
Dari jauh, Raja Raion dan Tora melongo bukan main menyaksikan kejadian tadi. Keduanya benar-benar tidak percaya saat melihat Ratu Rushi berhasil menjatuhkan Nero ke tanah, dan melukai pria itu.
‘’Siapa wanita itu? Apakah dia adalah Yang Mulia Ratu Rushi?’’ tanya Tora.
‘’Wanita memang adalah definisi makhluk terkuat di bumi,’’ kata Raja Raion.
Ia merapikan baju sambil berbalik untuk pergi. Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk menghampiri Ratu Rushi. Sebelumnya, ia sudah pernah menerima pukulan dari wanita itu, membuatnya berubah pikiran dan memilih pergi.
Tora yang mengerti maksud Raja Raion, juga berbalik untuk pergi. Ia juga tidak ingin merasakan pukulan maut dari Ratu Rushi setelah melihatnya menghajar Raja Raion tanpa belas kasih.
‘’Kau lihat itu? Ha? Kau sudah lihat? Rasakan itu! Hap! Rasakan! ’’ teriak Shika melampiaskan kekesalannya dengan menginjak rumput di sana.
Yagyu dan Mozaru mengepalkan tangan sambil mengayunkannya. Mereka sangat puas melihat Nero berhasil dikalahkan dengan mudah. Sedangkan Hana dan Usagi melompat-lompat saking senangnya.
Ratu Rushi menatap Nero yang meringis. ‘’Kau harus tahu bagaimana caranya menghormati seorang wanita. Lain kali jika kau masih bersikap semena-mena, maka bukan teknik scorpion lagi yang aku gunakan kepadamu, tapi teknik kuda terbang.’’
Nero mengusap pelan sudut bibirnya. ‘’Stt, haa … Aku sering menang di medan pertempuran, tapi ini pertama kalinya ada orang yang membuat sudut bibirku berdarah. Terlebih lagi itu adalah seorang wanita. Akh, rasanya mulutku bengkak.’’
Hana dan yang lainnya tersenyum sambil menyambut Ratu Rushi. Mereka memuji wanita itu dengan mata berbinar-binar terutama Shika.
‘’Kebetulan, aku sangat lapar setelah pemanasan tadi. Ayo kita makan bersama,’’ ajak Ratu Rushi.
Keempat pria itu saling memandang satu sama lain dengan wajah melongo. Mereka menatap kepergian Ratu Rushi bersama Hana yang terlihat senang. ‘’Duel berat tadi, Yang Mulia menganggapnya hanya melakukan pemanasan?’’
......................
Desa
Kitsune dan adiknya mengumpulkan piring kotor dan membawanya ke dapur. Terlihat Licy yang sedang mencuci piring, meskipun matanya buta.
‘’Sejak tadi kau selalu bekerja. Setidaknya beristirahatlah sejenak,’’ kata Kitsune.
‘’Tidak masalah. Aku sudah terbiasa melakukannya. Lagi pula, aku menginap di rumah makan Yang Mulia. Karena tidak memiliki uang, aku membayarnya dengan tenagaku,’’ kata Licy.
Tapi ini sudah hampir siang. Kenapa Yang Mulia tidak datang, ya? Biasanya Yang Mulia dan keempat pria itu sudah datang sebelum tengah hari, kata Kitsune dalam hati.
......................
Dapur Istana
Begitu Ratu Rushi tiba, wajahnya kembali kusut saat melihat Eris, Riaz dan Zena sudah ada di sana. Hana mengingatkan ketiga wanita itu apakah mereka masih belum kapok setelah menerima hukuman. Namun, Eris dan kedua wanita lainnya malah tersenyum sambil memberi hormat.
Sebelah alis Shika terangkat. ‘’Mereka tiba-tiba bersikap sopan, apakah ini hanya sandiwara?’’
‘’Entahlah. Tapi, sudah seharusnya mereka menghormati Yang Mulia seperti ini,’’ kata Yagyu.
Eris, Riaz dan Zena yang mendengarnya hanya menahan rasa kesal mereka dibalik senyuman.
‘’Jika Yang Mulia ingin memakan sesuatu, kami akan membuatkannya untuk Anda,’’ kata Eris.
‘’Tidak, terima kasih. Tidak ada yang tahu makanan buatan kalian mungkin saja di dalamnya ada racun. Aku masih belum bisa pergi, sebelum dunia ini mengingatku,’’ kata Ratu Rushi santai.
Saat itu juga, para pelayan datang sambil membawa hidangan yang ditutupi kain. Ratu Rushi membuka kain tersebut, membuat Eris kembali menutupnya.
‘’Sangat tidak sopan melihat makanan yang sudah dicicipi oleh Ratu Agung. Singkirkan itu!’’
‘’Apa yang kau lakukan?’’ tanya Ratu Rushi.
‘’Mohon maaf, tapi saya adalah Kepala Pelayan di sini. Cukup sarapan hari itu saja Anda bersikap semaunya sampai membuat Ratu Agung kembali menegaskan aturan,’’ kata Eris.
‘’Aku sang Ratu, jadi akulah bosnya, ’’ balas Ratu Rushi.
‘’Kalau begitu, kenapa tidak membiarkan keterampilan masak kita bicara?’’ tantang Eris.
Sebelah alis Ratu Rushi terangkat sambil tersenyum remeh. ‘’Kau seperti ingin mengajari seekor burung yang ahli terbang di udara, dan seekor ikan yang ahli berenang di air.’’