
Malamnya, Raja Raion mengatur strategi untuk perang besok. Ia harus mengakali lawan untuk memberikan keunggulan di medan perang. Ditemani Tora dan yang lainnya, mereka membagi beberapa pasukan tempur.
‘’Pasukan kita dan Tuan Siruverash tidak beda jauh. Tapi, untuk bisa memenangkan perang ini, kita harus lebih unggul. Setengah pasukan akan bersamaku di garis depan, sedangkan lebih setengahnya lagi akan dipimpin oleh Tora. Aku akan menarik pasukan utama yang dipimpin oleh Tuan Siruverash menuju ke jembatan, barulah setengah pasukan yang dipimpin Tora menghadang pasukan yang tersisa. Dengan kata lain, kita akan menyerang pasukan Tuan Siruverash yang kita pisahkan di tempat berbeda secara bersamaan,’’ kata Raja Raion.
Tora mengangguk mengerti begitu juga dengan yang lainnya. Namun, mereka tidak sadar kalau seseorang telah menguping pembicaraan tersebut, hingga akhirnya sosok itu bergegas pergi.
......................
Perkemahan Musuh
Terlihat seorang bertudung yang datang menunggangi seekor kuda, membuat prajurit yang berjaga langsung menghadangnya. Sosok bertudung tadi membuka penutup kepala dan memperlihatkan wajahnya, membuat para prajurit tadi tersentak.
‘’Kita semua tahu kehebatan Raja sebelumnya yang juga pernah bertempur di Tanah Penghakiman. Dan menurut saya, Raja Raion juga pasti akan sulit dihadapi,’’ kata salah satu petinggi.
Siruverash hanya diam sambil menatap replika pertempuran di meja, hingga salah satu prajurit datang melapor. Dahinya berkerut saat mengetahui ada sosok yang datang untuk menemuinya, sampai akhirnya sosok tadi telah datang.
Semua orang menoleh dan langsung berdiri begitu melihat sosok itu, sedangkan Siruverash hanya memicingkan mata. Dilihatnya sosok wanita berambut panjang hitam yang mengenakan jubah bertudung menghampiri mereka.
‘’Kau datang… Rukaia?’’ tanya Siruverash.
‘’Seperti yang Paman inginkan,’’ jawab Rukaia.
‘’Kenapa tidak mengutus Washi untuk menyampaikan informasinya secara langsung?’’
‘’Saya harus menyampaikannya secara langsung. Jangan khawatir, saya menyuruhnya untuk menarik perhatian agar tidak ada yang menyadari kepergianku.’’
‘’Dengan pemikiran seperti ini, Tuan Siruverash sangat cocok menjadi seorang Raja. Sekarang saya semakin yakin kalau kita akan memenangkan perang ini. Dan setelah perang ini berakhir, tidak ada orang lain yang layak menjadi Raja selain Tuan Siruverash,’’ puji salah satu petinggi.
Siruverash hanya tersenyum remeh dan menyuruh keponakannya itu menyampaikan berita penting apa yang telah ia bawa. Rukaia menceritakan semua situasi di perkemahan Raja Raion terutama strategi mereka saat perang bersok.
‘’Jadi mereka ingin memisahkan pasukan kita dan menyerangnya seperti itu? Ayah dan anak sama saja. Mereka akan memberi kejutan di saat-saat terakhir. Itu kembali mengingatkan saya kepada Ratu Rushi yang juga selalu memberi kejutan kepada kita. Setelah dipikir-pikir, mereka bertiga juga sekeluarga, heh,’’ senyum remeh Siruverash.
Matanya memicing sambil menatap replika perang di meja. ‘’Pasukan akan dibagi 2 kelompok. Untuk pasukan utama, kelompok pemanah ditemani para binatang tempur akan bersamaku, lalu kelompok tombak berkuda akan mengurus pasukan Raja Raion yang menunggu disekitar jembatan.’’
Ia pun berdiri untuk menghampiri peti kotak lalu membukanya dan mengambil sebuah botol. Tidak lama kemudian, ia kembali berjalan ke arah Rukaia dan menyerahkan botol itu kepadanya.
‘’Saya akan mengutus 3 orang untuk pergi bersamamu. Anda mengerti apa yang harus dilakukan?’’ tanya Siruverash.
Rukaia mengangguk mengerti dan memasang tudung jubahnya lalu berbalik untuk pergi.
‘’Tapi, apakah strategi ini akan berhasil memojokkan Raja Raion?’’ tanya salah satu petinggi.
Siruverash tersenyum. ‘’Jangan mencemaskan sang Raja. Cemaskan bagaimana pasukannya harus bertempur tanpa seorang pemimpin.’’
Semua orang saling memandang satu sama lain dengan wajah bingung. Mereka kembali menatap Siruverash dan meminta penjelasan mengenai maksud ucapannya tadi.
‘’Kalian akan mengetahuinya besok setelah matahari terbit,’’ kata Siruverash.