
Malamnya, Ratu Agung hendak menuju ke ruang makan karena seharian ini ia tidak mengisi perutnya dengan camilan. Ia hanya menunggu dan tidak sabar menantikan makan malam. Tidak lama kemudian, salah satu prajurit datang.
‘’Apakah makan malamnya sudah selesai?’’ tanya Ratu Agung.
‘’Mohon maaf Ratu Agung. Koki kerajaan masih belum menyelesaikan hidangan makan malam.’’
‘’Lalu untuk apa kau datang kemari?’’ tanya Ratu Agung mulai kesal karena sudah tidak bisa menahan rasa laparnya.
‘’Di luar ada pelayan Ratu Rushi yang ingin menemui Ratu Agung.’’
Ratu Agung mengerutkan dahi karena ini pertama kalinya para bawahan wanita itu datang kemari. Ia pun memerintahkan prajurit tadi untuk memberi izin masuk. Ia pun menatap Hana dan keenam pria yang masing-masing membawa nampan.
Berbeda dengan Hana yang sudah terbiasa, kaki Yagyu dan yang lainnya sedikit gemetar karena bertemu langsung dengan Ratu Agung.
‘’Hormat hamba kepada Ratu Agung,’’ kata Hana diikuti keenam pria tadi.
Ratu Agung meminta alasan mengenai kedatangan mereka, apalagi sampai membawa nampan yang ditutupi kain.
Ragu-ragu, Hana memberitahu wanita itu kalau Ratu Rushi menyuruh mereka membuatkan hidangan untuknya.
Mendengar hal itu, membuat Ratu Agung langsung menyuruh mereka meletakkan hidangan di atas meja. Ketujuh orang itu membuka masing-masing penutup kain dari hidangan yang mereka bawa. Dalam sekejap, aroma dari berbagai hidangan langsung tercium membuat nafsu makan Ratu Agung meningkat.
‘’Tapi, Ratu Rushi sedang dikurung. Apakah rasanya tidak akan berubah meski kalian yang membuatnya?’’ tanya Ratu Agung meragukan.
Hana tersenyum dan memberitahu wanita itu agar tidak khawatir mengenai rasanya. Ratu Rushi sendiri yang menuliskan resep kepada mereka, dan tinggal mengikutinya saja. Jika rasanya memang tidak sesuai ekspektasinya, maka mereka siap menerima hukuman.
‘’Adonan yang dibuat dari tepung beras yang diulen dengan air panas ini disebut Dango. Rasanya yang manis karena menambahkan gula ke dalamnya. Sedangkan yang berwarna putih semua ini adalah dango yang tidak manis. Itulah kenapa saus kecap asin dan gula menjadi pelengkapnya,’’ kata Hana.
Ratu Agung mencicipi dango yang tidak manis itu, dan mencelupkannya ke dalam saus sebelum memakannya. ‘’Um~ rasanya benar-benar berbeda.’’
Ia pun beralih ke makanan berbentuk bulat panjang yang juga menggunakan tusukan. Begitu gigitan pertama ditarik, tekstur kenyal berwarna putih juga ikut tertarik seperti karet.
‘’Ini adalah Corndog, makanan yang terbuat dari sosis dan keju yang ditusuk, lalu dilapisi tebal dengan tepung sebelum digoreng rendam. Hidangan ini berasal dari Amerika Serikat,’’ kata Kitsune.
‘’Amerika? Apakah itu salah satu pulau yang ada di sekitar?’’ tanya Ratu Agung.
‘’Kata Yang Mulia, itu adalah sebuah Negara asing yang sangat jauh dari sini.’’
Ratu Agung mengerutkan dahi sambil membayangkan Ratu Rushi yang berpergian jauh selama pengasingan sehingga menemukan hidangan seperti ini. Tapi, rasa laparnya lebih kuat membuatnya melanjutkan kembali aktivitas mencicipinya.
Ia meraih makanan berbentuk bulat bulat putih seperti roti. Begitu menggigitnya, ia langsung terkejut dengan kelembutan makanan itu.
‘’Itu disebut Mochi, kue Jepang yang terbuat dari beras ketan, ditumbuk sehingga lembut dan lengket, kemudian dibentuk menjadi bulat. Isian mochi ini beragam seperti teh hijau, stroberi, cokelat, hingga pasta kacang,’’ kata Yagyu.
Mendengar hal itu membuat Ratu Agung mencoba berbagai isian dari mochi tersebut. Ia pun semakin bersemangat untuk mencicipi yang lainnya, dan memotong kue persegi 3 susun berukuran mini.
‘’Rasa manisnya sangat pas dan juga lembut,’’ kata Ratu Agung.
‘’Itu karena kue kukus ini juga terbuat dari beras, air dan gula. Manis dan kenyal, kue ini disebut Uiro. Lapisan pertama dibuat dari teh hijau. Untuk lapisan kedua dibuat dari stroberi, dan lapisan ketiga dibuat dari cokelat,’’ kata Mozaru.