mereka kembali membuka rumah makan dan toko kue. Semua langsung saling memandang satu sama lain dengan wajah bingung.


Namun, mereka merasa sudah cukup dengan rumah makan Ratu Rushi. Selain itu, mereka sudah berjanji sejak awal untuk menutup semua rumah makan demi membuka rumah makan wanita itu.


Ratu Rushi memberitahu mereka kalau hal ini tidak benar. ‘’Kita semua adalah keluarga, dan keluarga tidak pernah bersaing satu sama lain.’’


‘’Tapi Yang Mulia, meskipun kami membuka rumah makan, orang-orang akan tetap mengunjungi rumah makan Yang Mulia,’’ kata salah satu pemilik rumah makan.


‘’Kue kami juga tidak akan laku karena kue buatan Yang Mulia lebih bagus. Jadi, tetap saja kami tidak mendapatkan penghasilan,’’ kata salah satu pemilik toko kue.


Ratu Rushi tersenyum dan menyuruh mereka untuk tidak khawatir. ‘’Aku baru saja terpikirkan untuk membuat cabang dari rumah makanku.’’


Semua orang saling memandang satu sama lain dengan wajah bingung. Mendengar ucapan Ratu Rushi barusan, membuat mereka tidak mengerti dengan maksudnya.


‘’Yosh! Sekarang waktunya pebisnis pertama di era ini terlahir. Minna, let’s do it!’’ kata Ratu Rushi percaya diri.