Queen Rushi

Queen Rushi
Bab 115 Aloe Vera



Istana


Seperti biasa, Putri Rukaia akan mengacaukan seluruh isi kamarnya untuk melampiaskan emosi. Padahal rencananya untuk menyingkirkan kakak tirinya telah berhasil. Tapi Raja Raion malah melarang untuk menyebarkan berita itu dan memilih mencari wanita tersebut.


‘’Apakah Yang Mulia sudah mulai menyukai kakak? Ah tidak! Tidak, tidak … Itu tidak mungkin. Yang Mulia hanya mencari jasad kakak. Benar, Yang Mulia sendiri yang mengatakan hal itu. Hm, itu pasti,’’ kata Putri Rukaia.


Ia berusaha meyakinkan dirinya kalau itulah yang terjadi. Di sisi lain, Siruverash duduk di kursi yang sedang memegang tengkuk hidungnya sambil Washi berlutut di lantai seperti biasa untuk menemaninya.


Ini pertama kalinya Yang Mulia mengambil keputusan tanpa Ratu Agung menentangnya. Sepertinya mereka berdua mulai peduli dengan Ratu Rushi. Ini tidak baik. Aku harus mencari solusi agar Yang Mulia kembali ke istana, ucapnya dalam hati.


......................


Rawa


Setelah menghabiskan semua kepiting dan ikan yang dibakar, Ratu Rushi pun bersendawa keras membuat kedua bersaudara itu memasang wajah tidak percaya.


‘’Apakah dia benar-benar seorang wanita? Makan banyak dan bersendawa seperti pria, tidak memperlihatkan sisi lembutnya sebagai seorang Ratu,’’ kata Wani.


‘’Kakak benar. Aku belum pernah menemui wanita seperti Yang Mulia,’’ kata sang buaya.


Ratu Rushi menghela nafas dan mengambil tanaman yang sempat ia cabut sambil mencari perlengkapan membuat api tadi. Ia pun menghampiri buaya air asin dan duduk di sekitar tubuh reptil yang terluka.


‘’Apa yang kau lakukan?’’ tanya Wani.


‘’Aku sedang melakukan upacara minum teh. Tentu saja mengobati adikmu! Dasar, seperti kembang api saja, begitu keluar dari sumbu langsung meledak,’’ kata Ratu Rushi.


Wani langsung melotot dan merebut tanaman yang dipegang Ratu Rushi. Ia tidak akan tertipu dengan usaha wanita itu. Tidak ada yang tahu apakah tanaman yang diambilnya adalah tanaman beracun.


‘’Tidak ada yang memintamu untuk mengobatinya! Aku bisa mengobati adikku sendiri!’’ kesal Wani.


‘’Yak? Aku ini sedang membalas budi. Kau pikir gara-gara siapa adikmu terluka seperti ini?’’


‘’Heh, kau baru saja menyalahkan diriku? Jelas-jelas ini terjadi karena dirimu!’’


Ratu Rushi tersenyum remeh sambil berdecih kesal. ‘’Yak? Cepat berikan! Sebelum kau berakhir seperti tanaman itu.’’


‘’Kenapa aku harus menurutimu? Tanaman ini keras, kedua sisinya berduri dan juga berlendir. Apa yang membuatnya bisa menyembuhkan luka bakar adikku?’’ tanya Wani.


‘’Kau tidak tahu itu lidah buaya?’’ tanya Ratu Rushi langsung


Wani yang mengejek tadi langsung diam seketika. Ya, setelah mendengar nama tanaman itu membuatnya memastikan pendengarannya tidak salah.


Ratu Rushi memberitahunya kalau lidah buaya itu memiliki zat yang berfungsi sebagai antiradang, antioksidan, antibakteri, dan dapat merangsang penyembuhan luka sekaligus melembapkan kulit.


‘’Gel lidah buaya asli mengandung ekstra dan mampu menyembuhkan luka bakar. Kau sudah merusak tanamannya, tapi tidak apa-apa. Ada dua buaya besar di sini. Aku bisa menggunakan lidah kalian yang lebih berkualitas.’’


Sang buaya yang membuka moncongnya tadi langsung menutup mulutnya, bersamaan Wani yang juga langsung membengkap mulutnya dengan maksud melindungi lidah mereka.


Dengan cepat, Wani menyerahkan tanaman lidah buaya tadi kepada Ratu Rushi.


‘’Arigatou,’’ senyum Ratu Rushi dengan tampang tidak berdosa yang telah membodohi kedua bersaudara itu.


Aloe vera adalah spesies tumbuhan dengan daun berdaging tebal dari genus Aloe. Bersifat menahun dan menyebar di kawasan beriklim tropis, semi-tropis dan kering di berbagai belahan dunia. Selain dibudidayakan untuk pertanian dan pengobatan, orang-orang juga menggunakannya sebagai tanaman hias dan dapat ditanam dalam pot. Namanya memang lidah buaya, tapi bukan berarti bahannya dibuat menggunakan lidah dari buaya sungguhan. Heh, dasar … Sudah lama aku tidak mengerjai seseorang seperti ini, ucapnya dalam hati tertawa.