
Ratu Rushi menanyakan kabar rumah makan di desa, dan Kitsune menceritakan jika penghasilan setiap rumah makan yang menjadi cabangnya tetap stabil seperti biasa. Tidak ada yang saling bersaing karena iri hati, atau berniat saling menjatuhkan.
Mendengar hal itu membuat Ratu Rushi sedikit tenang, sebelum Kitsune sedikit berteriak.
‘’Saya melupakan sesuatu yang sangat penting. Di rumah makan Yang Mulia, ada seseorang yang sangat ingin bertemu dengan Anda,’’ kata Kitsune.
......................
Raja Raion dan Tora berjalan menyusuri istana. Namun, langkah mereka terhenti saat melihat Ratu Rushi berlari begitu cepat. Tora menganga dengan mata melotot, karena tidak seharusnya wanita itu berlari sekecang tadi sampai membuat pakaiannya berantakan ke belakang.
Tidak lama kemudian, Hana dan para pria pengikut juga berlari menyusul Ratu Rushi. Saat itu juga, kedua pria tadi beranggapan kalau mereka sedang bermain kejar-kejaran di istana.
‘’Memang berapa umurnya sekarang sehingga masih bermain seperti itu?’’ tanya Raja Raion memegang tengkuk hidungnya.
Namun, melihat arah Ratu Rushi pergi tadi, sepertinya ingin menuju ke kamar Pangeran Rodigero.
Benar juga. Kalau tidak salah, Rodigero ingin membahas sesuatu yang penting dengan Ratu Rushi. Apakah mereka akan bertemu? Tapi, kenapa Ratu Rushi begitu agresif untuk menemuinya? Sebaiknya aku menyusul, kata Raja Raion dalam hati.
......................
Pangeran Rodigero yang baring di kasur, merentangkan kedua tangan dan kakinya sambil menatap langit-langit kamar. Entah berapa kali ia menghela nafas kasar dengan wajah bodohnya. Padahal sebelumnya, ia dan Ratu Rushi sangat dekat. Tapi karena dirinya melakukan kesalahan membuat jarak timbul di antara mereka.
Terlebih lagi, Ratu Rushi telah kembali ke istana. Jika saja tidak membuat kesalahan, ia akan bergabung bersama Yagyu dan yang lainnya untuk menghabiskan waktu bersama seperti di rumah makan. Tapi, saat ini Ratu Rushi masih mengabaikannya.
Bugh!
Dengan cepat, tubuh Pangeran Rodigero terlonjak ke depan karena kaget saat pintu kamarnya terbuka begitu kasar. Ia langsung berdiri saat melihat sosok yang datang tidak lain adalah Ratu Rushi.
Tuhan, aku baru saja memikirkan wanita ini. Tidak kusangka Engkau langsung membawanya kemari, ucapnya dalam hati sambil mendongakkan kepala.
‘’Apa yang kau lihat di atas?’’ tanya Ratu Rushi membuat pria itu tersentak.
Di saat bersamaan, Hana dan yang lainnya tiba sambil terengah-engah. Pangeran Rodigero menatap mereka penuh tanda tanya sebelum kembali mendongakkan kepala.
Mereka juga datang kemari? Tapi Tuhan, aku tidak memikirkan sekelompok orang itu, ucapnya dalam hati.
‘’Pangeran Rodigero, aku tidak ada di atas tapi di depanmu. Kenapa kau selalu mendongakkan kepala?’’ tanya Ratu Rushi.
‘’Ehem, itu … Kenapa semuanya datang kemari?’’ tanya Pangeran Rodigero.
Ratu Rushi langsung menarik tangan pria itu dan menggenggamnya. Ia berterima kasih karena telah menemukan Licy dan membawanya ke rumah makan. Tidak lupa memarahi Pangeran Rodigero karena tidak memberitahunya berita sepenting itu.
Jantung Pangeran Rodigero berdetak kencang bukan main. Ia terbelalak melihat tangan Ratu Rushi benar-benar menyentuhnya untuk pertama kali.
Saat itu juga, Hana dan yang lainnya melotot karena Raja Raion dan Tora datang.
Begitu sang Raja tiba di pintu, ia langsung tersentak melihat Ratu Rushi menggengam tangan adiknya sambil tersenyum. Entah kenapa ia merasa kesal dan darahnya seperti memanas.
Ratu Rushi dan Pangeran Rodigero menoleh. Keduanya juga membulatkan mata dan langsung menarik tangan masing-masing.
‘’Kakak jangan salah paham. Saya dan Yang Mulia tidak melakukan hal seperti yan—’’
‘’Tora!’’ seru Raja Raion memotong ucapan.
Ia memerintahkan pria itu untuk membawa Ratu Rushi kembali ke kamarnya dan mengunci wanita itu agar tidak keluar sebelum mendapat izin darinya.
‘’Tunggu, aku tidak melakukan kesalahan. Kenapa kau sampai memberiku hukuman?’’ tanya Ratu Rushi tidak terima.
Raja Raion hanya diam dan berbalik untuk pergi. Ia menatap para pengikut wanita itu dengan tatapan tajam, membuat orang-orang itu membungkuk.