
Pangeran Rodigero yang menatap Ratu Rushi sejak tadi, langsung terbelalak saat Yagyu dan Shika berdiri depannya.
‘’Tuan, ini sudah malam, kenapa Anda tidak pulang saja?’’ tanya Shika.
‘’Aku masih ingin di sini,’’ jawab Pangeran Rodigero.
‘’Kalau Tuan tidak pulang, anak Anda akan merengek menangis,’’ kata Yagyu.
‘’Aku tidak memiliki anak,’’ jawab Pangeran Rodigero.
‘’Istri Tuan pasti sudah menyiapkan makan malam,’’ kata Shika.
‘’Aku belum menikah,’’ jawab Pangeran Rodigero.
Yagyu dan Shika mengernyitkan alis. ‘’Kalau begitu segeralah menikah! Agar ada wanita yang menunggumu pulang.’’
‘’Kebetulan, aku sedang memandangi wanita itu,’’ kata Pangeran Rodigero.
‘’Kau,’’ kata Shika tertahan.
‘’Tuan akan pergi dengan senang hati, atau aku yang akan menyeret Anda secara paksa?’’ tanya Yagyu mengintimidasi.
Pangeran Rodigero menghela nafas disertai senyuman. Ia pun berdiri dan berjalan pergi. Namun, langkah terhenti dan hendak melihat wajah Ratu Rushi sekali lagi.
‘’Ahaha! Kami akan membantu Tuan,’’ kata Yagyu dan Shika yang langsung menarik masing-masing tangan Pangeran Rodigero.
Ratu Rushi yang beres-beres, tersenyum melihat ketiga pria tadi bergegas. ‘’Mereka berdua sampai mengantar pelanggan itu sampai di luar. Baguslah.’’
Yagyu dan Shika melepaskan pegangan mereka dan tersenyum. ‘’Terima kasih. Jangan kembali lagi.’’
Pangeran Rodigero yang menatap kepergian kedua pria itu, hanya terkekeh. ‘’Mereka sampai memaksaku pergi.’’
Yagyu dan Shika menutup semua jendela dan pintu, baik di lantai satu, maupun lantai dua. Setelah membersihkan dapur, Ratu Rushi menghampiri Usagi yang terlihat bingung.
‘’Ada apa? Kenapa wajahmu seperti itu?’’ tanya Ratu Rushi.
‘’Um, Yang Mulia … Pelanggan tadi hanya memesan nasi goreng dan es teh seharga 7 koin emas. Tapi, dia memberikan kita 1000 koin emas,’’ jawab Usagi.
Ratu Rushi langsung tersentak, dan tersenyum girang. ‘’Wah? Sepertinya pelanggan tadi adalah orang kaya. Penghasilan sebanyak ini setara dengan 100 pelanggan yang memesan paket ekstra. Kau tidak lupa mencatat namanya, kan? Coba aku lihat, siapa pemiliki nama tuan i—‘’
Deg!
Ucapan Ratu Rushi langsung terhenti, begitu melihat daftar nama pelanggan.
Usagi langsung berlari mengambilkan air, karena Ratu Rushi tiba-tiba tersedak.
‘’Yang Mulia, minum dulu,’’ cemas Usagi.
Ratu Rushi meneguk air itu, lalu mengusap dadanya. Raut senang di wajahnya barusan langsung hilang. Ia tersenyum kaku dengan wajah bodoh.
Kenapa aku tidak menyadarinya sama sekali. Jelas-jelas, pakaiannya berbeda dari semua orang, kata Ratu Rushi dalam hati.
‘’Yang Mulia sampai terkejut melihat namanya, ya? Sejak tadi, aku juga merasa terganggu dengan namanya. Di mana aku pernah mendengar nama ini?’’ bingung Usagi.
‘’Rodigero, dia adiknya Raja Raion, suamiku,’’ kata Ratu Rushi.
Usagi mengangguk mengerti. Untuk sesaat ia terdiam, hingga akhirnya tersadar. ‘’Heh?!’’
......................
Istana
Pangeran Rodigero terbelalak, saat melihat Raja Raion ternyata sudah ada di kamarnya. ‘’Kakak?’’
‘’Kau akhirnya pulang. Kenapa kau lama sekali? Bukankah aku menyuruhmu untuk kembali sebelum matahari terbenam? Kau tidak tahu betapa sulitnya mencegah ibu mencarimu,’’ omel Raja Raion.
‘’Kakak pasti kewalahan menangani ibu, ya? Hehe, maaf,’’ kata Pangeran Rodigero.
Raja Raion menghela nafas panjang. ‘’Untunglah, Paman Siruverash membantuku untuk mengalihkan perhatian ibu. Jadi, aku harap ini adalah yang terakhir kalinya.’’
Pangeran Rodigero mengangguk berulang kali dengan wajah imut.
‘’Jadi, kenapa kau sampai terlambat pulang?’’ tanya Raja Raion.
Wajah Pangeran Rodigero langsung merah merona. ‘’Aku hanya bertemu dengan orang yang istimewa.’’
Raja Raion yang bisa membaca situasi, memicingkan mata. ‘’Hm~ apakah ini soal wanita?’’
Melihat adiknya hanya tersenyum sambil menunduk, membuatnya juga ikut tersenyum.
‘’Kalau begitu, ayo beritahu ibu, agar kita mengadakan pernikahanmu,’’ kata Raja Raion berjalan pergi.
‘’Tunggu!’’ panggil Pangeran Rodigero menarik tangan kakaknya.