
Keesokan harinya…
Semua para pelayan berkumpul dan membentuk barisan. Riaz dan Zena memutar bola mata malas karena Ratu Rushi mengumpulkan mereka seperti ini.
‘’Di mana Kepala Pelayan Eris?’’ tanya Ratu Rushi.
‘’Aku di sini. Selain itu, ada apa ini? Kenapa kau mengumpulkan semua orang seperti ini?’’ tanya Eris.
Hana berdecih dan menyuruh wanita itu untuk bersikap sedikit lebih sopan. Namun Eris membentaknya karena berani meninggikan nada suaranya.
‘’Sepertinya kau harus diberi pelaran,’’ kata Eris.
Ia pun memerintahkan Riaz dan Zena untuk menghampiri Hana. Keduanya hendak menarik Hana, tapi Ratu Rushi mengayunkan kakinya ke samping sehingga kedua wanita tadi langsung jatuh.
‘’Oh, kalian sampai bersujud di depanku meminta hukuman?’’ tatap Ratu Rushi.
‘’Kau!’’ seru Riaz dan Zena.
Plak! Plak!
Kedua wajah wanita tadi menghadap ke satu sisi. Semua orang terutama Eris langsung terkejut melihat hal itu.
‘’Sepertinya aku harus mendidik kalian agar mengerti bagaimana caranya bersikap lebih sopan,’’ kata Ratu Rushi.
Riaz dan Zena menggertak gigi. Keduanya hendak berdiri tapi Ratu Rushi langsung berputar dan menendang mereka.
Eris melotot. ‘’Beraninya kau!’’
Ratu Rushi memicingkan mata. Ia memerintah para prajurit untuk menahan Eris begitu juga dengan Riaz dan Zena. Ketiga wanita itu dibuat berlutut di hadapan semua orang.
‘’Rushi!’’
Bugh!
Riaz meringis bukan main setelah menerima tendangan dari Ratu Rushi. Melihat hal itu membuat Zena meneriaki Ratu Rushi, membuatnya juga menerima tendangan.
‘’Ka—‘’
‘’Apa kau juga ingin mencoba tendanganku?’’ tanya Ratu Rushi memotong ucapan Eris.
‘’Kalian bertiga memiliki banyak hutang kepadaku sebelum diriku diasingkan. Semua orang tahu bagaimana kalian bersikap padaku, tapi mereka memilih diam karena takut,’’ kata Ratu Rushi.
Ia menyuruh Hana untuk segera mendidihkan air panas. Belasan menit kemudian, wanita itu datang sambil membawa teko batu berisikan air tersebut.
Ratu Rushi mengambil teko tersebut dan terdiam untuk sesaat. Ia menyuruh prajurit untuk mengulurkan tangan Riaz ke depan, dan menahannya dengan tongkat.
‘’Tangan yang kalian gunakan untuk menjambak rambutku, melayangkan pukulan serta menyiksaku habis-habisan, jangan khawatir … Aku akan membayarnya hari ini juga,’’ senyum Ratu Rushi.
Riaz yang menyadari niat wanita di depannya itu langsung meronta-ronta. Namun, para prajurit menahannya dengan tombak, membuatnya tidak bisa menggerakan tangan.
‘’Tidak! Jangan lakukan itu! Hentikan!’’ jerit Riaz panik bukan main.
Bahkan terlihat jelas butiran bening dari sudut matanya saking dirinya ketakutan. Zena yang berada di sampingnya juga mulai panik. Para pelayan memalingkan wajah karena tidak berani menyaksikan hal itu.
Ratu Rushi beralih ke Zena yang juga panik bukan main. Berbeda dengan Riaz tadi, ia sudah menangis penuh ketakutan dan meminta ampun agar dirinya dilepaskan.
‘’Kau baru tahu cara meminta pengampunan?’’ tanya Ratu Rushi.
‘’Saya mengaku salah! Kau, maksudku Yang Mulia memang benar. Kami telah melakukan kesalahan selama ini. Jadi ampuni ham—‘’
Eris melotot melihat tangan Zena disiram air mendidih. Ia menatap Ratu Rushi yang terlihat biasa saja tanpa merasa kasihan.
‘’Kalian berdua adalah teman. Tidak baik hanya satu orang yang merasakan hasilnya, kan?’’ tanya Ratu Rushi.
Suara tangisan Riaz dan Zena terdengar jelas di ruangan itu, membuat semua orang menunduk dan tidak berani mengangkat kepala. Hana dan keempat pengikut pria Ratu Rushi benar-benar dibungkam.
Kini Ratu Rushi menuju ke depan Eris yang saat ini sedang bersujud. Ia menatap wanita itu gemetar dan menyuruhnya untuk mendongakkan kepala.
‘’Aku bahkan belum melakukan sesuatu kepadamu, tapi kau sudah sepucat ini,’’ kata Ratu Rushi.
Tangan Eris mengepal karena gemetar. Ia langsung menundukkan kepala. ‘’Hamba mohon ampun Yang Mulia!’’
‘’Kau memiliki banyak waktu untuk meminta pengampunan dariku. Tapi kau tidak menggunakannya dengan baik,’’ kata Ratu Rushi.
Matanya memicing bersamaan mata Eris membulat besar saat mulut teko mengarah ke bawah.
‘’Tidak!!’’