
Kedua kamp telah menerima kabar masing-masing dari medan perang. Sudah banyak pasukan dari kedua ras yang telah gugur. Perang juga masih berlanjut sampai saat ini. Sepertinya Ratu Rushi dan Siruverash ingin langsung menyelesaikan perang tersebut dalam satu hari.
Kembali ke medan perang, Siruverash terjatuh untuk jesekian kalinya saat hendak menyerang Ratu Rushi. Sejak tadi ia tidak bisa menyentuh keponakannya entah karena apa.
Ya, itu karena jiwa yang ada di dalam tubuh Ratu Rushi adalah pemilik seorang atlet nasional Taekwondo dari masa depan yang dijuluki 'Wanita Perang'.
Siruverash yang bertarung satu lawan satu dengan keponakannya menjadi kewalahan karena gaya bertarung Ratu Rushi. ‘’Berhenti menyeret kakimu dengan menghindar terus!’’
‘’Siapa yang menghindar? This is just a step. Kebetulan pakaianku warna putih. Mungkin Paman sudah mengantuk sampai tidak bisa membedakan diriku dengan tanah bersalju,’’ kata Ratu Rushi.
‘’Beraninya Anda!’’ seru Siruverash bangkit dan kembali menyerang.
Tidak mengenakan pelindung apa pun dan pedangnya juga cukup jauh karena melakukan step untuk menghindari pamannya, Ratu Rushi terpaksa menggunakan pelapis besi di kakinya untuk menangkis.
Shin! Shin! Shin! Shin! Shin!
Bugh!
Ratu Rushi terjatuh ke tanah karena tidak bisa mengikuti irama serangan pamannya. Selain itu, pelapis besi di kakinya begitu berat, membuatnya kewalahan menangkis.
Siruverash maju sambil terengah-engah. Ia melihat lengan dan kaki keponakannya yang berdarah setelah terkena tebasan pedangnya, serta sedikit goresan di pipi Ratu Rushi. ‘’Warna darah sangat cocok untuk sang Ratu. Saya akan membuat seluruh pakaian putihmu itu menjadi merah karena darahmu.’’
Ia mengayunkan pedang ke atas lalu memicingkan mata. ‘’Matilah….’’
Tiba-tiba batu kecil langsung mengenai kepala Siruverash, membuat pria itu terhenti dari niatnya yang hendak menebas Ratu Rushi. Ia pun berbalik dan langsung tersentak melihat pasukan dalam jumlah banyak menghampiri.
‘’Jangan menyentuh Yang Mulia pria bertopeng!’’ seru Shika yang baru saja menarik katapel.
Dilihatnya pasukan tersebut dipimpin oleh Shika dan Kamereon. Siruverash kembali menoleh ke arah berlawanan satunya dan melihat pasukan yang dipimpin oleh Yagyu bersama Wani.
‘’Bagaimana ini mungkin? Bukankah seluruh pasukan di pimpin oleh Pangeran Rodigero?’’ tatap Siruverash.
Setelah mengetahui Rukaia telah membocorkan strategi Raja Raion kepada Siruverash, membuat semuanya frustasi.
‘’Tidak peduli Yang Mulia masih hidup sampai saat ini. Besok, paman akan memenangkan perangnya dan hanya tinggal menunggu waktu sampai kalian diberi hukuman mati,’’ kata Rukaia.
Sebelah alis Ratu Rushi terangkat. ‘’Tidak masalah paman mengetahui strateginya. Kita hanya perlu merubahnya.’’
‘’Tapi Yang Mulia, meskipun merubah strategi kita, Tuan Siruverash akan tetap lebih unggul di medan perang,’’ kata Tora.
‘’Itu karena dia adalah ahli strategi, sehingga sangat sulit mengelabuinya. Kita memang tidak bisa menipunya, tapi bisa memanfaatkan kecerdasannya untuk masuk dalam jebakan,’’ kata Ratu Rushi.
Semua orang mengerutkan dahi dan meminta penjelasan kepada wanita itu.
‘’Aku akan membagi dua pasukan. Pangeran Rodigero, Mozaru, Usagi, Kujaku dan Uma akan ada bersamaku, sedangkan pasukan utama akan dipimpin oleh Yagyu, Wani, Kamereon dan Shika,’’ kata Ratu Rushi.
‘’Tunggu. Kenapa mengutus pasukan utama kepada keempat orang ini? Sedangkan Anda hanya memimpin sebagian pasukan. Tuan Siruverash bisa akan langsung tahu setelah melihat jumlah pasukan kalian,’’ kata Raja Raion.
‘’Jangan khawatir. Paman yang melihat pasukan dari jarak jauh tidak akan tahu kalau mereka semua hanya berbaris memanjang ke masing-masing sisi tanpa ada barisan di belakang. Jika aku menjadi paman, aku akan mengutus prajurit untuk menghadang pasukan kalian lebih dulu sebelum tiba di jembatan. Dan saat mereka tahu kalau tidak ada pasukan kita yang berjaga di sana, maka paman akan berpikir kalau seluruh pasukan bersama kita dan memanggil pasukan tombak berkudanya untuk kembali ke medan perang,’’ kata Ratu Rushi.
Flashback off
‘’Sebelum matahari terbit, aku mengutus Yagyu, Wani dan dua pria lainnya agar bergerak lebih dulu bersama pasukan utama untuk menjauh dari perkemahan dan menyebrangi sungai sekitar 28 mil ke hulu untuk melancarkan serangan kejutan,’’ kata Ratu Rushi.
‘’Anda hanya seorang wanita. Bagaimana Anda bisa membuat strategi seperti ini?!’’ tanya Siruverash.
‘’Darah paman yang ahli strategi mengalir dalam diriku. Jika seorang paman bisa kenapa keponakannya tidak? Selain itu, strategi ini aku menyebut ... Tapal Kuda,’’ jawab Ratu Rushi.
‘’Tapal Kuda?’’ bingung Siruverash.
‘’Itu strategi yang biasa dipakai dalam Perang Yunani. Tapi aku menggandakannya sehingga ada dua serangan dari dua sisi secara bersamaan yang akan mendorong musuh ke tengah. Sehingga kalian terkepung dari 3 arah dengan masuknya pasukan Pangeran Rodigero.’’