Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 60 Rombongan



Pangeran Rodigero berjalan menyusuri koridor untuk menuju ke kamar kakaknya. Mengingat bagaimana kondisi kakaknya saat datang, membuatnya benar-benar curiga.


Kalau tersandung dan jatuh ke tanah, seharusnya tidak separah sampai wajahnya seperti itu. Kakak seperti dipukuli 3 orang. Kenapa kakak berbohong lagi? Mungkin lebih baik aku tanya langsung kepadanya, kata Pangeran Rodigero dalam hati.


......................


Desa


Ratu Rushi bersandar di kursi sambil tersenyum, seolah-olah memancarkan wajah bersinar.


Sudah lama sekali aku tidak melakukannya. Biasanya aku akan melampiaskan kemarahkanku dengab meninju dan menendang samsak gantung di rumah. Ah~ aku seperti mendapat pencerahan kembali, ucapnya dalam hati.


Yagyu dan yang lainnya hanya menatap dari jauh. Mereka menelan saliva sambil mengingat kejadian barusan.


‘’Yang Mulia melampiaskan semua kemarahannya kepada Yang Mulia Raja,’’ kata Yagyu.


‘’Aku turut berduka untuk Yang Mulia Raja yang menjadi korban,’’ kata Mozaru.


‘’Jika saja Yang Mulia Raja tidak berubah menjadi singa, entah apa yang terjadi kepadanya,’’ kata Usagi.


‘’Woah, ini pertama kalinya aku melihat seorang wanita meninju seekor singa yang tidak memberikan perlawanan,’’ kata Shika.


......................


Istana


Para pelayan membungkuk meninggalkan kamar. Namun, Raja Raion masih mengerutkan dahi tanda kesal.


Apa yang terjadi dengan wanita itu? Aku tidak tahu kalau dia jago bela diri, ucapnya dalam hati.


Ceklek!


Tora membungkuk saat Pangeran Rodigero datang. Sekilas, Raja Raion menoleh lalu kembali menatap ke arah depan sambil menghela nafas kesal.


‘’Tinggalkan kami!’’ perintah Pangeran Rodigero.


Pangeran Rodigero menghampiri kakaknya dan duduk di kursi. ‘’Kakak? Tidak ada yang mengenal Anda lebih baik selain diriku. Pertama, Kakak tidak pernah keluar di musim dingin, lalu kenapa berbohong dengan alasan keluar berburu? Kedua, kenapa Kakak juga berbohong mengenai luka-luka itu?’’


Raja Raion menghela nafas kasar sekali lagi. ‘’Rodigero, aku sedang tidak mood untuk bicara.’’


‘’Mo-Mood? Apa itu?’’ tanya Pangeran Rodigero.


Karena terlalu kesal dengan perlakuan Ratu Rushi, membuat Raja Raion sampai meniru gaya bicara wanita itu. Tidak tahu arti dari kata tersebut, membuat Raja Raion hanya mengandalkan situasi yang terjadi saat wanita itu mengucapkannya.


Sebelas alis Pangeran Rodigero terangkat. ‘’Kakak seperti Yang Mulia Ratu Rushi saja yang selalu mengatakan kalimat aneh.’’


Mendengar nama wanita itu sekali lagi, membuat rasa kesal Raja Raion kembali muncul. Pangeran Rodigero yang keceplosan hanya membengkap mulut, dan tersenyum kaku.


‘’Keluar!’’ seru Raja Raion membuat adiknya terkejut.


Tanpa bertanya, Pangeran Rodigero hanya menurut. Ia membungkuk sebelum akhirnya berjalan pergi. Begitu keluar dari kamar, ia mengerutkan dahi tanda bingung. ‘’Kenapa Kakak sensitif sekali hari ini?’’


......................


1 minggu kemudian…


Yagyu dan yang lainnya menopang dagu sambil menatap ke atas, tepatnya lantai 3 dimana Ratu Rushi berada.


‘’Haa, hari ini kita masih tetap tidak buka, ya?’’ kata Shika.


Namun, dahinya berkerut melihat ada banyak orang di luar. Tanpa membuang waktu, keempat pria itu menghampiri pintu.


Ratu Rushi yang ada di lantai 3 juga tidak sengaja menatap ke bawah, dan melihat banyak orang berkumpul di depan rumah makannya.


‘’Melihat jumlah mereka, sepertinya rumah makan ini akan digusur sebentar lagi,’’ ucapnya berjalan keluar.


......................


Pintu Depan


Begitu membuka pintu, keempat pria tadi terkejut bukan main melihat rombongan tersebut. Di saat bersamaan, Ratu Rushi muncul dan berjalan ke depan.


‘’Kalian akhirnya mengambil tindakan. Aku tahu kedatangan kalian kemari karena ingin menggusur rumah makan ini,’’ kata Ratu Rushi.


‘’Eh? Rumah makan ini? Tidak mungkin,’’ kata Yagyu.


Ratu Rushi menatap rombongan orang yang masih diam itu. ‘’Sepertinya aku memang harus menjalani pengasingan di dalam hutan.’’


‘’Pengasingan?! Tidak Yang Mulia, jangan katakan hal itu,’’ kata Shika.


‘’Kalau rumah makan ini akan digusur, dan Yang Mulia pergi pengasingan, lebih baik kami ikut bersama Yang Mulia,’’ kata Usagi.


‘’Kami akan mengikuti Yang Mulia kemanapun,’’ kata Mozaru.