Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 95 Ragu



Bisa ditebak, bagaimana ekspresi wajah Eris beserta rekannya. Mereka mengepalkan tangan dengan wajah tertahan, karena menurut pandangan memang terlihat jelas kalau Raja Raion mendukung Ratu Rushi.


Jika Raja Raion sampai tahu kalau merekalah yang merusak hadiah sulaman dari Ratu Rushi, dan berniat mempermalukan wanita itu di depan semua orang, maka semuanya akan berakhir. Daripada masalah besar menghampiri mereka, dengan terpaksa Eris mengalah.


Dengan urat-urat di leher dan kening yang menegang, ia memerintahkan Nero dan yang lainnya untuk tidak mencampuri urusan para pengikut Ratu Rushi.


‘’Untuk kali ini saja, aku akan membiarkan kalian. Lain kali, aku tidak akan melakukannya lagi. Ayo kita pergi!’’ perintah Eris berjalan meninggalkan dapur.


Nero berdecih sambil menarik tangannya dan menyusul wanita itu, diikuti Aruse dan kedua wanita lainnya.


‘’Wah, kalian sangat berani menentang mereka tanpa rasa takut,’’ kata Kujaku.


‘’Heh, siapa dulu pemimpin kami yang memiliki mental sekuat baja,’’ senyum Yagyu yang kalimatnya merujuk kepada Ratu Rushi.


‘’Kalau begitu, kita tidak boleh membuang waktu lagi dan harus segera membuatnya. Yang Mulia ingin kita menyelesaikan hidangan ini sebelum makan malam tiba,’’ kata Hana.


Yagyu dan yang lainnya mengangguk dan langsung mengambil peran masing-masing.


......................


Pangeran Rodigero berjalan menyusuri istana dan menuju ke kamar kakaknya. Begitu ia tiba, terlihat sosok Tora yang menunggu di depan pintu seperti biasa.


‘’Apakah Yang Mulia ada di dalam?’’ tanya Pangeran Rodigero.


Tora membungkuk memberi hormat sebelum bicara. ‘’Benar Pangeran, Yang Mulia Raja ada di dalam. Tetapi hamba diperintahkan untuk tidak membiarkan siapapun masuk untuk menemui Yang Mulia.’’


‘’Eh? Tapi, ada hal penting yang harus aku bicarakan kepadanya,’’ kata Pangeran Rodigero.


Pangeran Rodigero hanya menghela nafas panjang. Tidak lama kemudian, Tora keluar lalu membukakan pintu, membuatnya mengerti kalau kakaknya telah memberi izin. Ia pun masuk dan melihat Raja Raion sedang berdiri di balkon.


‘’Kakak, di luar sangat dingin. Kenapa Anda malah berdiri di sana?’’ tanya Pangeran Rodigero.


Raja Raion berbalik dan menatap adiknya tanpa mengatakan apa pun. Melihat hal itu membuat Pangeran Rodigero menghampirinya. Cukup lama keduanya hanya berdiri sambil menatap sekitar, hingga akhirnya sang Raja membuka pembicaraan pertama kali.


‘’Rodigero, selama ini kita tumbuh dengan saling memberikan kasih sayang. Aku sama sekali tidak pernah berniat ingin bertengkar dengan Anda. Tapi, kejadian di kamar Anda sudah melewati batas,’’ kata Raja Raion.


‘’Kakak salah paham. Itulah kenapa saya datang kemari untuk memberitahu kebenarannya. Saya dan Yang Mulia Ratu Rushi tidak seperti yang Anda pikirkan,’’ kata Pangeran Rodigero.


‘’Lalu kenapa Ratu Rushi sampai memegang tangan Anda dengan perasaan senang?’’


Pangeran Rodigero hendak memberitahu kakaknya kalau Ratu Rushi hanya berterima kasih karena dirinya menemukan Licy, dan membawanya ke rumah makan. Tapi, ucapannya langsung terhenti saat mengingat janjinya kepada Licy, dimana wanita itu memintanya untuk tidak memberitahu siapapun mengenai keberadaannya.


Raja Raion memicingkan mata. ‘’Kenapa Anda tidak bisa menjawab?’’


‘’Itu … Kakak percayalah, saya dan Yang Mulia tidak me—‘’


‘’Anda menjelaskannya dengan ragu untuk memberitahuku kebenarannya, bagaimana saya tidak semakin ragu kepada Anda?’’ kata Raja Raion.


Tanpa berpikir panjang, ia menyuruh adiknya untuk keluar dan ingin menenangkan pikiran. Dengan terpaksa, Pangeran Rodigero berjalan pergi.


Dia bersikap kasar sampai menghajarku, tapi tersenyum kepada Rodigero dan menyentuhnya dengan lembut. Haa, wanita itu membuatku gila, kata Raja Raion dalam hati.