Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 129 Jiwa yang Datang



Ratu Rushi mengangguk mengerti dan memanggil Taka untuk segera bergegas. Manusia setengah elang tadi datang sambil membawa banyak tangkai bunga. Keduanya pun berjalan pergi, sedangkan Wani menoleh ke arah ladang untuk terakhir kali.


Matanya membulat besar melihat roh semua orang sudah berdiri memandanginya, dan di barisan paling depan terlihat sang adik tersenyum.


‘’Kakak sudah akan pergi?’’


‘’Apakah ini nyata?’’ tanya Wani.


Ia tidak bisa menahan air matanya lagi setelah melihat semua orang itu kembali. ‘’Ayah, Ibu … Aku minta maaf karena tidak bisa menjaga dan melindungi adik dengan benar. Aku juga minta maaf kepadamu adikku, karena tidak berada di sampingmu di saat-saat terakhir. Aku benar-benar Kakak yang gagal.’’


Sang adik tersenyum sambil menggeleng. ‘’Kakak sudah melakukan yang terbaik dengan mencarikanku obat sampai menyusuri semua pulau. Seharusnya aku yang meminta maaf karena tidak bisa menunggu Kakak pulang.’’


Butiran air mata Wani mengalir sambil dirinya menunduk. Ia kembali mendongakkan kepala dan menatap semua orang. ‘’Aku meminta maaf kepada kalian. Seharusnya waktu itu aku dan adik tidak melarikan diri dan meninggalkan kalian yang dibantai.’’


Wani menatap salah satu pria yang pernah membawa keranjang bayi. ‘’Aku juga minta maaf kepada Paman. Jika bukan karena diriku yang mengambil bayi yang sudah meninggal itu, Paman dan semua orang tidak akan terbunuh hari itu. Aku sungguh menyesal, tolong maafkan aku.’’


Pria yang membawa keranjang bayi hanya mengulurkan tangan dan menepuk bahu Wani. ‘’Tidak anakku. Justru kami semualah yang ingin meminta maaf karena telah meninggalkan dirimu seorang diri di dunia kejam ini.’’


Butiran air mata Wani semakin mengalir sambil ia terisak. ‘’Kalian ada bersama diriku. Ladang bunga ini sudah seperti jiwa kalian, jadi aku tidak kesepian. Tapi, aku akan pergi meninggalkan pulau ini.’’


‘’Terima kasih telah menjaga harta berharga keluarga kita,’’ senyum sang Ibu.


‘’Kau tumbuh menjadi pria yang sangat tangguh,’’ kata sang Ayah.


Sang adik meninju dada Wani dengan pelan. ‘’Jangan khawatir. Kami semua ada untuk Kakak. Sebelum pembantaian keluarga kita teradili, kami tidak akan meninggalkan bumi. Oh iya, sampaikan rasa terima kasihku kepada Ratu Rushi. Nyanyiannya mengantarkanku ke tidur panjang yang sangat menenangkan.”


‘’Hei pria keras! Apa yang kau lakukan di sana? Kita harus pergi!’’ teriak Taka.


Melihat hal itu membuat puluhan orang tadi mengkodenya untuk segera menyusul. Wani sebenarnya masih ingin menghabiskan waktu bersama mereka. Tapi keadaan memaksanya untuk pergi. Ia pun berbalik untuk pergi.


Sang adik dan yang lainnya mendorong punggung Wani sebelum mereka menghilang. ‘’Jangan menyusul kami begitu cepat.’’


Wani tersenyum bersamaan butiran air matanya terjatuh. Ia mengepalkan tangan lalu mengangkatnya ke atas dengan maksud iya.


......................


Istana


Orang suci yang ditunjuk untuk memimpin berjalannya upacara pemakaman memulai ritual.


......................


Lautan


Terlihat seorang wanita berdiri di atas seekor buaya sepanjang 12 m yang mengarungi lautan, bersamaan seekor elang terbang di atasnya. Ya, siapa lagi wanita itu kalau bukan Ratu Rushi yang bersama Wani dan Taka. Mereka menuju ke Negeri Aslan setelah wanita tadi berhasil membujuk Wani.


Ratu Rushi menatap kulit reptil tempat pijakan kakinya berdiri. ‘’Terima kasih….’’


Sebagai perenang yang handal dengan tubuh sepanjang itu, Wani menyuruh Ratu Rushi untuk berpegangan agar bergegas tiba di Negeri Aslan secepatnya.