Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 179 Akhir-Awal Era yang Baru



Beberapa hari kemudian setelah kondisi Ratu Rushi membaik, Raja Raion mengumpulkan semua para penghianat yang berpihak kepada Siruverash di aula eksekusi. Semua aset dan jabatan para petinggi kerajaan telah dicabut semua. Melihat semua konspirasi dari mereka membuat sang Raja resmi menjatuhkan hukuman mati.


Rukaia meminta pengampunan kepada Ratu Rushi begitu juga dengan para petinggi, Nero, Eris, Aruse serta Riaz dan Zena. Mereka mengaku bersalah karena telah membuat kejahatan terhadap sang Ratu.


Raja Raion memerintah para prajurit untuk membawa Siruverash ke tengah aula. Mantan perdana menteri itu dibuat berlutut yang saat ini kedua tangannya dirantai.


‘’Apa Anda tidak memiliki kata-kata terakhir sebelum dieksekusi?’’ tanya Raja Raion.


Dengan wajah tertahan dan mata merah yang memanas, Siruverash menatap Ratu Rushi penuh kebencian. ‘’Tidak ada yang perlu saya sampaikan kepada seorang pembunuh seperti kalian.’’


Mata Raja Raion memicing. Ia pun mengayunkan sebelah tangan untuk menyuruh prajurit memenggal kepala Siruverash.


‘’Tunggu!’’ seru Ratu Rushi.


‘’Apa yang Anda lakukan?’’ tanya Ratu Agung.


‘’Saya tidak butuh belas kasihanmu!’’ seru Siruverash.


‘’Paman memang akan dieksekusi. Tapi yang melakukannya adalah Wani,’’ kata Ratu Rushi.


Semua orang tersentak sambil menatap sang Ratu terutama Wani.


‘’Aku sudah berjanji kepada adikmu, dengan memastikan saudaranya akan menghakimi pamanku,’’ kata Ratu Rushi.


Raja Raion yang melihatnya hanya mengangguk dan memerintahkan Wani untuk mengambil alih pengeksekusian Siruverash. Ratu Rushi juga meminta waktu sejenak agar bicara dengan pamannya untuk terakhir kali. Setelah mendapat izin dari sang Raja, ia pun menatap Siruverash.


‘’Jujur, aku tidak ingin Paman dijatuhi hukuman mati, tapi itu adalah hasil perbuatan Paman sendiri. Aku minta maaf karena tidak bisa menuntun Paman ke jalan yang benar. Semua orang mungkin menganggap Paman sebagai penjahat karena berusaha menghabisiku. Tapi … Dunia akan tetap mengingat Paman adalah pria yang telah membesarkan dua seorang gadis seperti putrinya sendiri.’’


Ia pun berdiri membuat semua orang menatapnya, lalu membungkuk ke arah Siruverash. ‘’Sejak kecil, aku hanya yatim piatu. Terima kasih karena sudah menjadi sosok ayah dan melimpahkan kasih sayang seperti ibu kepadaku. Sungguh, terima kasih.’’


Raja Raion memberi perintah membuat Wani mengayunkan tangannya ke atas yang memegang pedang.


‘’Kau masih memiliki hutang kepadaku. Matilah Siruverash!’’


Saat itu juga sang Ratu mengangkat kepalanya membuat Siruverash terbelalak dengan pupil mata yang menegang. Butiran air matanya terjatuh melihat Ratu Rushi tersenyum dengan mata menyipit sambil menangis. ‘’Lucy….’’


Saat itu juga semua orang memalingkan kepala. Wani yang telah menebas kepala Siruverash hanya terengah-engah dengan bercak darah di wajahnya. Sedangkan Rukaia gemetar bukan main disertai tangisan.


‘’Kakak akhirnya telah membalaskan dendam kaum kita.’’


Sang adik tersenyum. ‘’Terima kasih telah membuat jiwa kami menjadi tenang, Kakak. Kalau begitu, kami pergi dulu. Kakak sudah menemukan tempat yang tepat. Ada Yang Mulia yang bisa menjaga Kakak di sini.’’


Semua orang tersenyum ke arah Wani sehingga butiran air mengalir dari mata pria itu. Tidak lama kemudian, Raja Raion memerintah prajurit untuk menyeret Rukaia, membuat Wani kembali tersadar.


Rukaia menjerit sambil meronta-ronta sampai akhirnya ia diseret dengan kasar ke tengah aula. Melihat Wani yang melontarkan tatapan tajam, membuatnya gemetar. Ia menangis sambil meminta pengampunan untuk terakhir kalinya.


Tapi Ratu Rushi hanya diam. Jika saja adik tirinya itu melakukan pembelaan saat ia hendak diasingkan, mungkin ia akan mempertimbangkannya dan melakukan hal yang sama. Tapi, tidak ada satu pun yang buka mulut untuknya.


‘’Bukankah kau juga memiliki hutang yang harus dibayar?’’ tanya Wani.


‘’Hiks, hiks tidak, aku tidak memiliki hutang apa pun,’’ tangis Rukaia gemetar.


Mata Wani memicing sambil mengayunkan tangannya ke atas. ‘’Kalau begitu, aku akan membuatmu mengingat kejadian di sekitar sungai saat kau mendorong kakakmu sendiri dan melepaskan tanganmu.’’


Saat itu juga Rukaia langsung menendang Wani dan melarikan diri. Raja Raion langsung memerintah semua orang untuk mengejarnya.


......................


Ruang Kenegaraan


Rukaia yang terengah-engah dalam kondisi kacau menatap singgasana di depannya. Ia berjalan lunglai dan mulai terisak sambil mengatakan singgasana miliknya berulang kali. Di saat bersamaan, pedang langsung menembus jantungya.


Brack!


Ia memuntahkan darah dan menoleh ke belakang melihat Wani sudah berdiri dengan nafas yang terengah-engah juga.


‘’Hiks! Beraninya kau dasar sampah!’’ seru Rukaia.


Brack!


Rukaia pun terjatuh, tapi niatnya tidak berhenti sampai di situ. Ia merangkak di lantai menuju ke singgasana. Darahnya bahkan meninggalkan bekas seretan. Dengan sekuat tenaga, ia mengulurkan tangan yang sudah gemetar disertai butiran air mata.


‘’Hiks, singgasana-ku … Hiks! Hiks! Singgasana-ku … Argh!’’


Tersisa 5 cm lagi sebelum tangannya menyentuh singgasana, tapi di saat bersamaan Rukaia menghembuskan nafas terakhirnya.


Semua para penghianat dieksekusi tanpa tersisa. Raja Raion yang mengetahui sistem perbudakan yang diatur oleh Siruverash pun juga dicabut. Kini derajat semua orang dari kedua ras setara tanpa ada perbedaan.